‘Jeritan Warga Marga Mulya, Kami Hanya Punya Tumpuan Harapan di Bapak Romanus Mbaraka’

Pemerintahan295 views

Merauke, Suryapapua.com–  Tak seperti biasanya. Suasana tampak ramai di dalam area kandang ayam milik PT Harvest Pulus Papua yang beralamat di Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga.

Belasan perwakilan warga setempat telah menunggu. Karena Bupati Merauke, Romanus Mbaraka akan turun langsung kesana, sekaligus melakukan sidak di sejumlah kandang ayam milik Harvest, setelah muncul aksi protes 900 lebih kepala keluarga, akibat aroma- bau kotoran ayam .

Luapan kekecewaan dimunculkan dihadapan Bupati Mbaraka, juga Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, Marotus Solikah serta sejumlah pejabat lain. Suara  mereka semakin ‘melangit’ ketika hadir disitu  pimpinan PT Harvest Pulus Papua, Lukas Budi Santoso.

“Kami sudah berteriak dari pemerintahan Frederikus Gebze sebelumnya, namun tak diresponi pula. Sekarang kami hanya punya tumpuan dan harapan  kepada Bapak Romanuus Mbaraka. Satu saja kami minta,  PT Harvest Pulus Papua ditutup dan dipindahkan ke tempat lain,” pinta Narto, perwakilan warga setempat.

Selama ini, menurut dia, masyarakat sudah terlalu sabar dengan polusi udara kotor dari aroma kotoran ayam milik Harvest. Olehnya perlu suatu ketegasan dan bila perlu hari ini ada keputusan final.

Dikatakan, beberapa kali telah dilakukan rapat bersama pihak Harvest, sehubungan pengolahan limbah kotoran ayam. Namun dianggap angin lalu oleh pihak perusahan. Karena tak ditanggapi dan ditindaklanjuti. Sehingga dari hari ke hari, masyarakat menderita mencium aroma kotoran ayam.

Kandang yang berisi ribuan ekor ayam milik PT Harvest Pulus Papua – Surya Papua/IST
Kandang yang berisi ribuan ekor ayam milik PT Harvest Pulus Papua – Surya Papua/IST

Dia juga mengingatkan Harvest agar tidak memberikan masukan aneh-aneh kepada Bupati Mbaraka. Sebaiknya jujur mengakui bahwa dampak limbah,  menimbulkan keresahan masyarakat.

“Ingat kami punya bukti video rekanan sehubungan kotoran ayam yang disalurkan melalui drainase, sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan sekitar,” katanya.

Ditambahkan, masyarakat pernah memberikan deadline waktu  kepada Harvest tiga bulan agar mengatur baik limbah  kotoran ayam, agar aroma tak berdampak kepada masyarakat saat tipuan angin. Tetapi tak diresponi, malah aroma semakin menjadi-jadi dan itu hampir terjadi setiap hari.

“Kami juga menolak dengan keras bahwa hasil uji laboratorium, udara masih aman dan tak menimbulkan dampak serius terhadap masyarakat. Terus terang warga menolak, lantaran mereka mengalami dampak bau (aroma) yang terjadi dari kandang ayam hampir setiap hari,” kata Sunarto.

Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Merauke, Marotus Solikah mendukung apa yang disuarakan masyarakat agar pemerintah setempat, mengambil langkah cepat untuk menutup sekaligus memindahkan lokasi peternakan ayam petelur tersebut ke tempat lain.

“Saya kira masyarakat yang merasakan secara langsung dampaknya. Apa yang disuarakan, lantaran sudah tidak tahan lagi dengan aroma kotoran dari kandang ayam,” ungkapnya.

Bupati Merauke, Romanus Mbaraka menegaskan, dirinya tak ingin mengambil keputusan dari belakang meja. Tetapi  harus turun ke lokasi sekaligus melihat fakta kandang ayam milik Harvest, juga suara masyarakat.

“Saya sudah melihat tempat limbah maupun kandang ayam. Memang system pengelolaannya tertutup dan secara umum kotoran ayamnya basah. Sehingga ketika pintu dibuka, aroma  dibawa angin dan berdampak kepada masyarakat di sekitar,” katanya.

Tentunya, jelas Bupati Mbaraka, pihaknya akan mengambil keputusan nanti, sekaligus memberikan  sejumlah catatan yang harus dilaksanakan  Harvest. Jika tidak, tentu langkah  tegas terakhir diambil.

Bupati Merauke, Romanus Mbaraka berdialog dengan Pimpinan PT Harvest Pulus Papua- Surya Papua/Frans Kobun
Bupati Merauke, Romanus Mbaraka berdialog dengan Pimpinan PT Harvest Pulus Papua- Surya Papua/Frans Kobun

Pimpinan PT Harvest Pulus Papua, Lukas Budi Santoso mengatakan, pihaknya siap menerima sejumlah rekomendasi dari pemerintah, sekaligus pengkajian ulang sesuai apa yang telah disampaikan Bupati Merauke.

Harvest juga, menurut Lukas, akan berkonsultasi dengan perusahan untuk dilakukan suplayer peralatan khusus. Tetapi jelasnya, pengelolaan serta pemeliharaan ayam, tetap mengacu kepada SOP.

Untuk populasi ayam  yang ada di kandang, jelasnya, sekitar 20.000 ekor, namun yang memproduksi adalah 14.000 lebih. Sedangkan sisa ayam, tak berproduksi secara normal.

Sedangkan jumlah kandang, sebanyak enam. Setiap kandang ditempatkan 5.000 ekor ayam. Lalu ada juga kandang produksi serta kandang pembesaran ayam.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *