Sukacita Umat di Stasi Payum Saat Menyambut Sakramen Maha Kudus

Laporan Utama136 views

Merauke, suryapapua.com- Sakramen Maha Kudus kembali diarak di Stasi Payum, Paroki Santa Theresia Buti, setelah dari Komunitas Basis (Kombas Dahuda).

Sukacita terpancar jelas dari raut wajah umat saat Sakramen Maha Kudus diarak, entah di setiap rumah maupun di halaman sekitar—tempat berkumpulnya banyak orang.

Dengan mengambil posisi berlutut dan tunduk, Pastor Paroki Santa Theresia Buti, Simon Petrus Matruty sambil mengangkat sakramen, mendoakan umat secara khusus.

Itulah gambaran suasana hadirnya Sakramen Maha Kudus yang diarak di lingkungan-lingkungan  di Stasi Payum dalam beberapa hari terakhir.

Kehadiran Sakramen Maha Kudus, menjadi kerinduan bagi umat di Stasi Payum.

Betapa tidak, ratusan umat dengan setia menunggu kedatangan Sakramen Maha Kudus. Semua pekerjaan baik menjaring ikan dan aktivitas lain dihentikan sementara waktu.

Dalam prosesi perarakan Saakramen Maha Kudus itu, selain melekat petugas liturgi, para suster, misdinar, Dewan Pengurus Pastoral (DPP), juga pengurus Pemuda Buti Bangkit (PBB).

Wadah organisasi PBB yang ‘dinahkodai’ Leonardus Ndiken, selalu setia mengawal Pastor Matruty bersama Sakramen Maha Kudus ketika diarak dari satu rumah ke rumah lain.

Diberitakan sebelumnya, Pastor Simon Petrus Matruty mengungkapkan,  perarakan Sakramen Maha Kudus itu sendiri tidak lain agar umat merasa diberkati, disayangi dan dicintai Tuhan Yesus Kristus.

“Dengan merasa dicintai serta diampuni Tuhan Yesus, umat diharapkan bisa tumbuh iman-nya,” pinta Pastor Sipe.

Iman yang tumbuh itu dapat dilihat dalam peningkatan partisipasi umat  melalui kehidupan menggereja serta tanggungjawab.

Lebih lanjut Pastor Sipe mengatakan,  ada dua moment—makna dari perarakan Sakramen Maha Kudus, diantaranya umat dapat meningkatkan rasa tanggungjawab membangun gereja fisik melalui kolekte.

Selain itu, merasa sebagai bagian gereja universal. Jadi  ada dana mandiri wajib diberikan yang merupakan wujud tanggungjawab serta peningkatan iman.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *