oleh

Halaman SD Bibikem Jadi Hutan, Tiga Tahun Proses Belajar Mengajar Tak Berjalan

Merauke, Suryapapua.com– Miris! Inilah gambaran sesungguhnya dari Sekolah Dasar (SD) Bibikem, Kampung Bibikem, Distrik Ilwayab Kabupaten Merauke. Betapa tidak, halaman sekolah di depan, samping hingga belakang, telah ditumbuhi hutan lebat.

Kondisi itu akibat tiga tahun terakhir, tak ada kegiatan belajar mengajar sama sekali. Para guru yang bertugas disana, tak pernah melaksanakan tugasnya. Mereka hanya  menerima gaji buta dan memilih  menghabiskan waktu di kota.

Salah seorang Rohaniawan Katolik, Pastor Ayustus Erasmus Lim  yang rutin melakukan pelayanan kepada umat di sejumlah kampung termasuk Bibikem saat dihubungi melalui ponselnya Senin (31/1) menjelaskan, kondisi bangunan sekolah tersebut sangat memrihatinkan.

“Saya baru pulang beberapa hari lalu melakukan pelayanan kepada umat di Kampung Bibikem. Lalu mendapat keluhan  kepala kampung terkait tak adanya kegiatan belajar mengajar yang tak berjalan dalam tiga tahun terakhir,” ujarnya.

Setelah mendapat keluhan itu, ia  menyempatkan diri  datang ke SDI Bibikem dan melihat secara langsung. “Untuk masuk ke sekolah saja sangat sulit. Karena rumput tebal tumbuh di sekeliling,” ungkapnya.

“Memang saya  bersama sejumlah anak masuk ke dalam dan bangunan sekolah masih utuh dilengkapi kursi-meja di setiap ruangan,” ungkapnya.

Selain itu, juga bangunan perpustakaan serta dua unit rumah guru yang disiapkan pemerintah. Umumnya sejumlah bangunan dimaksud, masih baik untuk digunakan sekaligus ditempati.

Pastor Ayustus Erasmus Lim foto dengan umat Katolik di depan gereja usai misa – Surya Papua/IST
Pastor Ayustus Erasmus Lim foto dengan umat Katolik di depan gereja usai misa – Surya Papua/IST

Oleh karena tak adanya kegiatan belajar mengajar, anak-anak pun tidak bisa sekolah. Dari pengakuan kepala kampung, jumlah muridnya mencapai 100 lebih orang.

Setelah tak ada kegiatan belajar mengajar, beberapa orangtua terpaksa memboyong anak mereka ke Wanam sekolah disana. Sedangkan sebagian besar lain, memilih tetap di kampung.

“Beberapa tahun silam, ada satu guru honorer mengabdikan diri di sekolah tersebut. Oleh karena seorang diri, semua anak dari kelas I-VI digabung dalam satu rombongan  untuk proses belajar mengajar. Hanya saja tak bertahan lama,” ungkapnya.

Lebih lanjut pastor asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu mengaku, dari informasi didapatkan, setahun lalu, anak-anak SD kelas VI tak mengikuti ujian akhir. Sehingga tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah Pertama (SMP).

Akibat proses belajar mengajar tidak berjalan, banyak anak tertahan. “Saya contohkan ada satu anak tinggal bersama saya. Dimana  usianya telah mencapai 20 tahun. Namun masih di bangku SMP,” katanya.

Pastor Yustus, panggilan akrabnya menambahkan, pejabat dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Merauke termasuk kepala dinasnya, Tiasony Betaubun sudah kesana dan mendengar keluhan masyarakat serta melihat fakta sesungguhnya di lapangan.

Hanya saja, sampai sekarang tak ada tindaklanjutnya sama sekali. Padahal anak-anak itu adalah orang asli Papua (OAP) yang mestinya harus diberikan perhatian secara khusus.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *