oleh

Suara Mama-Mama Papua Yang berjualan di Trotoar: ‘Kami Rindu Bapak Bupati Merauke’

Merauke, Suryapapua.com – Miris! Mungkin kata ini pantas digunakan untuk menggambarkan kondisi mama-mama Papua yang berjibaku menahan panasnya sengatan sinar matahari disiang bolong atau datangnya musim hujan.

Betapa tidak, mereka harus rela berjualan diatas trotoar dari pagi hingga sore hari di depan Pasar Wamanggu, Jalan Paulus Nafi, Kelurahan Maro, Kabupaten Merauke demi mendapatkan sesen untuk menopang hidup keluarga.

Dengan hanya beralaskan karung maupun kardus, mama-mama Papua meletakkan jualan mulai dari pisang, sayur, umbi-umbian serta sejumlah kebutuhan pokok lain menunggu pembeli.
Jurnalis Surya Papua mencoba mewawancarai dua mama Papua secara terpisah guna mendapatkan secara detail bagaimana suka-duka mereka, ketika berjualan saban hari di atas trotoar.

Mama Monik Yaguyamu (27) mengaku, sudah sembilan tahun menggeluti pekerjaan sebagai penjual. “Memang saya tak jualan rutin setiap hari. Karena harus merawat kebun. Dari hasil yang ditanam, dipanen lalu dibawa dan dijual sendiri di atas trotoar,” ujarnya saat ditemui Surya Papua, kemarin.

Dia mengaku, tak memiliki tempat atau petak jualan di dalam Pasar Wamanggu. Sehingga itu membuatnya memilih membentangkan karung di trotoar sekaligus menjual hasil panenanya.
“Memang kalau berjualan di dalam, tak membawa keuntungan. Sebab para pembeli tidak mau repot-repot masuk ke dalam pasar. Mereka memilih berbelanja kebutuhan di luar sekaligus pulang,” ungkap Mama Monik yang harus berjualan demi membiayai hidup dan sekolah keempat anaknya.

“Saya juga tinggal jauh di Semangga, sehingga setiap hari bolak balik dengan menyewa mobil angkutan Rp 40.000. Sementara pendapatan yang diperoleh dalam sehari dari hasil jualan hanya sekitar Rp 100.000,” katanya.

Ditanya apakah sejauh ini ada perhatian Pemeritah Kabupaten (Pemkab) Merauke berupa dukungan modal usaha, Mama Monik mengaku tidak. “Saya dapat informasi kalau untuk mendapatkan modal, harus menyiapkan proposal. Jadi saya memilih tak usah mengusulkan. Karena tentu harus melalui birokrasi panjang,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Mama Veronika Seo (52). “Sudah 13 tahun saya berjualan. Ada perbandingan sangat jauh dari hasil pendapatkan diperoleh ketika dulu pasar masih satu. Kalau sekarang sudah ada dua pasar, selain di Wamanggu juga di pasar Baru, sehingga pembeli terbagi,” katanya.

Diakui jika pernah berjualan di dalam pasar Wamanggu dan pendapatan diperoleh paling besar Rp 100.000. “Ya kalau pukul 11.00 WIT ke atas, sudah tak ada pembeli lagi. Sehingga saya memilih keluar di luar dan berjualan saja di atas trotoar,” ujarnya.

Dengan berjualan diluar, sambung Mama Veronika, bisa sampai sore hari, karena banyak pembeli datang. Kalau di dalam sudah sepi. Lalu pendapatan juga sedikit mengalami peningkatan.
Lebih lanjut dikatakan, ketika dulu pasar masih satu, dalam sehari pendapatan diperoleh sampai Rp 300.000. Tetapi sekarang, pendapatan mengalami penurunan dan tak menentu.

Dengan kondisi seperti demikian, ia harus berpikir keras untuk menafkahi keluarga serta membayar cicilan pinjaman koperasi maupun di bank. “Ya kami harus meminjam, karena bantuan dari Pemkab Merauke sama sekali tak ada,” ungkapnya.

Dengan pinjaman tersebut, jelasnya, bisa digunakan membeli sejumlah kebutuhan untuk dijual kembali. “Saya tak punya lahan untuk menanam, sehingga hanya bisa membeli dari orang dan dijual kembali,” katanya.

Ditambahkan, pihaknya mendapat informasi kalau Bupati Merauke, Romanus Mbaraka akan bertemu sekaligus berdialog dengan para pedagang. Lalu akan ada bantuan modal usaha diberikan. “Ya kami berharap Bapak Bupati Merauke membantu kami dana, karena selama ini harus meminjam di koperasi serta bank untuk diputar lagi,” pintanya.

Mama-Mama Papua juga meminta Bupati Merauke datang menemui mereka secara langsung di pasar. Sekaligus mendengarkan suara dan keluhan secara langsung.

Penulis : Yulianus Bwariat
Editor : Frans Kobun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *