oleh

Permintaan ke Bupati Merauke, Arnold : Kalau Bisa Wisma Atlet Jadi Asrama Mahasiswa Marind

Merauke, Suryapapua.com– Ketua Himpunan Mahasiswa Malind (HMM) Merauke, Arnold Anda meminta kepada Bupati Merauke,  Romanus Mbaraka agar wisma yang dibangun dan ditempati atlet saat PON XX Papua beberapa waktu lalu, sekiranya dapat dialihkan sebagai asrama bagi mahasiswa-mahasiswi Marind  dari kampung-kampung yang sedang melanjutkan studi di sejumlah perguruan tinggi (PT) disini.

Permintaan itu disampaikan Arnold saat ditemui Surya Papua Sabtu (4/12). “Kita lihat koteks persoalan yang dihadapi mahasiswa Marind yang datang dari kampung atau pedalaman. Dimana mereka sering mengalami kesulitan mendapatkan tempat tinggal  melanjutkan studi,” ujarnya.

Dikatakan, pelaksaaan PON XX Papua, termasuk di Klaster Merauke, telah disukseskan bersama. “Kita tahu kalau terdapat beberapa wisma dibangun dan kini masih kosong dan belum digunakan,” katanya.

“Saya juga belum tahu apakah sudah ada penyerahan dari panitia PB PON Papua ke kabupaten atau belum,” katanya.

Jika telah diserahkan, lanjut Arnold, atas nama mahasiswa-i Marind meminta sekaligus mengharapkan kepada Bupati Merauke agar  satu atau dua dari beberapa wisma, bisa digunakan untuk asrama.

“Dari pada dibiarkan kosong, lebih baik Bapak Bupati Merauke memanfaatkan untuk dijadikan asrama, sekaligus tempat tinggal bagi mahasiswa Marind yang datang dari kampung-kampung,” pintanya.

Untuk mengatur lebih lanjut, katanya, HMM akan menata baik dengan system berpola asrama, lalu terus melakukan koordinasi bersama Pemkab Merauke.

“Bapak Bupati Merauke juga anak Marind, sehingga tidak salah kalau  wisma dijadikan sebagai asrama bagi anak-anak Marind yang sedang mengejar cita-citanya di berbagai perguruan tinggi,” pintanya lagi.

Ditambahkan, semua orang  juga tahu bahwa pemerintah sekarang sedang melakukan persiapan  untuk hadirnya Provinsi Papua Selatan. Olehnya, perlu disiapkan sumber daya manusia (SDM) orang asli Papua (OAP) dari sekarang pula.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *