Memanfaatkan Liburan Sekolah Untuk Menyalurkan Bakat dan Kreasi Menulis

Opini126 views

BIASANYA  anak-anak lebih asyik bermain game melalui handphone atau smartphone. Apalagi selama liburan sekolah, terutama di luar libur hari Minggu. Boleh dikatakan sebagian besar anak-anak di kota lebih memilih bermain game, tiktok dan sejenisnya.

Bermain game atau tiktok melalui smartphone tidak menjadi masalah, jika hal itu berkenaan dengan pengembangan bakat dan kreativitas. Liburan sekolah adalah kesempatan membantu orang tua, seperti membersihkan di rumah, bekerja di ladang, atau ikut jualan di pasar.

Lebih dari itu, liburan sekolah merupakan kesempatan untuk menyalurkan bakat dan kreativitas menulis. Menulis (writing) adalah keterampilan tertinggi dari semua keterampilan berbahasa: menyimak (listening), berbicara (speaking), dan membaca (reading). Akan tetapi, keterampilan menulis itu kurang diperhatikan, bahkan diabaikan di sekolah atau di kampus.

Artikel ini bertujuan mengajak peserta didik (siswa maupun mahasiswa) agar dapat memanfaatkan liburan sekolah dan kampus sebagai kesempatan mengembangkan bakat dan kreativitas menulis. Alangkah baiknya, jika guru dan/atau dosen menugasi peserta didik untuk menuliskan pengalaman liburannya melalui narasi atau cerita pendek (cerpen) maupun refleksi tentang kegiatan liburan.

Dengan tugas ini, peserta didik berkesempatan menuangkan gagasan mereka melalui tulisan. Sebab, bahasa tulis itu lebih bergengsi daripada bahasa lisan. Bahasa tulis biasanya teratur, sistematis, dan runtut. Pepatah Latin mengatakan, “kata-kata bisa hilang tetapi tulisan terus bertahan” (verba volant scripta manent). Hal ini berarti sebuah tulisan jauh lebih berharga daripada sekadar kata-kata.

Belum Terlepas dari Budaya Omong

Mengapa kebanyakan peserta didik kita tidak mampu mengungkapkan gagasannya secara tertulis? Rupanya alasan yang tepat, peserta didik kita dewasa ini belum dapat dilepaskan dari masyarakat berbudaya “omong”. Jika masyarakat kita mulai menulis, paling banyak mereka tuangkan melalui halaman facebook, twitter, atau instagram. Itu pun isinya adalah saling menyudutkan, bahkan caci maki yang tak pernah berkesudahan. Apalagi tulisan itu sering tidak utuh sehingga tidak dapat dipahami secara tepat, dan mudah sekali menimbulkan konflik satu sama lain.

Kegiatan menulis, yang merupakan salah satu ciri masyarakat berbudaya ilmu pengetahuan, belum menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita. Bahkan masyarakat kampus yang sehari-hari bergelut dengan kehidupan akademik pun belum menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Menurut Alwasilah (2005), kondisi masyarakat kita masih jauh dari fase masyarakat yang berorientasi ilmu pengetahuan. Bahkan, dalam masyarakat yang terdidik sekalipun, ilmu pengetahuan masih merupakan himpunan teori-teori akademik yang tidak aplikatif terhadap kehidupan sehari-hari. Perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan orang yang berpengetahuan ilmiah, tetapi kurang melakukan penerapan, seperti melalui program riset, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi hasil penelitian.

Selain itu, selama ini masyarakat kita keliru memandang gelar-gelar akademik sebagai indikator penting keberhasilan akademis. Padahal yang dijadikan ukuran pada forum internasional adalah karya tulis mereka, seperti publikasi jurnal dan/atau buku.

Dalam artikelnya “Membangun Mesin Reproduksi Pengetahuan” (Pikiran Rakyat, 2005), Alwasilah menegaskan bahwa reproduksi ilmu adalah olah-ulang IPTEK yang diperoleh dari sumber-sumber lain. Indikator reproduksi ini, antara lain, adanya jurnal terakreditasi baik nasional maupun internasional; jumlah tulisan dosen di media massa, jurnal ilmiah dan buku teks, berkembangnya university press, dan sejauh mana tulisan ilmuwan kita dikutip ilmuwan dari negara-negara lain.

Menuju Masyarakat Berbudaya Tulis
Persoalan di atas mendorong kita segera beralih dari budaya omong ke budaya tulis. Hal ini diupayakan agar masyarakat kita mampu bersaing di tengah dunia internasional. Tiba saatnya bakat dan kreativitas menulis dilatih sejak SD, SMP, dan SMA. Jika demikian, peserta didik yang memasuki jenjang pendidikan tinggi, tidak lagi mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik, seperti menulis makalah, laporan buku, laporan penelitian dan skripsi (tugas akhir).

Budaya tulis kiranya menjadi PR kita bersama. Dalam rangka menuju masyarakat berbudaya tulis, Alwasilah (2005) menyarankan beberapa hal sebagai berikut.

Pertama, adanya iklim yang kondusif bagi kegiatan tulis-menulis. Manajemen di perguruan tinggi kurang memberikan penghargaan kepada para penulis. Hal ini berbeda dengan kepada pejabat struktural, seperti warek, dekan, dan ketua jurusan. Oleh karena itu, banyak dosen lebih memilih jabatan struktural dan melakukan pengajaran di kelas daripada meneliti atau menulis. Selain itu, kebijakan pemerintah pun hendaknya kondusif bagi publikasi.

Kedua, adanya beragam sumber. Semakin banyak sumber informasi yang tersedia di perguruan tinggi semakin besar pula kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk mengakses temuan baru. Sudah saatnya, mahasiswa dibiasakan mengakses informasi dari intenet (karya tulis jurnal) tanpa mengabaikan sumber-sumber dalam bentuk cetakan. Teknologi internet menawarkan konsep, teori, dan model yang merupakan bahan mentah untuk diracik guna menghasilkan ilmu baru, bukan menyalinnya begitu saja tanpa pengolahan, bukan copy and paste.

Ketiga, kemampuan membaca kritis. Tanpa kemampuan ini, pembaca dan penjelajah dunia maya akan kebanjiran ‘sampah’, bukannya ilmu. Ilmu pada hakikatnya adalah buah dari proses berpikir yang didokumentasikan secara telaten dan kontinyu. Pemerolehan ilmu bergantung pada kemampuan mengikat makna, yakni mendokumentasikan demi keperluan publik. Kelemahan kaum intelektual kita adalah rendahnya kemampuan menulis sehingga ilmu yang dimiliki berhenti di situ, tidak ada reproduksi.

Keempat, wacana akademik demokratis untuk membantu mahasiswa dan dosen junior agar mampu menulis sesuai dengan kriteria keilmuan yang berlaku secara internasional. Kasus penjiplakan karya tulis oleh pejabat tinggi negara selama ini menunjukkan lemahnya kemampuan menulis akademik, sekaligus bukti gagalnya pendidikan bahasa, khususnya pengajaran menulis di Indonesia.

Kelima,  penguasaan bahasa Inggris. Pada umumnya lulusan SMA kita hanya menguasai kurang dari 1500 kosakata bahasa Inggris. Padahal mereka telah belajar bahasa Inggris selama enam sampai sembilan tahun. Kemampuan dosen pun bila diukur melalui TOEFL pada umumnya rata-rata di bawah 500. Dengan demikian, mahasiswa maupun dosen memang belum siap untuk menulis akademik dalam bahasa Inggris.

Memanfaatkan Liburan Sekolah untuk Berkreasi Menulis

Akhir-akhir ini mulai digalakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), antara lain, untuk membaca, menulis, menghitung, dan menalar. GLS merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan literasi peserta didik, terutama minat membaca dan menulis, dalam rangka mencapai budaya baca dan budaya tulis.

Tampaknya di beberapa sekolah dilakukan gerakan literasi tersebut. Disediakan waktu 15 menit setiap hari untuk membaca sebelum kegiatan pembelajaran. Ada sekolah dan/atau kampus yang menyediakan waktu secara khusus (lebih panjang) pada setiap hari Sabtu untuk latihan membaca dan menulis.

Ternyata, lebih banyak sekolah dan/atau kampus, yang tampaknya masa bodoh. Padahal menulis merupakan keterampilan berbahasa yang berkaitan erat dengan penyelesaian tugas-tugas akademik di perguruan tinggi. Seseorang menjadi sarjana, terutama diukur dari skripsi yang ia hasilkan, bukan ujian komprehensif yang belum tentu menjamin kualitas akademiknya. Sebab, ujian komprehensif di setiap semester rawan terhadap ketidakjujuran.

Selain melalui GLS, kreasi menulis peserta didik perlu dibiasakan di mana saja, dan kapan pun. Salah satunya adalah pada saat liburan sekolah atau kampus. Pada kesempatan ini guru dan/atau dosen menugasi peserta didik untuk membuat menuliskan isi kegiatan dan pengalaman liburan mereka. Pengalaman mereka dapat diungkapkan melalui narasi yang sederhana, cerita pendek (cerpen), bahkan refleksi yang memperlihatkan nalar yang sehat (mahasiswa).

Memang tampaknya tulisan mereka itu masih sangat sederhana. Tetapi, sekurang-kurangnya peserta didik mulai dan pernah belajar mengungkapkan pikirannya secara tertulis. Pengungkapan pikiran secara tertulis biasanya lebih sistematis, teratur, dan runtut daripada hanya dilisankan.

Meskipun demikian, kegiatan kreasi menulis itu hendaknya tidak membebankan peserta didik dalam liburan sekolah. Diupayakan agar tugas menulis itu dikerjakan dalam rangka penerapan metode aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (pembelajaran PAKEM). Hal ini berarti peserta didik merasa senang karena kegiatan menulis itu benar-benar diminati, bukan terpaksa dilakukan.

Dengan kata lain, peserta didik menulis pengalaman dan refleksi tentang liburan dengan santai dan menyenangkan, namun tetap memperhatikan pedoman bahasa Indonesia yang baik dan benar. Artinya mereka dapat merasakan bahwa menulis merupakan kegiatan dan kebutuhan untuk menghibur diri dan mengeluarkan unek-unek mereka (dalam https://edumasterprivat.com/cerita-pendek-tentang-liburan-sekolah/).

Kreasi menulis selama liburan sekolah yang benar-benar dilaksanakan secara bertanggung jawab, akan membawa hasil yang tidak sia-sia. Liburan sekolah biasanya berlangsung satu-dua minggu untuk semester gazal (akhir Desember). Sementara liburan semester genap atau liburan kenaikan kelas (awal-pertengahan Juli) bisa berlangsung tiga minggu.

Jika waktu senggang ini diprogramkan dan dilakukan secara rutin dan teratur, bakat dan kreasi menulis peserta lama-kelamaan menjadi berkembang, bahkan berkembang ke arah kemajuan. Dengan demikian, pada gilirannya terciptalah masyarakat yang berbudaya menulis, sekalipun upaya ke arah itu sangat simple. Bukankah ‘sehari selembar benang lama-lama jadi sehelai kain?’ Artinya, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang tidak mengecewakan.

Dalam hal ini, guru dan/atau dosen sudah memiliki kebiasaan menulis. Artinya, setiap guru atau dosen adalah penulis dalam bidang ilmu mereka masing-masing. Dengan demikian, mereka dapat melakukan bimbingan agar tulisan peserta didik dapat mengikuti langkah-langkah yang benar. Jika tulisan itu berupa esai (refleksi), perlu diperhatikan hal-hal berikut. Misalnya, menentukan topik yang mudah diselesaikan, memahami organisasi tulisan, dan mampu memilih rujukan jika diperlukan.

Pada hakikatnya organisasi tulisan itu meliputi pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Bagian pendahuluan berisi masalah yang akan dijawab dalam pembahasan. Bagian pembahasan mencakupi uraian tentang penyebab masalah serta solusi yang ditawarkan. Sementara bagian penutup merupakan simpulan dan saran.

Penutup

Peralihan dari budaya omong ke budaya tulis, mau atau tidak mau, menjadi tugas kita bersama. Sejak dini para peserta didik hendaknya dilatih untuk menjadi penulis yang andal. Sebab, setiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk mengembangkan bakat dan kreativitas menulis. Dengan demikian, budaya menulis menjadi milik seseorang jika dibiasakan secara terprogram dan teratur.

Dalam rangka mengembangkan bakat dan kreativitas menulis peserta didik, telah dilaksanakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS menjadi salah satu upaya ke arah pengembangan bakat dan kreativitas menulis, di samping membaca, menghitung, dan menalar.

Upaya lain dalam menumbuhkan kreativitas menulis sejak dini adalah melalui kesempatan liburan sekolah. Pada saat liburan, baik liburan semester gazal maupun semester genap, para guru dan/atau dosen dapat menugasi peserta didik untuk menuliskan kegiatan dan pengalaman mereka. Tugas tertulis itu dapat dibuat dalam bentuk narasi maupun cerita pendek (cerpen). Misalnya, narasi tentang liburan di rumah nenek, bertamasya ke tepi pantai, kegiatan kerohanian bersama anak-anak di lingkungan, dan seterusnya.

Sementara untuk mahasiswa, misalnya refleksi tentang kegiatan bersama orang muda di kampung, pertandingan persahabatan di desa, kunjungan ke panti asuhan atau rumah jompo. Tugas kreasi menulis mahasiswa ini lebih terarah pada kegiatan berpikir kritis dan inovatif. Sebab, tingkat pendidikan mereka memungkinkan mereka mampu berpikir tingkat tinggi (high order think skill). Dengan demikian, seorang mahasiswa berkesempatan mengungkapkan pemikirannya melalui argumen yang logis dan tepat.

Tidak hanya sekadar mengisi liburan sekolah melalui kreativitas menulis. Kegiatan tersebut secara tidak langsung dapat mengimbangi kebiasaan peserta didik yang (mungkin) cenderung atau kecanduan bermain game melalui smartphone. Daripada seluruh waktu dihabiskan untuk bermain, lebih baik digunakan pula untuk pengembangan diri melalui kegiatan kreatif menulis.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa tugas menyalurkan bakat dan kreativitas menulis itu tetap dilaksanakan dalam suasana santai dan menyenangkan. Dengan demikian, liburan sekolah atau kampus tidak membebani peserta didik, yang berhak menikmati waktu senggang mereka.

Penulis: Agustinus Gereda

Alumnus STFK Ledalero, Flores, NTT (1986) dan UNHAS Makassar (2010). Kini dosen tetap di Universitas Musamus Merauke, dan membantu di STK St. Yakobus Merauke.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *