Talk Show Susut dan Sisa Pangan Dilaksanakan, Usung Tema, “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi,” Tiga Pembicara Dihadirkan

Laporan Utama185 views

Merauke, suryapapua.com– Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Merauke bersama WWF-Indonesia  melaksanakan kegiatan talk show susut dan sisa pangan.

Talk show yang dilangsungkan di  SMP Al-Ma’arif NU Merauke Selasa (29/09/2026) tersebut mengusung tema,” Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi.”

Itu juga sebagai tindak lanjut training of trainers (ToT) Sekolah Adiwiyata yang telah dilaksanakan pada 15 September 2026.

Kegiatan talk show menjadi ruang untuk melihat dan mengapresiasi sejauh mana Sekolah Adiwiyata telah mengimplementasikan materi yang diperoleh melalui ToT, baik kegiatan edukasi dan sosialisasi serta penyebarluasan pesan mengenai susut dan sisa pangan di media sosial sekolah.

Sementara dalam kegiatan talk show, bertindak sebagai moderator  adalah Adelia Septiani Restanti Tania (Campaign  dan Outreach Staff WWF-Indonesia Program Papua).

Sedangkan tiga pembicara diantaranya, Kepala Bidang Pengendalian Perizinan dan Bahasa Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Untung, Kabid Perencanaan Lingkungan Hidup dan Peningkatan Kapasitas Dinas LH Kabupaten Merauke, Widodo Ssupriyatno  serta Staf Waste Management Specialist WWF Indonesia Program Papua, Dony Kristiawan.

Kepala Bidang Pengendalian Perizinan dan Bahasa Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Untung dalam kesempatan  itu mengulas peran Sekolah Adiwiyata dalam membangun budaya peduli lingkungan serta mendorong penerapan kebiasaan ramah lingkungan di sekolah—salah satunya integrasi susut dan sisa pangan.

Sekolah, lanjut Untung, memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan peduli lingkungan sejak dini, termasuk mengurangi dan mengelola sisa pangan.

“Pembangunan karakter dini anak perlu dibentuk di bangku sekolah serta bangun kebiasaan melalui sekolah serta edukasi,” ungkapnya.

Selain itu, mendorong perilaku hidup bersih dan sehat. Anak perlu melihat dulu lingkungan sekitarnya sudah bersih dan sehat atau belum.

Sementara Kepala Bidang Perencanaan Lingkungan Hidup dan Peningkatan Kapasitas DLH Kabupaten Merauke, Widodo Supriyatno mengulas tentang penanganan dan pengelolaan sampah, termasuk pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumber.

Upaya tersebut mencakup pengurangan dan pemilahan sampah sejak awal sebelum masuk ke tahap pengangkutan maupun pengolahan.

Pendekatan ini, menurut Widodo, dinilai penting untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah, salah satunya melalui lingkungan sekolah.

Suasana talk show yang dihadiri perwakilan sekolah serta tamu undangan lain – Surya Papua/Frans Kobun
Suasana talk show yang dihadiri perwakilan sekolah serta tamu undangan lain – Surya Papua/Frans Kobun

Dikatakannya, pengelolaan sampah dari sumber perlu diterapkan secara luas, termasuk di lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan peduli lingkungan, sekaligus mendukung penerapan indikator Sekolah Adiwiyata.

“Melalui penerapan praktik pengurangan, pemilahan dan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah, warga sekolah tidak hanya membangun kebiasaan peduli lingkungan, tetapi mendukung penerapan indikator Sekolah Adiwiyata di lingkungan sekolah,” jelasnya.

“Kami juga mulai perlu membiasakan penerapan kebijakan dalam pembagian peran masing-masing pihak yang diperkuat dengan penyadar-tahuan,” tuturnya.

Staf Waste Management Specialist WWFIndonesia Program Papua, Dony Kristiawan memaparkan hasil kajian mengenai timbulan sampah makanan di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Merauke.

Juga membahas berbagai upaya yang telah dilakukan serta langkah yang masih perlu diperkuat ke depannya dalam mengurangi susut dan sisa pangan.

“Sampah makanan perlu mendapat perhatian, karena makanan yang terbuang tidak hanya berarti hilangnya pangan, tetapi sumber daya telah digunakan dalam proses produksi, distribusi hingga konsumsi,” katanya.

Lebih lanjut Dony mengungkapkan, ketika sampah makanan tak dikelola baik,  dapat menimbulkan dampak lingkungan.

Sisa pangan yang terurai tanpa oksigen di tempat pembuangan akhir menghasilkan metana–gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global.

“Perubahan dalam pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumber. Melalui kolaborasi dan kegiatan kampanye seperti ini, kita tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi membangun kesadaran dan kebiasaan baru di masyarakat agar sampah, termasuk sisa pangan, dapat dikurangi dan dikelola sejak dari sumbernya,” ungkapnya.

Ditegaskannya, komitmen Pemerintah Kabupaten Merauke melalui kerja bersama dinas terkait, menjadi landasan penting agar edukasi tidak berhenti pada satu kegiatan.

Dukungan pada pembelajaran di sekolah, pengurangan sisa pangan, pemilahan dari sumber dan penguatan layanan pengelolaan sampah akan membantu menghubungkan perubahan perilaku warga dengan pelaksanaan program daerah berkelanjutan.

Sekolah-sekolah Adiwiyata diharapkan menjadi penggerak aksi terpadu yang melibatkan siswa, guru, kantin, keluarga dan komunitas, sehingga praktik serta pembelajarannya dapat dibagikan sebagai contoh bagi sekolah dan wilayah lain.

Papua Selatan Landscape Leader WWF-Indonesia, William Iwanggin menyampaikan bahwa kemitraan jangka panjang diperlukan untuk mengubah kesadaran menjadi aksi yang konsisten.

“Komitmen kerja sama ini harapannya dapat dibawa sebagai penguatan kolaborasi hingga 2030. Tentunya ini juga komitmen dalam mendukung Pemerintah Kabupaten Merauke, khususnya pendampingan dan Sekolah Adiwiyata,” kata dia.

“Kami ingin pendampingan terhadap sekolah-sekolah Adiwiyata dapat melahirkan sekolah sebagai penggerak perubahan dalam perubahan iklim, terutama pengurangan emisi metana,” pintanya.

Pastinya, demikian  Wiliam, dengan komitmen pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat, praktik baik dari Merauke dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah lain.

Untuk diketahui, peningkatan pemahaman dan edukasi mengenai susut dan sisa pangan menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong perubahan kebiasaan mengurangi makanan yang terbuang.

Pengetahuan mengenai dampak susut dan sisa pangan perlu diterjemahkan ke dalam praktik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk melalui lingkungan sekolah sebagai ruang belajar dan pembentukan kebiasaan bagi generasi muda.

Ketika sisa makanan bercampur dengan sampah lain dan kemudian terurai tanpa oksigen di tempat pembuangan akhir, proses tersebut dapat menghasilkan metana, salah satu gas rumah kaca.

Karena itu, mengurangi makanan yang terbuang sejak dari sumber dan mengelola sampah organik dengan tepat, bukan hanya membantu mengurangi timbulan sampah, tetapi menjaga nilai pangan dan sumber daya yang telah digunakan menghasilkan makanan tersebut.

Pada saat ToT, Sekolah Adiwiyata dibekali dengan bahan ajar dan panduan kegiatan edukasi yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

Sementara dalam talk show  ini diikuti perwakilan Sekolah Adiwiyata, komunitas serta tamu undangan dari instansi pemerintah.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *