‘Si Biru’ yang Bekerja Keras Sampai Tua

Laporan Utama376 views

DI SEBUAH garasi sempit di Semarang, sebuah mobil Kijang kotak keluaran 1986 terparkir dengan warna biru muda yang cerah, hampir menyerupai warna langit pagi.

Tidak ada yang istimewa dari penampilannya — knalpotnya sedikit berisik, joknya sudah longgar di beberapa titik dan usianya hampir empat dekade.

Tapi bagi ratusan bahkan ribuan mahasiswa Papua yang pernah merantau ke Pulau Jawa sejak akhir 1980-an, mobil ini punya nama sendiri, punya cerita sendiri dan — kalau boleh dikatakan begitu — punya jiwa sendiri. Namanya ‘si biru.’

Untuk memahami ‘si biru,’kita harus mundur lebih jauh ke belakang ke sosok yang duduk di belakang kemudinya selama puluhan tahun: Paul Sudiyo.

Ia bukan orang Papua. Ia seorang Jawa Katolik biasa yang oleh jalan hidupnya sendiri, akhirnya menghabiskan hampir separuh abad usianya untuk sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan sejak awal: menjadi ayah, kakak, sekaligus sopir pribadi bagi ribuan anak muda dari ujung timur Indonesia.

Jauh sebelum ia dikenal sebagai pembina asrama mahasiswa Papua di kota-kota studi Jawa, Paul muda pernah menjejakkan kaki di pedalaman Papua Tengah, di dataran tinggi Paniai, sebagai seorang diakon awam yang membantu pelayanan Gereja Katolik di tengah keterbatasan tenaga imam pribumi kala itu.

Warga kampung memanggilnya ‘Diakon Paul’ — sebutan yang empat puluh tahun kemudian, masih diingat oleh mama-mama tua di Epouto ketika ia kembali berkunjung.

Di masa-masa itu ia mengenal langsung denyut hidup masyarakat pedalaman: jalan berlumpur, keterbatasan akses kesehatan, dan semangat komunitas yang hidup dari solidaritas, bukan dari kelimpahan.

Perjalanan hidupnya kemudian membawanya menyeberang ke Jawa, mendirikan Yayasan Bina Teruna Indonesia Bumi Cenderawasih — yang lebih dikenal dengan akronimnya, Binterbusih — pada penghujung 1980-an.

Misinya sederhana namun berat: mendampingi anak-anak muda Papua yang merantau jauh dari kampung halaman untuk menempuh pendidikan tinggi di kota-kota seperti Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung.

Dan, di tengah misi itulah, ‘si biru’ hadir — bukan sebagai kendaraan mewah simbol status, melainkan sebagai alat kerja paling setia yang pernah dimiliki seorang pembina asrama.

Mereka yang pernah dekat dengan Paul mengenal betul kebiasaannya:

Dia tidak pernah menyebut dirinya “mengemudikan” ‘si biru.’ Ia selalu memakai kata “dipiloti” — seolah mobil tua itu adalah entitas hidup yang sedang diterbangkan, bukan sekadar benda mati yang dikendalikan.

Memang kalau menengok rekam jejaknya, ‘si biru’ pantas mendapat penghormatan bahasa seperti itu.

Sesungguhnya, ‘si biru’ tidak sendirian. Ia punya saudara, sebuah kijang keluaran setahun lebih muda yang diberi nama Si Merah — lebih mulus, lebih terawat, biasa dipakai untuk keperluan yang lebih tenang seperti mengantar-jemput ke rumah sakit.

Tapi tugas-tugas berat yang penuh risiko dan kejutan, selalu jatuh ke pundak ‘si biru.’

Seolah ada semacam pembagian peran yang tak tertulis: yang satu untuk ketenangan dan yang satu lagi untuk pertaruhan.

Bahkan Uskup Alm. Herman Müninghoff, salah satu tokoh Gereja Katolik paling dihormati di Papua kala itu, tercatat berulang kali memilih menumpang ‘si biru’ ketika berkunjung ke kota-kota studi — bukan karena kenyamanannya, tapi karena rasa aman yang entah bagaimana selalu menyertai mobil tua itu ke mana pun ia pergi.

Ada malam ketika seorang mahasiswa nyaris mengakhiri hidupnya sendiri karena depresi jauh dari rumah dan ‘si biru’ menjadi ambulans darurat menuju rumah sakit terdekat, dengan kepala seorang mahasiswa lain menjulur dari jendela sambil berteriak keras kepada kendaraan lain di jalan agar memberi jalan.

Ada pula subuh ketika seorang istri mahasiswa hendak melahirkan dan mobil yang sama dengan pengemudi yang sama, melesat membelah jalanan kota yang masih sepi.

“Minggir, minggir!” — begitu teriakan yang berulang kali menggema dari balik jendela ‘si biru’ menggantikan sirine yang tak pernah mereka miliki.

Tapi ‘si biru’ bukan hanya kendaraan penyelamat nyawa. Ia juga dengan getir, pernah menjadi mobil jenazah — mengantar pulang jasad-jasad muda yang tak pernah sempat menuntaskan kuliahnya, sebelum akhirnya diberangkatkan lebih jauh ke tanah leluhur mereka di Papua.

Di lain waktu, mobil yang sama membawa uskup-uskup yang berkunjung ke kota-kota studi, bahkan sesekali mengantar artis yang diundang mengisi acara sosial mahasiswa Papua.

Ambulans, mobil jenazah, kendaraan tamu kehormatan — semuanya dijalani ‘si biru’ dengan kesetiaan yang sama, tanpa membedakan siapa yang sedang ia bawa dan untuk keperluan apa.

Ada satu kebiasaan kecil yang menjadi legenda di kalangan mahasiswa binaan Paul: setiap kali melewati pos pemeriksaan atau razia aparat di era Orde Baru, Paul akan membunyikan klakson dua kali — “tet, tet” — sambil melakukan gerakan hormat sederhana ke arah petugas.

Dan hampir selalu, mereka dibiarkan lewat begitu saja. ‘si biru’ rupanya, sudah dikenal luas sebagai “mobilnya orang Papua” — sebuah pengakuan informal yang lahir bukan dari stiker atau plat khusus, melainkan dari reputasi yang dibangun bertahun-tahun di jalanan yang sama.

Namun perjalanan panjang itu bukannya tanpa insiden yang membuat jantung berdegup kencang.

Suatu ketika, dalam perjalanan jauh membawa beberapa mahasiswa, roda ‘si biru’ tiba-tiba terlepas dari porosnya saat mobil sedang melaju.

Alih-alih oleng dan terguling, mobil itu justru tetap berjalan seimbang dengan tiga roda, seakan menolak untuk berhenti sebelum benar-benar aman melakukannya.

Di kesempatan lain, Paul yang menyetir sendirian tengah malam sementara seluruh penumpangnya tertidur pulas, sempat tertidur sejenak di belakang kemudi — dan mobil itu berhenti tepat di pinggir jurang, seakan ada tangan tak terlihat yang menahan lajunya di detik-detik terakhir.

Kedua kisah itu, anehnya, selalu diceritakan ulang oleh Paul dengan nada jenaka, bukan dengan raut ketakutan yang biasanya menyertai kejadian nyaris fatal semacam itu.

Ada pula anekdot yang lebih ringan namun tak kalah menggambarkan karakter mobil ini: dua kardus uang kolekte gereja hasil Aksi Puasa Pembangunan sempat “hilang” selama tiga minggu penuh, tersimpan begitu saja di jok belakang ‘si biru’ yang memang tak pernah dikunci.

Tidak ada yang mengambilnya. Tidak ada yang mencurigainya hilang dicuri. Ia hanya lupa terselip, dan ditemukan kembali utuh ketika akhirnya dicari.

Kisah kecil ini, di tengah begitu banyak drama besar yang dialami ‘si biru’ justru menyimpan pesan yang mungkin paling dalam: tentang kepercayaan yang dibangun sebuah komunitas kecil di tanah rantau. Dimana barang berharga bisa tertinggal berminggu-minggu tanpa rasa was-was.

Tiga puluh lima tahun adalah waktu yang panjang untuk sebuah mobil terus bekerja tanpa jeda berarti.

Sama panjangnya dengan waktu yang dihabiskan Paul Sudiyo mendampingi generasi demi generasi mahasiswa Papua, menyaksikan mereka tumbuh dari anak rantau yang canggung menjadi bupati, sekretaris daerah, hingga pejabat tinggi negara.

Ketika di usia senja Paul akhirnya kembali menjejakkan kaki ke pedalaman Papua Tengah — ke Epouto, ke Paniai, tempat ia memulai segalanya sebagai diakon muda — lingkaran perjalanan hidupnya seakan menutup dengan sendirinya.

Dari pedalaman Papua yang membentuknya, ke jalanan Jawa yang ditempuhnya bersama ‘si biru’ dan kembali lagi ke tanah yang sama, kali ini sebagai seorang tua yang disambut air mata haru oleh mereka yang masih mengingat namanya.

‘Si biru’ sendiri, seperti pemiliknya, kini menua. Warna birunya yang cerah kini ditemani beberapa goresan dan bekas pemakaian bertahun-tahun, mesinnya semakin sering perlu dirawat.

Namun bagi siapa pun yang pernah menumpanginya — baik dalam keadaan sehat, sakit, gembira atau berduka — mobil biru itu akan selalu diingat bukan karena kemewahannya, melainkan karena kesetiaannya.

Ia bekerja keras tanpa pernah mengeluh, sampai tua. Persis seperti manusia yang selama puluhan tahun duduk di belakang kemudinya.

Ada sesuatu yang jujur dari cara sebuah mobil tua menyimpan sejarah. Ia tidak memilih siapa yang ditumpanginya, tidak bertanya apakah penumpangnya sedang menuju kelahiran atau kematian, sedang membawa kabar gembira atau kabar duka.

Ia hanya berjalan, terus berjalan, selama mesinnya masih mau menyala dan rodanya masih mau berputar — persis seperti panggilan yang dijalani Paul Sudiyo sendiri sepanjang hidupnya.

Tidak banyak orang yang menulis riwayat hidup lewat sebuah kendaraan. Tapi bagi ribuan anak muda Papua yang pernah dijemput, diantar, disembuhkan atau bahkan diberangkatkan pulang untuk terakhir kalinya lewat mobil biru tua itu, ‘si biru’ bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah saksi bisu dari sebuah pengabdian yang tidak pernah mencari sorotan, yang bekerja di balik layar sejarah besar Papua — satu perjalanan sunyi setiap kali klakson dua kali berbunyi dan satu hormat sederhana yang selalu berhasil membuka jalan.

Kisah ‘si biru’ terpatri apik pada Bab X: “Si Biru Yang Bekerja Keras Sampai Tua” Buku Otobiografi Paul Sudiyo berjudul “Petualangan Di Tengah Kota untuk Papua” (Cetakan Pertama, Agustus 2026). (*/ Laurens Minipko)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *