Merauke, suryapapua.com– Bertempat di aula Kantor Bupati Merauke Sabtu (01/08/2026), berlangsung pertemuan atau tatap muka antara para guru SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke bersama ratusan orangtua siswa-siswi baru (Kelas VII).
Pertemuan yang ‘dibalut’ dalam nuansa kebersamaan sangat ‘kental’ itu, berlangsung selama kurang lebih dua jam.
Dalam pertemuan, selain pemaparan keberadaan SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke oleh Wakil Kepala Sekolah, Yohana Masela, juga pemilihaan ketua, sekretaris serta bendahara masing-masing kelas atau paguyuban.
Sementara Kepala Sekolah SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke, Sr. Romasi Sihombing dalam sambutannya mengungkapkan, kehadiran orangtua dalam pertemuan merupakan bukti nyata bahwa pendidikan serta masa depan anak sangat penting serta berharga.
Orangtua yang datang, demikian Sr. Romasi, bukan hanya menghadiri sebuah rapat, tetapi memulai sebuah perjalanan bersama.
Dimana perjalanan mendampingi, membimbing serta mempersiapkan anak agar tumbuh menjadi pribadi beriman, berkarakter, berpengetahuan, mandiri serta mampu menjadi berkat bagi sesama.
“Ketika orangtua memercayai anak didik kepada SMP YPPK Yohanes XIII Merauke, kami-pun menyadari bahwa yang dititipkan bukan sekedar seorang siswa,” ujarnya.
Lebih dari itu, anak didik adalah buah hati dari orangtua. Mereka dibesarkan dengan kasih sayang, doa, pengorbanan, air mata serta harapan besar.
Jadi, lanjutnya, anak-anak akan diterima, bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi bagian dari keluarga besar SMP YPPK Yohanes XXIII Meraauke.
“Kami memahami kalau setiap anak memiliki kelebihan, kekurangan , kebiasaan, latar belakang maupun proses pertumbuhan berbeda,” jelasnya.
“Ada anak cepat memahami pelajaran, ada juga membutuhkan waktu lebih lama, ada yang mudah bergaul serta ada masih malu dan membutuhkan perhatian,” katanya.
“Tugas kita bukan membandingkan seorang anak dengan yang lain, tetapi membantu untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari dari mereka,” ungkapnya.
Lebih lanjut Sr. Romasi menjelaskan, sekolah tak dapat berjalan sendiri— guru-pun tak dapat mendidik anak tanpa dukungan orangtua.
Demikian pula orangtua membutuhkan kerjasama dari sekolah dalam mendampingi perkembangan anak dari waktu ke waktu.
Baginya, rumah adalah sekolah pertama bagi anak dan orangtua adalah guru pertama.
Sementara sekolah menjadi rumah kedua. Tempat dimana anak belajar, bertumbuh, berinteraksi serta menemukan dan mengembangkan potensi dirinya.
Olehnya sekolah dan orangtua, bukanlah pihak yang berjalan sendiri sendiri.
“Kita adalah satu keluarga dan satu tim yang memiliki tujuan sama yakni kebaikan serta masa depan anak,” tandasnya.
Jika di sekolah anak didik membuat kesalahan, agar tak saling menyalahkan.
“Mari kita duduk bersama bicara dengan hati tenang, mencari kebenaran serta menemukan jalan tepat. Kalau ada kekurangan dari sekolah, sampaikan kepada kami secara baik,” pintanya.
Intinya adalah komunikasi sekolah selalu terbuka—demikian pula ketika sekolah menyampaikan perkembangan atau persoalan anak, diharapkan orangtua menerima.
“Bukan sebagai bentuk penghakiman, tetapi wujud perhatian dan kasih kita bersama. Jangan sampai persoalan kecil menjadi besar,” pintanya lagi.
Sekolah Model
Lebih lanjut Sr. Romasi mengatakan, pihaknya ingin menerapkan kedisiplinan dengan kasih.
Peraturan dibuat bukan untuk menakut-nakuti atau menghukum anak, tetapi membentuk kebiasaan yang baik. Juga tanggungjawab, rasa hormat dan kepedulian serta kemampuan mengendalikan diri.
“Kami ingin agar anak anak datang tepat waktu sebagai bentuk tanggungjawab, menjaga kebersihan adalah bentuk cinta kepada lingkungan, mengormati guru serta teman adalah wujud akhlak, menggunakan media sosial serta telpon genggang secara bijaksana adalah bentuk kedewasaan,” ujarnya.
Juga belajar tekun adalah bentuk penghargaan terhadap pengorbanan orangtua.
SMP YPPK Yohanes XIII Merauke, jelasnya, terpilih sebagai sekolah model.
Dengan demikian, pihak sekolah akan terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan.
“Anak anak tak hanya dibekali pendidikan akademik, tetapi keterampilan literasi, teknologi dan lain-lain,” katanya.
Diharapkan kemajuan teknologi, harus berjalan bersama dengan pertumbuhan iman, karakter, etika serta kepedulian terhadap sesama.
Sekolah juga tak hanya ingin menghasilkan anak-anak yang pintar menggunakan teknologi, tetapi membentuk kepintarannya demi kebaikan dan membantu orang lain menjaga lingkungan serta membangun masa depan.
Diakui bahwa menjadi orangtua bukan tugas muda. Begitu banyak pengorbanan yang mungkin tak dilihat anak-anak.
“Saya mengajak mari kita terus mendampingi anak-anak. Mereka membutuhkan waktu agar orangtua mendengarkan apa yang dia sampaikan selama di sekolah,” katanya.
Kepada para guru agar menerima anak- anak dengan hati seorang pendidik dan orangtua.
Marilah mengenal mereka, bukan hanya melalui nilai di atas kertas, tetapi ceritera, perjuangan maupun potensi serta kebutuhan-nya.
“Jangan biarkan seorang anak merasa tak berharga hanya karena dia melakukan kesalahan,” pintanya.
Tugas guru adalah menegur dengan kasih, membimbing dengan kesabaran serta memberikan kesempatan kepada mereka membentuk dirinya.
Penulis : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun





