oleh

Ketika Ratusan Anak 3T OAP di SMAN Plus 1 Wasur Butuh ‘Sentuhan’ Bupati-Wabup Merauke

Merauke, Suryapapua.com–  Kurang lebih 120 anak Papua baik putra dan putri  ditampung di Asrama dalam kawasan  sekolah 3 T-Sekolah Menengah Atas Negeri  (SMAN) 1 Merauke di Wasur, sekaligus mengikuti kegiatan belajar mengajar secara rutin setiap hari.

Hanya saja, berbagai kekurangan masih dihadapi, terutama kebutuhan makan-minum lebih khusus beras setiap hari selama di asrama. Olehnya mohon ‘sentuhan’ atau perhatian Bupati-Wakil Bupati Merauke, Romanus Mbaraka-H. Riduwan.

Permintaan itu disampaikan Ketua Asrama Putra dan Putri Anak 3 T SMA Negeri Plus 1 Merauke, Polikarpus Boli Kobun saat ditemui Surya Papua Sabtu (8/1). “Saya sebagai ketua asrama, merasa kesulitan, terutama bagaimana mempersiapkan makan  seratusan anak di asrama tiap hari,” ujarnya.

Dikatakan, pihaknya saat ini hanya bergantung kepada dana bantuan operasional pemerintah (BOP) yang diberikan pemerintah satu semester. Itupun realisasinya tidak menentu.

Secara umum, jelas Polikarpus, anak-anak yang tinggal di asrama, datang dari kampung maupun distrik di pedalaman. Bahkan juga ada dari Kabupaen Boven Digoel serta Mappi.

“Memang kalau stok makanan berkurang atau habis dan anak-anak tidak makan, merekapun tak masuk sekolah. Inilah persoalan yang saya temui dan hadapi selama ini,” ungkapnya.

Ketua Asrama Putra dan Putri Anak 3 T SMA Negeri Plus 1 Merauke, Polikarpus Boli Kobun saat memeluk seorang anak Papua– Surya Papua/IST
Ketua Asrama Putra dan Putri Anak 3 T SMA Negeri Plus 1 Merauke, Polikarpus Boli Kobun saat memeluk seorang anak Papua– Surya Papua/IST

“Intinya bahwa kalau tak ada sarapan makan  diberikan tiap hari, mereka enggan masuk sekolah. Lalu tak ada niat melakukan sesuatu. Tetapi ketika kebutuhan makan tiap hari diperhatikan, mereka terus termotivasi masuk sekolah dan belajar  rutin,” ungkapnya.

Diapun berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke dibawah kepemimpinan Romanus-Riduwan, dapat melihat kekurangan kebutuhan pangan (beras)  yang tengah dialami ratusan anak di SMAN I Wasur-Merauke.

“Jika kita menginginkan atau menghasilkan sumber daya manusia (SDM) OAP yang baik, maka  perlu dukungan pemerintah setempat,” kata guru asal Kampung Puor, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Ditambahkan, mengingat cadangan beras tak mencukupi, maka sarapann pagi untuk anak-anak berupa pisang atau ubi rebus. Nanti pulang sekolah siang baru bisa makan nasi.

“Porsi atau jatah makan kita kurangi. Jadi apa adanya disiapkan. Selain ubi dan pisang, ditambah kangkung rawa serta jantung pisang. Untuk tambahan ikan atau daging, sangat sulit mengingat keterbatasan finansial,” ujarnya.

Penulis : Yulianus Bwariat

Editor   : Frans Kobun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *