oleh

Saat Perahu Lesung Itu Jadi Sarana Transportasi Satgas Pamtas Patroli Patok Perbatasan

Boven Digoel,  Suryapapua.com– Dua perahu lesung itu terlihat di tengah muara sungai. Satu diantaranya sudah mendahului, sehingga kurang  kelihatan,  hanya tersisa satu masih  nampak jelas.

Di atas perahu itu, Bendera Merah Putih dikibarkan.  Dua prajurit satuan tugas pengamanan perbatasan (Satgas-Pamtas) mengambil posisi  duduk. Mereka tampak mengikuti ayunan tangan seorang warga sipil  yang sedang menggayuh perahu dengan peralatan seadanya guna menghindari gelombang air sungai.

Satu-satunya akses transportasi yang dapat digunakan untuk menyeberang sekaligus melakukan pemantauan patok-patok di perbatasan RI-PNG, hanya bisa dilalui dengan transportasi sungai.

Meski akses sulitnya akses  transportasi, namun tak menyurutkan semangat prajurit dalam melaksanakan tugas utama sebagai penjaga garda terdepan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yakni kontinyu memantau patok-patok.

Foto bersama prajurit Satgas-Pamtas usai melakukan pemantauan patok perbatasan RI-PNG – Surya Papua/IST
Foto bersama prajurit Satgas-Pamtas usai melakukan pemantauan patok perbatasan RI-PNG – Surya Papua/IST

Itulah yang dilakukan dan atau dijalankan anggota Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 725/Wrg Pos 3-B Kombut, Kabupaten Boven Digoel.

Di moment hari ulang tahun (HUT) TNI ke-77, selain melakukan pelayanan kepada masyarakat setempat, tugas utama dijalankan yakni memantau atau melihat patok-patok.

Dari rilis yang diterima Surya Papua Jumat (7/10) Dansatgas Pamtas Yonif 725/Woroagi,  Letkol Inf  Syafruddin Mutasidasi mengungkapkan, kegiatan yang dilakukan, tidak lain memastikan  perbatasan NKRI selalu terjaga dan aman serta mencegah pergeseran patok batas negara antara RI-PNG.

“Ini merupakan tugas dan tanggungjawab yang harus dijalankan prajurit secara kontinyu,” ujarnya.

Tentunya, lanjut Dansatgas, dengan patrol patok perbatasan, dapat meminimalisir, mencegah dan mengatasi apabila terdapat ancaman dari pihak asing maupun kegiatan kriminalitas lintas batas di wilayah perbatasan antar kedua negara.

Secara terpisah Kepala Kampung Kombut, Manu Wolfon mengaku masih banyak pelintas batas melewati jalan tikus dengan membawa barang-barang illegal.

Misalnya saja, sebut dia, minuman keras  dan ganja. “Ya, kami sudah membantu melakukan penertiban warga perbatasan RI-PNG melalui patrol,” ungkapnya.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *