Merauke, Suryapapua.com– Mulai hari ini, umat Katolik di seluruh dunia memasuki masa prapaskah.
Masa prapaskah ditandai dengan penerimaan abu sebagai simbol pertobatan serta kefanaan manusia.
Khusus di Gereja Katolik Santa Theresia Buti, Rabu (18/02/2026), ratusan umat memadati gereja mengikuti perayaan, sekaligus menerima abu dari Pastor Simon Petrus Matruty.
Abu yang digunakan dan diterima umat berasal dari pembakaran daun palem (pada minggu Palma tahun sebelumnya).
Praktek dimaksud merupakan ajakan untuk kerendahan hati, refleksi diri serta puasa-pantang.
Dari pantauan suryapapua.com, sebelum tanda salib abu didahi, pastor mendoakan sekaligus memberkati abu.

Ratusan umat baik di dalam maupun di luar gereja, secara teratus berbaris menerima abu dari pastor maupun suster (biarawati) maupun bruder.
Pastor Paroki Santa Theresia Buti, Simon Petrus Matruty dalam khotbahnya mengatakan, pada masa prapaskah—selama 40 hari, umat Katolik berada dalam masa pantang serta puasa.
Masa dimana, menurut Pastor Sipe, Tuhan memberikan kesempatan kepada umat agar berbagi kepadanya-NYA.
“Selama masa prapaskah, kita akan berjuang dan Tuhan menghendaki kita banyak berdoa serta berpantang,” ujarnya.
Rabu Abu, lanjutnya, membuka masa prapaskah dengan ajakan sangat jelas yang dikatakan Nabi Yoel yakni ,”Berbaiklah kepada Tuhan, berbaiklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, bukan paksaan.”

“Jadi mari kita memasuki masa prapaskah bukan karena pemaksaan tetapi kehendak bebas-segenap hati atau melakukan secara tulus,” pintanya.
Nabi Yoel juga menekankan, pertobatan sejati buka soal simbol luar melainkan sebuah perubahan hati yang keluar dari hati agar kembali kepada Tuhan.
Contoh konkrektnya adalah ketika lonceng berbunyi, datanglah ke Rumah tuhan, itu hal paling sederhana.
“Mengapa? karena Tuhan memanggil dan berkurban bagi kita sebagai anak-anaknya,” ungkap Pastor Sipe.
Penulis : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun










