oleh

Guru Agama Katolik Menampilkan Diri Sebagai Murid Kristus

MENAMPILKAN diri  sebagai Murid Kristus-Komunitas Kristen mengalami kepenuhan janji kasih Allah yang menjangkau agen pastoral dalam diri Yesus, Sang Kristus.

Yesus adalah penjelmaan wajah Allah. Yesus adalah norma terakhir untuk memahami apa artinya menjadi seorang pribadi dan menghidupi kehidupan moral yang secara penuh berhubungan dengan Tuhan.

Di dalam Yesus medium dan pesan saling bertemu. DIA  adalah kabar gembira yang diproklamasikan. DIA  menjadi demikian bukan karena apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan, tetapi karena DIA  dari dulu dan sekarang adalah pewahyuan Allah yang paling penuh bagi manusia dan sekaligus adalah tanggapan paling penuh dari manusia bagi Allah.

Siapapun yang ingin mengakui Yesus Kristus sebagai Allah seharusnya memandangnya sebagai model dari siapa yang kita tuju dan apa yang harus dilakukan dalam hidup dan pelayanan.

Cara bertindak, Sabda-Nya dan perbuatan-perbuatan dan perintah-perintah-Nya adalah aturan moral hidup Kristen.

Menerima Kristus sebagai norma pelayanan dan hidup moral berarti memasuki jalan kemuridan.

“Datang, ikutilah Aku” (Mat 19:21).  Mengikuti berarti meniru Kristus (imitasi Kristus). Imitasi berbeda dengan mimikri. Mimikri adalah tindakan meniru yang meniru Yesus titik koma dan melupakan Yesus yang menyejarah yang menyemai-suburkan fundamentalisme.

Imitasi autentik berarti hidup dalam semangat Yesus. Hal itu seperti yang ditegaskan oleh Yohanes Paulus II dalam Veritatis Splendor ini bukan suatu masalah hanya menempatkan diri seseorang untuk mendengarkan suatu ajaran dan dengan taat mengikuti perintah (art. 19).

Secara radikal Paus menegaskan bahwa ini melibatkan tindakan untuk berpegang teguh pada pribadi Yesus, ambil bagian dalam hidupdan nasib-Nya, berbagi pengalaman dalam ketaatan-Nya yang bebas dan cinta Kasih-Nya kepada kehendak Bapa (art. 19).

Lebih lanjut Dia menegaskan bahwa menjadi seorang murid berarti menyesuaikan diri dengan-Nya yang menjadi seorang hamba dan bahkan memberikan diri pada salib (bdk Fil 2:-8) (bdk. art. 21). Namun seorang agen pastoral tidak bisa menjadi imitator Kristus hanya dengan kehendak dan kemampuannya sendiri.

Seorang agen pastoral mesti menyadari bahwa kemampuanya untuk mengikuti Yesus merupakan berkat cinta Tuhan kepadanya melalui Roh: “Cinta Tuhan telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang telah diberikan kepada kita (Rm 5:5).

Ketika Dia menerima cinta Bapa-Nya, Dia menganugerahkan cinta itu kepada agen pastoral: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tingggalkah dalam kasihKu itu (Yoh 15:9).”

Roh Kudus menanamkan dalam diri kita “pikiran Kristus” (1 Kor 2:16) yaitu penetapan-penetapan dan nilai-nilai Yesus sehingga dengan kreatif agen pastoral dapat menanggapi keperluan zaman ini dengan cara yang selaras dengan hidup yang dianut Yesus.

Tantangan kemuridan tetap membuat cara hidup Yesus menjadi cara hidup agen pastoral bukan titik demi titik (lahiriah dan harafiah) tetapi dalam semangatNya dengan bantuan Roh Kudus. Daripada bertanya “apa yang akan Yesus lakukan?”, seharusnya kita bertanya: “bagaimanakah saya bisa beriman kepada Allah dalam pelayanan seperti yang dibuat Yesus pada zamanya?

Itu berarti dengan menggunakan sejarah Yesus sebagai teladan kesetiaan yang utama untuk merefleksikan secara analogis dengan membiarkan imajinasi,  para agen pastoral dituntun oleh kisah-Nya sehingga sifat dan tindakan-tindakan kita selaras dengan-Nya dalam konteks pelayanan kita dewasa ini.

Guru agama Katolik adalah orang beriman yang secara khususnya mengajarkan tentang iman Kristiani dalam bentuk pembelajaran di kelas.

Oleh karena itu, guru agama hendaknya terbuka terhadap kehadiran dan sapaan Allah serta mau menanggapi atau mengamini tawaran keselamatan Allah itu, baik bagi dirinya sendiri maupun umat beriman Katolik lainnya.

Meski kehadiran, sapaan dan tawaran keselamatan Allah itu tidak jelas, Ia berani berkata seperti Maria (Luk 1:38): sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu. Dengan demikian, seorang Guru Agama Katolik menghayati kemuridan Kristus yang sejati.

Penulis : Ludgerus Waluyo

Guru SD YPPK St. Theresia Buti-Merauke

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *