Merauke, Suryapapua.com– Keluarga besar Lamaholot, salah satu tungku Flobamora di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan melaksanakan misa perutusan bersama Pastor Simon Sabon setelah kurang lebih lima tahun, menjalankan tugas pelayanan kepada umat di Paroki Sota.
Misa perutusan yang berlangsung Senin (02/03/2026) di salah satu rumah milik sesepuh Lamaholot tersebut, sekaligus perpisahan dengan Pastor Simon—Rohaniawan Katolik asal Flores Timur (Lamaholot), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu.
Perayaan misa dipimpin langsung Pastor Simon Sabon (konselebran utama) didampingi empat pastor yakni Pastor Aloysius Kelbulan, Pastor Gergorius Guntur, Pastor Yanto Logo serta Pastor Vitalis.
Untuk diketahui, Pastor Simon Sabon akan pindah tugas pelayanan ke salah satu paroki di wilayah Keuskupan Jayapura.

Pribadi Rendah Hati
Dakam khotbahnya, Pastor Yanto Logo mengatakan, sosok Pastor Simon Sabon adalah pribadi yang sangat rendah hati dan ingin melayani.
“Apa adanya disampaikan dan atau diutarakan Pastor Simon Sabon, itu yang saya ketahui selama beberapa bulan melayani umat di wilayah Paroki Sota,” ungkapnya.
Pastor Simon juga adalah pribadi sangat mencintai alam. “Dulu di halaman, hanya bangunan gereja. Namun begitu beliau bertugas lima tahun di paroki tersebut, halaman ditanami bunga-bunga dan lain sebagainya,” jelas Pastor Logo.

Selain itu, Pastor Simon selalu dan terus berdialog-berkomunikasi bersama siapaun di sekelilingnya. Tidak hanya bersama umat beragama Katolik, tetapi juga dengan non Katolik
Sehingga tidak menherankan ketika sosok Pastor Simon diingat serta dikenal luas masyarakat Sota dan sekitarnya.
“Bagi saya, dialog yang dihidupkan Pastor Simon adalah dialog rendah hati,” ujarnya.
“Jadi, kita sangat bersyukur akan kehadiran Pastor Simon yang selama lima tahun bersama umat termasuk masyarakat dari Tungku Lamaholot,” katanya.
Terimakasih Keluarga Lamaholot
Sementara itu, Pastor Simon Sabon mengungkapkan, ia akan pindah dan bertugas untuk pelayanan kepada umat di salah satu paroki di Keuskupan Jayapura.
“Pengganti saya yakni Pastor Pastor Gergorius Guntur juga sudah tiba di Merauke dan akan bertugas di wilayah Paroki Sota,” jelasnya.
“Sebenarnya saya belum pindah, namun Pater Provinsial serta Uskup Jayapura meminta, sehingga harus saya laksanakan. Ya begitulah misionaris. Kita diutus dan kemana saja, siap menjalankan tugas pelayanan,” katanya.

Lebih lanjut Pastor Simon mengatakan, saat pelayanan pertama di Paroki Sota terutama di pastoran tidak ada alat dapur.
Beberapa saat kemudian, peralatan datang dan itu semua adalah sumbangan dari Keluarga Besar Lamaholot.
“Sampai sekarang, semua peralatan masih baik dan digunakan di pastoran,” tandasnya.
“Terimakasih banyak untuk keluarga Lamaholot yang mempunyai andil besar dengan memulai suatu karya pelayanan bagi kami para pastor di Sota,” katanya.
Pastor Simon mengakui hubungan serta relasi bersama keluarga besar Lamaholot selama lima tahun, sangat baik dan tetap berkomitmen kepada benih iman yang ditanamkan.
Bantu ‘Alakadarnya’

Dalam kesempatan tersebut, usai perayaan misa perutusan, Keluarga Arisan Lembata memberikan sedikit sumbangan uang-dana kepada Pastor Simon Sabon.
Bantuan dana dimaksud, diserahkan secara langsung oleh Ketua Arisan Lembata, Paulus Sina Lewokume didampingi sejumlah pengurus.
“Sedikit bantuan yang diberikan kepada Pastor Simon adalah dari iuran arisan Keluarga Lembata selama ini,” ungkap Sina tanpa menyebutkan nominal dana diberikan.
“Nilainya tidak seberapa, tetapi ini adalah sumbangan dari anggota kami di Kelompok Arisan Lembata,” katanya.
Tentunya dengan sedikit dana yang diberikan kepada Pastor Simon, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan terutama pelayanan kepada umat di paroki baru dalam wilayah Keuskupan Jayapura.
Sangat Dekat

Ketua Kerukunan Lamaholot, Kabupaten Merauke, Paulus Peka Hayon mengaku sudah lama bersama dengan Pastor Simon Sabon, namun sekarang pindah atas perintah atasan, sehingga harus dijalankan.
“Memang Pastor Simon bersama keluarga kami Lamaholot sangat dekat, sama juga dengan Pastor Anselmus Amo,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Peka Hayon menyampaikan satu moment penting saat bersama keluarga Lamaholot dan Pastor Simon.
“Ketika kami rapat bahas bantuan untuk bencana meletusnya Gunung Leewotobi, sedang dicari jalan untuk bagaimana uang dikirim agar tidak tercecer, namun harus sampai di para korban,” jelasnya.
Saat sedang melakukan pembahasan, Pastor Simon menyampaikan uang senilai Rp 64 juta dari hasil penggalangan dana selama empat hari pemuda Lamaholot bersama mahasiswa Unmus dari jurusan akuntasi di sejumklah titik, akan dibawanya secara langsung.
“Kami sangat terbantu karena Pastor Simon langsung membawa dana puluhan juta itu sekaligus menyerahkan kepada para korban gunung meletus,” katanya.
Diakhir sambutannya, Peka Hayon menyampaikan banyak terimakasih kepada Pastor Simon yang sudah terlibat dalam kegiatan termasuk membangun kebersamaan dengan Keluarga Lamaholot.
“Kami juga memohon maaf apabila selama kebersamaan di Merauke, ada tutur kata atau sikap yang mungkin kurang berkenan membuat pastor merasa tidak enak,” ujarnya.
Penulis : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun







