oleh

Di Dusun Yakyu, Perbatasan RI-PNG, Anak-Anak Tak Bisa Baca Tulis

Merauke, Suryapapua.com– Inilah potret pendidikan di Dusun Yakyu, Kampung Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini (PNG).

Betapa tidak, di dusun tersebut tak ada bangunan sekolah. Sehingga praktis kegiatan belajar mengajar tak berjalan. Lalu dampaknya adalah kepada  anak-anak yang nota bene orang asli Papua (OAP) tidak bisa membaca dan menulis.

Umunya, anak-anak setelah selesai dari pendidikan usia dini (PAUD), tak melanjutkan pendidikan ke Kampung Rawa Biru, lantaran akses transportasi sangat sulit. Untuk sampai ke kampung tersebut, harus menggunakan ketinting dengan durasi waktu antara satu sampai dua jam.

Salah seorang guru yang juga Kepala Sekolah SMA I Merauke, Sergius Womsiwor kepada Surya Papua Minggu (19/12) menjelaskan, pekan lalu dirinya diminta Badan Pekerja Klasis Gerjeja Protesta Indonesia (GPI) Papua-Merauke berkunjung ke Dusun Yakyu.

“Memang saya hadir disana melihat fakta sesungguhnya tentang anak-anak Yakyu. Sekaligus bisa merancang apa yang bisa dilakukan, karena saya sudah lama menggeluti dunia pendidikan baik formal maupun non formal,” ungkapnya.

Sergius membeberkan fakta  tentang anak-anak Papua di Dusun Yakyu yang praktis tak mendapatkan layanan pedidikan sama sekali. Akibatnya, mereka tidak bisa membaca serta menulis sampai sekarang.

“Saya melihat bangsa tak serius mengurus orang Papua. Secara nyata dan utuh tak ada bangunan SD disana. Harusnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke mencari solusi atau istilah dalam dunia pendodikan disebut ‘kelas kecil.’ Zaman Belanda dulu, istilah demikian ada. Namun kenapa tak dijalankan atau diteruskan sampai sekarang,” tanya dia.

Baginya, terkesan ada pembiaran terhadap anak-anak Yakyu.  Sebenarnya pemerintah ingin mengurus pendidikan bagi OAP atau tidak? Jika merasa sebagai pelayan, harus peduli kepada anak-anak di daerah terisolir yang berbatasan langsung dengan Negara PNG.

Diakui ada pendeta dari GPI yang ditempatkan bertugas di Dusun Yakyu. Karena konsep dari Badan Pekerja Klasis GPI adalah melayani jemaat di daerah terpencil di perbatasan yang kurang mendapat sentuhan pemerintah.

“Memang pendeta ditempatkan disana, memiliki latar belakang pendidikan Agama Kristen. Sehingga selain melayani ibadah untuk jemaat di gereja, juga bisa mendidik anak-anak melalui sekolah minggu,” ungkapnya.

“Saya menanyakan kepada pendeta, kurikulum apa yang diterapkan kepada anak-anak. Jawabannya, sejauh ini tak ada. Memang pendeta lebih kepada pendidikan sekolah Minggu,” ungkapnya.

Dikatakan lagi,  meskipun ada PAUD,  namun anak-anak ini setelah tamat, tak bisa melanjut ke SD di Kampung Rawa Biru, mengingat topografi wilayah sangat jauh. Selain dengan ketinting dengan waku satu hingga dua jam, namun bisa dengan jalur darat, tetapi itupun ketika musim kemarau. Saat datang hujan, dipastikan tidak bisa.

“Betul ada beberapa anak sekolah di Kampung Rawa Biru, namun kadang tak bisa sampai selesai dan memilih pulang kembali di kampungnya. Karena jauh dari keluarga,” ujarnya.

Sesungguhnya, jelas Sergius, untuk mengurus pendidikan simple saja kalau  Pemkab Merauke komit mengurus di kawasan terpencil dan terpencil dengan dibuatkan sekolah berpola asrama.

“Komitmen saya harus ada pelayanan pendidikan di Dusun Yakyu, entah formal maupun non formal pasti dilakukan. Karena pemerintah telah memberikan regulasi. Sehingga bagaimanapun,  saya harus memulai. Mau tunggu sampai kapan lagi,” tegasnya.

Diapun meminta kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Merauke, Tiasony Betaubun agar memberikan perhatian secara serius terhadap anak-anak di Dusun Yakyu.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *