“Allah Melihat Segala Yang Dijadikan-Nya itu, Sungguh Amat Baik” (Kejadian, 1:31)

Opini124 views

KISAH penciptaan alam semesta yang dilukiskan dalam Kitab Kejadian diakhiri dengan kalimat, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”

Sabda ini menyadarkan kita manusia akan kebaikkan Allah yang begitu sempurna dalam menciptakan bumi ini.

Manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang diciptakan Allah sungguh amat baik.

Pandangan ini membangun kesadaran ekologis untuk memperlakukan alam sebagai keluarga, sebagai saudara dan saudari karena berasal dari satu pencipta.

Alam semesta adalah representasi diri Allah yang digenapi oleh Yesus Kristus.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes, 1:1).

Kerusakan lingkungan hidup akibat eksploitasi alam yang rakus dan penghilangan spesies tumbuh-tumbuhan dan binatang merupakan cara pandang manusia yang salah dan manusia tidak menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang baik adanya.

Diri manusia rusak. Rusaknya diri manusia adalah dosa yang sengaja diciptakan demi kenyamanan.

Mengeksploitasi alam yang berlebihan menggambarkan bahwa manusia telah mengeksploitasi dirinya yang rakus, nufsu, kuasa dan tamak dalam dirinya sendiri, sehingga mengkerdilkan cara pandang manusia akan alam ciptaan ini. Karena di luar dirinya adalah musuh yang harus ditaklukkan demi jadi dirinya.

Suatu gambaran jadi diri yang keliru dan telah merusak adab dan hati nurani manusia dalam berelasi dengan alam ciptaan.

Di sinilah letak pemahaman yang keliru tentang ego manusia. Suatu konsep yang salah sehingga ego disamakan dengan egois.

Menurut Sigmund Freud, ego adalah pengendali utama atas cara kerjanya kepribadian yang menjadi pembeda antar manusia.

Manusia yang sehat adalah manusia yang mampu mengendalikan dirinya dalam berinteraksi dengan alam dan sesama manusia. Namun, dalam kenyataan hidup, manusia lebih mementingkan sikap egoisnya yang berakibat pada destruktif akan alam ciptaan ini.

Manusia berperilaku binatang. Dalam buku “Leviathan” karangan Thomas Hobbes, menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang dipenuhi oleh hasrat, sehingga ibarat tidak ada waktu istirahat bagi manusia.

Hal ini dikarenakan manusia selalu diburu oleh hasratnya untuk memiliki dan menaklukkan sehingga naluri manusia mendorong seseorang untuk berkompetisi atau berperang.

Keadaan itulah yang kemudian ‘memaksa’ akal manusia untuk mencari kehidupan alternatif yang lebih baik dimana manusia dapat mengekang hawa nafsunya.

Inilah hasrat dan hawa nafsu manusia untuk menguasai panggung politik dan alam ciptaan.

Manusia berubah menjadi makhluk monster yang menakutkan. Di samping itu juga, kerusakkan alam ciptaan dikarenakan manusia berpikir dan bertindak cenderung antroposentris.

Tindakan dan pola pikir antroposentris berarti manusia menganggap dirinya sebagai yang paling penting dalam seluruh tatanan ekosistem.

Keberlangsungan hidup manusia lantas menjadi prioritas. Segala sesuatu yang tersedia di bumi adalah sekadar untuk memenuhi baik kebutuhan, maupun keinginan manusia.

Mengekang hawa nafsu ini dibutuhkan logika atau nalar yang sehat di mana kemampuan manusia untuk berefleksi akan setiap tindakan yang ia lakukan. Kemampuan refleksi inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan lain sehingga manusia menjadi bermartabat dan menghargai alam ciptaan dan sesama.

Manusia mendapat suatu kekuatan baru untuk melangkah ke depan dengan paradigma yang baru melihat alam ciptaa ini.

Manusia berelasi dengan alam ciptaan merupakan bentuk iman akan Sang Pencipta bumi ini.

Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa, “Orang-orang Kristen, khususnya, tahu bahwa tugas mereka dalam dunia ciptaan dan tanggung jawab mereka terhadap alam dan sang Pencipta merupakan bagian integral dari iman mereka.” (LS 64) dan (NP 2018,30).

Olehnya diperlukan pertobatan yaitu perubahan dan pembaharuan hati serta budi seperti yang diserukan oleh para Nabi (Amos 5:21-23) . Oleh karena itu pembinaan iman menjadi penting.

Pembinaan iman yang tidak sebatas hanya pada pengetahuan tetapi harus menyangkut segenap seluruh kemampuan manusia sehingga manusia dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan (bdk. Mrk 12:30).

Manusia menyadari bahwa Allah menciptakan bumi dan telah memberkati dan menguduskannya, (Kejadian,2:3).

Manusia harus sadar bahwa manusia sendiri adalah debu tanah (Kej 2: 7); tubuh manusia sendiri tersusun dari partikel-partikel bumi, manusia menghirup udaranya dan dihidupkan serta disegarkan oleh airnya. Maka dibutuhkan juga pertobatan ekologis.

Pertobatan ekologis memungkinkan manusia mengubah pola berpikir dan bertindak antroposentris menjadi lebih ekologis.

Hanya dengan berpikir dan bertindak ekologis, manusia mampu menyelamatkan bumi dan kehidupan manusia sendiri. Maka firdaus yang diidamkan oleh manusia akan terwujud karena cara berelasi yang baru, saling menghargai dan menghormati setiap hak-hak makhluk hidup.

Penulis:

Br. Yohanes Kedang, MTB

Rohaniawan Katolik

Bermisi di Kabupaten Merauke,

Provinsi Papua Selatan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *