Merauke, Suryapapua.com-“Kita di Papua belum mempunyai rambu- rambu jelas untuk bagimana memproteksi sekaligus mulai membatasi arus masuknya orang dari luar.”
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa dalam sambutannya saat menghadiri syukuran wisuda mahasiswa asal Papua wilayah Pegunungan Tengah di Gereja Baptis Harapan Merauke,kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Imadawa meminta sarjana Papua tidak memilih-milih pekerjaan, setelah menyelesaikan studi di bangku perguruan tinggi.
“Jangan pernah mengatakan bahwa pekerjaan tukang sapu itu pekerjaan hina atau bekerja serabutan itu pekerjaan kotor,” pintanya.
Apapun pekerjaan, lanjut Wagub Imadawa, harus ditekuni dan dijalani karena sedikit demi sedikit, cepat atau lambat pasti mendapat lebih baik.
Terkadang juga, menurutnya, anak-anak asli Papua mulai memilah dan memilih pekerjaan—ingin menjadi bos setelah lulus kuliah, tak menjalani karier dari bawah.
“Situasi seperti demikian, membuat teman-teman dari luar masuk ke Papua lalu memanfaatkan keteledoran anak-anak asli lantaran memilah dan memilih pekerjaan,”ujarnya.
Dikatakannya, sekalipun banyak pemekaran kabupaten dan provinsi di Papua, namun Papua adalah satu dan sama.
“Papua adalah satu dan sama. Jangan membeda-bedakan, ah itu orang Papua dari pantai atau dari gunung,” pintanya lagi.
Diakuinya banyak sarjana dan orang-orang punya keterampilan dan pengetahuan, sehingga harus diberdayakan.
“Masih banyak ruang dibuka bagi siapapun mencari dan mendapatkan pekerjaan,” jelasnya.
Hanya saja terkadang, anak-anak asli Papua menjadi penonton di daerahnya sendiri.
“Berkaca dari itu, saya berpesan jangan pernah memilih pekerjaan,” katanya.
Diakhir sambutannya, Wagub Imadawa meminta anak-anak Papua Pegunungan Tengah yang baru diwisuda, mencari pekerjaan di Merauke— tidak perlu kembali ke daerah asal.
Penulis : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun






