Merauke, Suryapapua.com– Pastor Pius Manu, satu dari sekian banyak gembala di Keuskupan Agung Merauke bersuara dan berteriak lantang melakukan penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang telah hadir di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, meluluh-lantakan hutan orang Marind yang dirawat serta dijaga dari generasi ke generasi.
Tidak hanya ‘berteriak,’ Pastor Pius juga selalu dan hadir mendampingi masyarakat ketika melakukan aksi demonstrasi atau protes ke pemerintah.
Dalam aksi demonstrasi masyarakat Pulau Terapung Kimaam di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke beberapa hari lalu, Pastor Pius-pun hadir juga, sekaligus mengambil posisi terdepan melancarkan aksi protes.
Aksi yang dilakukan terkait rencana proyek besar berupa peternakan Sapi serta Kerbau di Pulau Kimaam.
Dalam sesi dialog, Pastor Pius dengan lantang menyebut salah satu Tokoh Papua Selatan telah menelpon kepada masyarakat dari beberapa kampung di Kimaam untuk menerima kehadiran proyek peternakan sapi serta kerbau.
Secara blak-blakan, Pastor Pius menyebut, ada salah satu Tokoh Papua Selatan (tak dibeberkan namanya) menghubungi sejumlah masyarakat dari beberapa kampung di Distrik Kimaam mendapatkan bantuan ternak.
“Ya, tentu saja masyarakat senang, karena mereka berpikir mungkin hanya satu atau dua kambing untuk pelihara,” ungkap Pastor Pius.
Namun menjadi persoalan adalah sejumlah masyarakat itu, diatur oleh tentara, lalu dibawa ke Wanam.
Selanjutnya dari Wanam, mereka diterbangkan dengan pesawat ke Bandara Mopah-Merauke, sekaligus ditampung di salah satu hotel.
Pada intinya, demikian Pastor Pius, perwakilan dari sejumlah kampung itu, diarahkan agar menyetujui sekaligus mewakili seluruh masyarakat Kimaam untuk hadirnya peternakan sapi serta kerbau di Kimaam.
“Jadi, masyarakat diarahkan seperti demikian,” ungkap Pastor Pius dengan suara tinggi.
Jika sapi maupun kerbau didatangkan ke Kimaam dalam jumlah banyak, lalu beranak dan berkembang biak, perlu digarisbawahi Kimaam itu pulau kecil.
“Memang di peta dapat dilihat serta dibaca 24.000 kilometer/segi, namun daratan sangat kecil. Lebih banyak rawa dikelilingi selat dan laut— lalu untuk apa sapi serta kerbau dibawa dalam jumlah banyak kesana,” tanya Pastor Pius.
“Kalau Kerbau serta sapi berkembang dari waktu ke waktu, sama dengan mengusir orang Kimaam dari tempat kelahiran—asal usulnya,” tegasnya.
“Jadi, masyarakat di Pulau Kimaam sedang panik dengan situasi maupun keadaan sekarang. Juga kekhawatiran menghantu mereka dari waktu ke waktu,” katanya.
Penulis : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun






