oleh

Cerita Perjalanan Ludgerus Waluya Adi, Guru Katekis di Paroki Santa Theresia Buti

TANGGAL 27 April 1995, saya bertolak dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju Merauke. Di mana waktu itu,  saya belum tahu letak dan juga kondisi Merauke.

Namun dengan tekad yang ada pada diri saya, sehingga  berangkat untuk mengenal dan ingin mengabdi pada bidang pendidikan dan keagamaan. Dalam perjalanan, saya berusaha mencari tahu keadaan Merauke. Hanya saja belum mendapat gambaran seperti apa Merauke sebenarnya.

Sampailah saya di Pelabuhan Merauke tanggal 2 Mei 1995 pukul 19.30 WIT dengan selamat dan kemudian mencium bumi pertiwi di Merauke dengan sukacita. Saya sempat bingung mau kemana, karena tidak kenal siapapun.

Tapi berkat Allah, ada salah satu penumpang dari Banyuwangi memperkenalkan saya pada seseorang yakni  Bapak Dominikus Meo. Kemudian Bapak Domin membantu saya mengantar ke salah satu pengawas pendidikan di Distrik Atsy, Bapak Yunus Tamu.

Waktu itu saya diterima dengan suka cita. Dan saya tinggal di rumah Bapak Yunus Tamu selama satu setengah bulan, dan langsung menuju ke Atsy selama 7 hari  dengan menumpang KM Enggang, setelah beberapa hari tinggal di Atsy kemudian menuju Kampung Ewer.

Pada tanggal 28 Juli 1995 saya mulai mengajar pada SD YPPK Santo Petrus Ewer dan mengajar di Kelas V. Selama menjadi pendidik, saya semakin tertarik dan tetap setia menjalani profesi sebagai seorang guru.

Dalam perjalanan selama 5 tahun, saya juga sebagai seorang katekis yang membantu pastor paroki bersama para suster dari Tarekat Ursulin memimpin  ibadah dan juga memberikan pembinaan calon baptis dan komuni pertama di paroki.

Wilayah gerejani Paroki Santo Petrus Ewer meliputi 3 stasi yakni  Stasi Yepem, Peer dan Uwus dan setiap bulan rutin untuk dilayani. Tidak terasa 5 tahun berjalan dengan berat hati saya harus meninggalkan Kampung Ewer.

Kemudian pada tahun 2000 saya diterima menjadi Guru Agama Katolik lewat testing di Departeman Agama Kabupaten Merauke waktu itu. Dan ditempatkan di SD YPPK Santa Theresia Buti dan membantu pelayanan di Paroki Santa Theresia Buti pada .

Waktu itu Paroki Santa Theresia Buti mempunyai wilayah yang sangat luas meliputi 12 Stasi yaitu  Stasi Yobar, Payum, Sota, Yanggandur, Rawa Biru, Wasur, Bokem, Nasem, Ndalir, Tomer, Tomerauw dan Kondo serta enam lingkungan.

Keenam lingkungan itu yakni Antonius, Hermanus, Ludwina, Sisilia, Wilhelmus dan Yohanes Pembaptis. Selama itu belum ada petugas khusus atau katekis bahkan guru agama Katolik-pun.

Kemudian saya diminta oleh kepala sekolah untuk membantu pelayanan pembinaan pernikahan, calon baptis, komuni pertama dan krisma walaupun secara pengalaman saya masih kurang, tapi saya percaya bahwa Allah akan mendampingi dan membentuk saya untuk menjadi alatnya dalam melayani umat yang membutuhkan.

Seiring waktu berlalu pada bulan Oktober 2005, saya resmi menjadi warga Paroki Santa Theresia Buti. Sebelumnya saya adalah umat yang di tinggal di Lingkungan Ratu Rosario Semesta Alam, Paroki Fransiskus Xaverius Katedral. Dengan berbekal pengalaman yang telah saya alami selama di Ewer- Asmat maka hal ini akan saya lakukan juga di Paroki Santa Theresia Buti Merauke.

Saya bertempat tinggal di Lingkungan Santa Sisilia dan satu komplek dengan Paroki Santa Theresia Buti, sehingga mudah untuk dapat membangun komunikasi dengan pastor paroki, dewan paroki dan umat setempat.

Pada waktu itu pastor paroki adalah Pastor Pius Cornelis Manu, Pr, berkat bimbingan dan pendampingan beliau, saya semakin mantap dalam pelayanan terhadap umat di paroki.

Beberapa tahun kemudian Pastor Pius Cornelis Manu, Pr diganti oleh Pastor James Andreas Sabon, MSC. Beliau kembali menekankan pada pelayanan terhadap umat yang terpinggirkan beliau harus bolak-balik dari paroki ke stasi-stasi yang ada di wilayah paroki.

Walaupun usianya tidak muda lagi tapi semangat pelayanannya sangat luar biasa. Saya sendiri semakin menikmati tugas dan pelayanan saya sebagai guru agama dan katekis walaupun harus berbagai waktu dan tenaga.

Tepat tahun 2007 akhir saya harus kuliah, mengajar dan juga pelayanan kepada umat, sedikit agak susah untuk membagi dan juga tenaga. Ini karena tuntutan undang-undang guru dan dosen sehingga saya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Kemudian hati saya berlabuh di Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke dan itu sesuai dengan jurusan yang saya kehendaki ( PPAK ) Program Pendidikan Agama Katolik. Sewaktu saya  kuliah beban ekonomi semakin tinggi saya harus membiayai kuliah secara mandiri.

Namun berkat Allah ada beberapa orang yang membantu saya dalam biaya perkuliahan termasuk pastor paroki ( P. James Andreas Sabon, MSC). Bahkan beliau juga membelikan saya laptop agar perkuliahan berjalan lancar sekaligus untuk pengembangan pelayanan di paroki.

Tahun 2010 saya diwisuda dan menyandang gelar Sarjana Agama (S.Ag). Saya semakin bersyukur karena Allah selalu memberikan rahmat dan berkatnya kepada saya, tapi saya tidak lupa berterimakasih kepada orang-orang yang selalu memberikan motivasi kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Dan, saya bangga sebagai Guru Agama Katolik dan katekis karena  katekis adalah pengajar agama profesional di dalam Gereja Katolik. Disebut profesional karena mendapat bekal pendidikan formal dalam kateketik, mencari nafkah di bidang katekese, mempunyai etika profesi sebagai pengajar agama dan mengembangkan diri melalui suatu asosiasi katekis. Katekis bekerja sebagai guru agama di sekolah maupun di paroki.

Pada umumnya,  katekis adalah lulusan dari Sekolah Guru Agama (SGA) atau Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Agama, atau Akademi Kateketik, atau Sekolah Tinggi Kateketik (STKat) pada masa lalu, atau sekarang lulusan lembaga pendidikan tinggi yang mempunyai konsentrasi keilmuan di bidang agama Katolik dan metode mengajar dalam kurikulumnya.

Karena kelangkaan Katekis, tidak jarang guru dari bidang studi apapun yang beragama Katolik, karena wajib mewartakan Injil dan terdorong keinginan untuk memajukan pendidikan agama Katolik, juga bekerja selaku Katekis.

Saya kembali ke tugas sebagai katekis pelayanan ke stasi yang cukup menantang karena jarak dan medan yang cukup sulit selain belum beraspal dan sering mengalami banjir dan harus berjibaku dengan lumpur yang licin sehingga motor harus berendam dalam air dan lumpur tapi semangat tidak pernah padam tetap melanjutkan perjalanan pelayanan.

Kadang harus berpacu dengan waktu yang terbatas saya harus memacu ‘kuda besiku’ motor  Legenda 2 untuk sampai ke tempat pelayan dengan aman dan selamat.

Saya bersyukur,  semua umat yang ada di stasi di mana mereka tinggal sangat menerima saya dengan suka cita dan kasih yang luar biasa walaupun mereka sangat sederhana. Tetapi dengan kesederhanaan mereka mau menerima saya dengan adanya.

Walaupun dalam perjalanan sering saya alami hal-hal yang tidak terduga selama perjalanan dan pelayanan ( motor ) tidak pernah mogok (macet ). Dan saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Merauke terutama Bapak Johanes Gluba Gebze yang telah membantu saya kendaraan roda dua walaupun sebelumnya saya minta maaf bahwa kendaraan tersebut seharusnya hanya untuk dinas.

Tetapi saya pergunakan untuk pelayanan gerejani ( maaf kalau tidak berkenan ). Saya juga berterima kasih kepada orang-orang yang selama ini membantu ( biaya perjalanan pelayanan ) selama saya melayani umat Allah di Paroki Santa Theresia Buti ( Maaf tidak saya sebutkan satu-persatu) karena kebaikan Allah melalui orang-orang yang baik hati, saya masih bisa melayani umat walaupun dengan segala keterbatasan saya.

Besar harapan saya semoga ke depan ada generasi yang mau meneruskan cita-cita dan cinta untuk melayani umat Allah yang membutuhkan pendampingan iman ( rohani ).

Penulis

Ludgerus Waluya Adi, S.Ag

Guru SD YPPK St. Theresia Buti Merauke

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *