Perkuat Kemandirian Masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting, Program Kembara Diluncurkan

Ragam92 views

Merauke, suryapapua.com–  Suatu  inisiasi dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Gadjah Mada (UGM) PS014  dengan mendorong program yang diberi nama kelembagaan masyarakat berdaya (Kembara) di Kampung Mandekman, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua selatan.

Program Kembara itu melibatkan berbagai unsur kelembagaan masyarakat kampung mulai dari muslimat, PKK Kampung Mandekmam, gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok umat Katolik serta pondok pesantren.

Dengan melibatkan  berbagai kelompok itu, selain mendorong terbentuknya sinergi antar kelembagaan dalam mengembangkan inovasi produk berbasis potensi lokal, juga dapat membangun ekosistem pemberdayaan inklusif.

Program Kembara dirancang dalam tiga rangkaian utama yakni pelatihan, pendampingan dan diseminasi inovasi produk kampung.

Sementara kegiatan yang dirancang diantaranya pelatihan utama dengan melibatkan akademisi Universitas Musamus (Romualdus Turu Putra Maro Djanggo, sekaligus sebagai nara sumber).

Untuk kegiatan pertama yakni FGD serta pelatihan tata kelola kelembagaan dan literasi keuangan dasar yang dilaksanakan Minggu 20 September 2026 di Balai Kampung Mandekman.

Kegiatan  dimaksud bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memahami tata kelola kelembagaan yang meliputi aspek kepemimpinan, struktur organisasi, pembagian tugas dan fungsi serta pengelolaan administrasi dan keuangan sederhana.

Lalu pelatihan hilirisasi produk pertanian sederhana Rabu, 23 September 2026.

Tujuannya tidak lain meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi produk pertanian lokal melalui proses pengolahan sederhana, pengemasandan penerapan strategi pemasaran dasar, sehingga mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah ekonomi lebih optimal.

Lalu akan ada pendampingan ke  setiap kelembagaan masyarakat dari  September- November 2026 dengan tujuan meningkatkan aktivasi kelembagaan, membangun kemandirian masyarakat transmigrasi dalam mengembangkan ide program produktif serta memperkuat ekonomi kelembagaan melalui inisiasi produk kewirausahaan berbasis potensi lokal.

Nantinya program Kembara akan ditutup melalui kegiatan diseminasi dalam bentuk mini expo inovasi produk kampung, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat memperkenalkan hasil inovasi kelembagaan yang telah dikembangkan.

Siti Lainah, salah satu peserta dari Pesantren Mandekman, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan  dimaksud.

“Ya, kami mendapatkan pengetahuan baru mengenai bagaimana mengelola kelembagaan dan mengembangkan potensi yang sudah ada di kampung,” ujarnya.

Diakui banyak potensi masyarakat belum dikembangkan secara maksimal selama ini.

Hal serupa disampaikan Yuliana Alimo Mahuze, perwakilan umat  Katolik Kampung Mandekman.

“Sebagai orang asli, saya sangat berterima kasih atas program yang dilakukan  UGM dan Kementrans dengan suatu harapan dapat berkontribusi terutama ekonomi kepada  warga setempat,” ungkap dia.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot UGM PS014, Agustinus Supriyanto mengatakan, keberhasilan pembangunan kawasan transmigrasi tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi dan kelembagaan yang dimiliki.

“Kelembagaan masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi,” katanya.

“Melalui Program Kembara, kami ingin mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi  pelaku utama yang mampu menciptakan inovasi dan mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan,” pintanya.

Kepala Distrik Ulilin, Junaidi  menambahkan, dengan kedatangan Tim Ekspedisi Patriot UGM, dapat memberikan  manfaat  serta dampak luar biasa bagi sinergi masyarakat transmigrasi dan orang asli Papua guna meningkatkan ekonomi.

Program Kembara pada dasarnya sejalan dengan arah pembangunan transmigrasi yang diungkapkan oleh Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengembangan kawasan.

“Keberhasilan transmigrasi tidak hanya dilihat dari pembangunan permukiman, tetapi bagaimana kawasan transmigrasi mampu berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *