Pengurus IPPM2AP Dilantik, Wagub Imadawa: Mama-Mama Pedagang Asli Papua Harus Bekerja Keras

Ragam99 views

Merauke, Suryapapua.com– Pengurus  Pusat Ikatan Pedagang Pasar Mama-Mama Asli Papua (IPPM2AP) resmi dilantik.

Pelantikan yang berlangsung di Hotel Panda, kemarin itu  dihadiri Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa serta sejumlah pejabat lain.

Dalam sambutannya, Wagub Imadawa mengungkapkan, orang asli Papua kalau sudah  mendapat hasil buruan, selalu habis dikonsumsi.

“Ketika ke rawa dan hutan memangkur sagu, hasil yang dibawa pulang dihabiskan atau dikonsumsi—Kalau sudah habis, masuk hutan lagi,” ungkapnya.

Beda dengan orang Nusantara. Mereka mengaku hasil didapatkan sudah habis, tetapi sesungguhnya masih ada. Dimana menyimpan sedikit  sebagai cadangan atau stok.

Dengan wadah organisasi dimaksud, mama-mama pedagang asli Papua harus bekerja keras dan terus maju.

Untuk kepengurusan yang telah dilantik, agar tetap jalan sebagaimana biasa dengan  selalu berpegang teguh kepada komitmen, konsekuensi, semangat, soliditas maupun pengorbanan.

Jika ada pengurus yang terlalu banyak bicara, dikeluarkan saja. Semua harus saling menjaga serta menghormati.

“Perjalanan mama-mama pedagang asli Papua ini cukup panjang. Olehnya  melalui wadah ini diharapkan harus berkonsultasi dan bagimana menjadi mitra,” pintanya.

Dia kembali mengingatkan, para pengurus harus berani dan mempunyai nyali siap berkorban.

Jika  bicara susah–semua harus susah dan berkorban,  sekaligus mengangkat orang yang selalu berjualan dipinggiran jalan maupun di emperan toko.

“Hanya orang susah bisa membantu orang susah.Komitmen harus berjalan, perjuangan pertama yakni merubah pasar,” pintanya lagi.

“Ingat  bahwa perjuangan-nya besar dan berat. Ada tantangan yang bakal dialami didepan,”katanya mengingatkan.

Meski begitu, harus dijalani dengan rendah hati. Lalu bermitra bersama pemerintah.

Wagub Imadawa  berkomitmen  pemerintah siap mendorong wadah dimaksud, khusus kepada mama-mama pedagang asli Papua agar bisa maju.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *