Lapangan Maskura Jadi Saksi, Gelombang Penolakan Menguat, Ratusan Masyarakat Kimaam Beri Ultimatim Tegas! Tolak Peternakan Kerbau dan Sapi

Merauke, Suryapapua.com– Setelah Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke ‘digoyang’ dengan aksi demonstrasi ratusan masyarakat Kimaaam beberapa hari lalu, aksi serupa kembali  dilancarkan sebagai bentuk penolakan terhadap proyek peternakan kerbau maupun sapi oleh pemerintah pusat di Kimaam.

Kali ini, ratusan masyarakat  dari beberapa kampung di Distrik Kimaam, Kabupatren Merauke, Provinsi Papua Selatan, memadati Lapangan Maskura Jumat (15/05/2026).

Mereka datang dengan satu komitmen bulat tanpa kompromi,  menolak  tegas proyek peternakan kerbau serta sapi.

Dalam aksi tersebut, sejumlah poster dibentangkan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana mendatangkan sapi maupun kerbau dalam jumlah sangat banyak di Kimaam.

“ Masyarakat adat serta tokoh-tokoh Kimam menolak tegas perusahan peternakan sapi maupun kerbau di Kimaam. Ingat, tanah adat bukan tanah negara,” demikian bunyi salah satu tulisan spanduk.

Sejumlah spanduk dibentangkan sebagai bentuk penolakan terhadap peternakan sapi maupun kerbau – Surya Papua/IST
Sejumlah spanduk dibentangkan sebagai bentuk penolakan terhadap peternakan sapi maupun kerbau – Surya Papua/IST

Tulisan lain dalam spanduk yakni,”Selamatkan hutan  sagu serta selamatkan rawa gambut.”

“Ini aksi spontalitas kami lakukan sebagai bentuk penolakan terhadap proyek peternakan sapi serta kerbau,” ungkap salah seorang warga Kimaam kepada suryapapua.com.

Dia pun menyatakan siap pasang badan sebagai bentuk penolakan proyek tersebut.

Rohaniawan Katolik, Pastor Pius Manu menegaskan, masyarakat Kimaam sedang dalam kecemasan serta ketakutan akan hadirnya proyek peternakan sapi serta kerbau disana.

“Ya. Berangkat dari pengalaman. Dimana ketika gelombang  protes dilancarkan untuk proyek strategis nasional (PSN) di Wanam, Distrik Ilwayab, toh pada akhirnya-pun tetap berjalan sebagaimana biasa,” tegasnya.

Dimana, lanjut Pastos Pius, hutan dan rawa milik masyarakat diluluh-lantakan demi kepentingan PSN.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *