Wilayah Pelayanan ke Stasi Ekstrim Hingga Sedot Biaya Besar, Umat Paroki Santa Theresia Buti Beri Sumbangan Sukarela ke Pastor Yustus Erasmus Liem

Laporan Utama135 views

Merauke, suryapapua.com- Umat Katolik di Paroki Santa Theresia Buti-Merauke memberikan sumbangan secara sukarela untuk Pastor Paroki St. Lukas Bamol, Pastor Yustus Erasmus Liem.

Bantuan tersebut  diberikan atau disumbangkan diakhir perayaan misa yang berlangsung di Gerjeja Santa Theresia Buti Minggu (01/02/2026).

Dimana, umat secara sukarela menyumbangkan berapa-pun  guna  menunjang pelayanan Pastor Yustus ke stasi-stasi yang hanya dapat dijangkau transportasi air dengan menyewa speadboat bersama bahan bakar minyak (BBM).

Dari pantauan suryapapua.com, dua orang pengurus DPP Paroki Santa Theresia Buti sambil memegang sehelai kain putih di depan altar,  memberikan kesempatan kepada umat menyumbangkan seadanya dari yang dimiliki.

“Tidak ada unsur pemaksaan untuk menyumbang. Jika umat memiliki kelebihan, bisa diberikan sekaligus disumbangkan guna kegiatan pelayanan Pastor Yustus ke stasi-stasi,” pinta Ketua DPP Paroki Santa Therresia Buti, Izaak Layaan.

Secara terpisah, Pastor Paroki St. Lukas Bamol, Pastor Yustus Erasmus Liem menyampaikan banyak terimakasih kepada umat di Paroki Buti yang telah memberikan sumbangan sukarela.

“Sekali lagi terimakasih banyak untuk bantuan yang diberikan kepada saya,” ujarnya.

Pastor Paroki St. Lukas Bamol, Pastor Yustus Liem – Surya Papua/Frans Kobun
Pastor Paroki St. Lukas Bamol, Pastor Yustus Liem – Surya Papua/Frans Kobun

Dalam kesempatan itu, Pastor Yustus mengaku, wilayah pelayanan di Paroki St. Petrus Bamol meliputi 12 stasi mulai dari Wanam hingga Stasi Yeraha.

Untuk menjangkau pelayanan, hanya menggunakan transportasi air dengan speedboat hingga sampai ke kampung-kampung.

“Harus diakui bahwa untuk menjangkau ke kampung-kampung guna pelayanan umat setiap hari Minggu, tentu membutuhkan biaya tidak sedikit,” ungkap Pastor Yustus, Rohaniawan Katolik asal Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.

Khusus  stasi terdekat, menurutnya,  sekali pelayanan pergi pulang biaya sekitar Rp1 juta.

Sementara paling jauh dengan lima stasi, perjalanan pergi pulang dengan speedboat menghabiskan dana antara Rp4 juta hingga  Rp5 juta.

“Ya, tentu dengan biaya besar itu, saya tak mungkin mengharapkan uang kas paroki atau derma umat, karena dipastikan tak mencukupi. Sehingga harus mencari jalan agar ada dukungan bantuan,” ungkapnya polos.

“Meski begitu, kami tetap mempunyai semangat melayani. Hanya terkadang  dibatasi kekurangan biaya menjangkau umat yang tersebar di stasi-stasi yang terbilang jauh,” jelasnya.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *