Serap Aspirasi Perempuan Asli Papua di Merauke, UGM Akan Gelar FGD

Ragam70 views

Merauke, suryapapua.com– Untuk mewujudkan komitmen pengabdian dan pemberdayaan masyarakat di wilayah ujung timur Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Tim Ekspedisi Patriot 2026 terus bergerak.

Setelah bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia, UGM akan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dan sosialisasi program perempuan berdaya.

Dari rilis yang diterima suryapapua.com Selasa (15/09/2026), Peneliti Gender dan Perempuan Papua Selatan, Godefridus menjelaskan, kegiatan yang merupakan bagian dari pemetaan potensi dan permasalahan kawasan transmigrasi tahun 2026 ini, akan diselenggarakan Kamis 10 September 2026.

Sedianya FGD dilangsungkan di ruang rapat Dekanat Universitas Musamus mulai pukul 09.00 WIT- 12.35 WIT.

Sementara agenda utama dari pertemuan  dimaksud difokuskan pada diskusi hasil riset dan temuan di lapangan terkait isu Gedisi.

Selain itu,  lanjut Godefridus, diskusi terkait aspirasi perempuan asli Papua serta pemetaan peluang kolaborasi untuk menyelesaikan permasalahan perempuan di Kawasan Transmigrasi Muting.

Untuk mengoptimalkan langkah penyelesaian masalah lintas sektor, FGD  melibatkan berbagai pemangku kepentingan strategis.

Kegiatan akan dihadiri Ketua Pokja Perempuan Majelis Rakyat Papua Selatan, Kabid DP3A Provinsi Papua Selatan, Kepala DP3A Kabupaten Merauke serta aktivis Perempuan Asli Papua Selatan.

Hasil dari diskusi, menurut dia, akan menghasilkan rekomendasi program dan kebijakan untuk Tim Gedsi dan sinergitas pemerintah agar terus mendukung kegiatan pemberdayaan perempuan asli Papua.

“Permasalahan seputar kurangnya pendampingan dan modal dalam aktivitas ekonomi, permasalahan struktural serta melihat berbagai potensi yang besar seperti skill produksi olah bahan mentah menjadi bahan jadi, noken dan mulainya muncul kesadaran akan kesetaraan gender di Papua menjadi hal penting untuk terus disuarakan,” ungkapnya.

“Ketika berbicara perempuan, kita harus memperhatikan laki-laki juga. Edukasi terhadap laki-laki penting dalam konteks pemberdayaan perempuan,” katanya.

Godefridus menambahkan, melalui forum diskusi lintas sektor ini, diharapkan program perempuan berdaya yang dibawa tim pengabdian UGM di Kawasan Transmigrasi Muting pada Bulan Agustus hingga November 2026, dapat menjadi wadah tepat.

Diharapkan kedepan ada kolaborasi lanjutan dalam hal-hal baik, lebih banyak lagi pihak terlibat dan lebih banyak lagi manfaat berkelanjutan yang tersebar, baik untuk perempuan asli Papua dan perempuan transmigrasi.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *