Merauke, suryapapua.com– Solidaritas Merauke kembali merilis tindakan tidak terpuji dari orang tak dikenal (OTK) dengan melakukan aksi pencabutan sekaligus pembakaran Salib Hitam yang ditancapkan marga Kamuyend –Kampung Nakias, Distrik Ngguti, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Aksi pencabutan, pengrusakan serta pembakaran Salib Hitam tersebut, berlangsung Minggu 1 November 2026.
Sementara dari rilis yang diterima suryapapua.com Selasa (03/11/2026), Solidaritas Merauke yang dinahkodai Teddy Wakum didampingi Niko Kombanpo menguraikan, Salib Hitam yang ditancapkan sebagai bentuk sasi larangan adat oleh marga Kamuyend.
Sekaligus bentuk perlindungan wilayah adat dan protes perlawanan terhadap tindakan sewenang-wenang pemerintah Indonesia melalui SK Bupati Merauke Nomor 100.3.3.2/1105/Tahun 2025 untuk pembangunan jalan sepanjang 135 kilometer yang melintasi diatas wilayah adat mereka.
Solidaritas Merauke, demikian Wakum, menduga motif pencabutan dan pembakaran Salib Hitam oleh orang tak dikenal (OTK) merupakan rangkaian aksi kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat adat Marga Kamuyend.
Dimana, mereka memiliki sikap tegas menolak melepaskan hak ulayat-nya untuk Proyek Strategis Nasional (PSN).
Wakum menegaskan, tindakan keji tersebut bukan pertama kali.
Aksi pencabutan salib juga pernah dilakukan pada 3 Maret 2026 setelah ditancap marga Kamuyend di dusun yang terdampak.
Juga delapan salib milik marga Moiwend Buako ikut dicabut dan dihilangkan kelompok OTK.
Salib Hitam yang ditancapkan marga Kamuyend, jelas dia, merupakan sasi larangan dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan atas kebijakan struktural pemerintah merampas dan merusak ruang hidup mereka.
“Ingat Salib Hitam bukan sekadar kayu yang ditancapkan, melainkan sebuah peristiwa sakral, simbol perlawanan dan pesan penolakan atas penggusuran paksa hutan serta tanah ulayat mereka,” tegasnya.
Selain itu, Salib Hitam dipandang sebagai manifestasi dari ikatan spiritual antara leluhur, tanah ulayat serta perjuangan keadilan.
Dengan melihat berbagai fakta dimaksud, Solidaritas Merauke menyerukan sekaligus mengeluarkan sejumlah point penting
Pertama, mengecam dan mengutuk keras aksi premanisme dan kekerasan OTK terlatih —pendukung PSN yang mencabut Salib Hitam di Wilayah Adat Marga Kamuyend Di distrik Nguti.
Kedua, mendesak Presiden Prabowo, Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo dan Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze serta semua lembaga negara terkait, membentuk Tim Pencari Fakta dalam mengungkap pelaku dan aktor intelektual aksi premanisme oleh OTK yang melakukan pencabutan dan pengrusakan Salib Hitam di Merauke.
Ketiga, negara melalui pemerintah wajib melindungi dan memberikan rasa aman bagi masyarakataAdat yang sedang berjuang mencari keadilan dan mempertahankan tanah adat di Distrik Nguti.
Keempat, Pemerintah dan perusahaan segera menghentikan semua aktivitas di wilayah adat Marga Kamuyend di Distrik Nguti.
Penulis : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun





