Merauke, suryapapua.com– Tanggal 14 Agustus setiap tahun, umat di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi serta Asmat, memperingati masuknya Gereja Katolik di Papua Selatan.
Masuknya Gereja katolik di Papua Selatan ditandai tibanya para misionaris dari Tarekat MSC pada 14 Agustus 1905.
Rombongan para misionaris itu dipimpin Pater Henri Nollen, MSC dan Pater Philipus Braun, MSC bersama dua orang bruder.
Untuk memperingati masuknya misionaris Katolik, hari ini Jumat (14/08/2026), ribuan umat Katolik memadati Patung Hati Kudus Yesus.
Sekaligus mengikuti perayaan misa yang dipimpin Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC sebagai koselebran utama, didampingi belasan pastor.
Dalam khotbahnya, Uskup Mandagi menyoroti berbagai persoalan di Tanah papua, terutama tindakan kekerasan yang dilakukan.
Kekerasan, lanjut Uskup Mandagi, mengakibatkan sejumlah perkantoran dibakar di salah satu kabupaten di Provinsi Papua Tengah.
“Jujur, saya sangat sedih mengetahui kejadian tersebut,” ungkapnya.
Lebih lanjut Uskup Mandagi mengaku, persoalan kekerasan juga masih terjadi di Merauke.
Contohnya saja, aksi begal, minuman keras hingga mabuk serta tindakan saling membunuh.
Ini bentuk kekerasan yang terkesan dianggap sebagai cara biasa menyelesaikan persoalan.
“Apakah kekerasan merupakan bagian dari ajaran Kristus serta ajaran agama Katolik? Tentu tidak. Ini bertentangan dengan ajaran Kristus yakni kasih,” kritiknya.
Dijelaskannya, 121 tahun perjalanan misi Katolik yang dibawa para misionaris ke Papua Selatan, harus menjadi momentum untuk kembali menghidupkan nilai kasih di tengah masyarakat.
Semangat Hati Kudus Yesus harus menjadi simbol cinta kasih untuk semakin menyebar di seluruh Papua Selatan.
Diakui Uskup Mandagi, perkembangan kehidupan manusia dan kemajuan ekonomi, tidak otomatis membuat dunia menjadi lebih damai.
“Kehidupan manusia dewasa ini, justru semakin diwarnai kekerasan,” katanya.
Mengutup pesan Paus Leo XIV yang menyerukan agar perdamaian ditempatkan di atas segala kepentingan dan kekuasaan.
“Damai dan pengampunan di atas segala-galanya, juga kasih di atas segala-galanya,” ujarnya.
Untuk menjadi orang kudus pada zaman modern, bukan berarti menjauh dari kehidupan masyarakat, melainkan menghadirkan kasih, kepedulian, kesabaran serta pengampunan.
“Jadilah orang kudus di zaman modern. Suci berarti membawa kasih. Kasih berarti peduli, tetapi terlebih-lebih kasih adalah pengampunan,” ujarnya.
Penulis : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun






