Penelitian TSE dan IPB University Identifikasi 79.901 Hektare Habitat Potensial Cenderawasih

TSE GROUP56 views

Boven Digoel, suryapapua.com– Upaya Tunas Sawa Erma (TSE) Group dalam menjaga kelestarian alam Papua melalui program Papua Conservation terus dikembangkan bersama IPB University.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah penelitian untuk mengetahui kondisi dan persebaran habitat Burung Cenderawasih Besar (Greater Bird-of-Paradise) di kawasan hutan Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.

Penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi sekitar 79.901 hektare kawasan yang berpotensi menjadi habitat Cenderawasih.

Luasan ini mencakup sekitar 12 persen dari total wilayah penelitian yang mencapai 678.313 hektare.

Dari jumlah tersebut, sekitar 47.673 hektare atau 60 persen berada di dalam wilayah konsesi PT Tunas Timber Lestari (TTL) dan PT Inocin Abadi (IA) yang keduanya merupakan anak usaha Korindo Group.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal internasional pada 30 Oktober 2026, dengan judul “Habitat Suitability and Lekking Habitat Use of the Greater Bird-of-Paradise (Paradisaea apoda) in Human-Modified Landscapes of Papua”.

Penelitian ini melibatkan enam peneliti yakni Lilik Budi Prasetyo, Aryo Adhi Condro, Azwar Azmillah Sujaswara, Ani Mardiastuti, Yeni Aryati Mulyani dan Arif Kurnia Wijayanto.

Kegiatan penelitian merupakan bagian dari kerja sama Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University dengan TSE Group.

Untuk mendapatkan data, tim peneliti melakukan pengamatan langsung di lapangan selama dua tahun yaitu pada 2022–2023.

Selama penelitian, tim mencatat 59 titik perjumpaan dengan burung Cenderawasih.

Pengamatan dilakukan dengan melihat langsung keberadaan burung, mendengarkan suaranya, serta mencari lokasi pohon yang digunakan untuk aktivitas perkembangbiakan.

Lokasi penelitian kesesuaian habitat Cenderawasih Besar di wilayah PT Tunas Timber Lestari dan PT Inocin Abadi, Provinsi Papua Selatan – Surya Papua/IST
Lokasi penelitian kesesuaian habitat Cenderawasih Besar di wilayah PT Tunas Timber Lestari dan PT Inocin Abadi, Provinsi Papua Selatan – Surya Papua/IST

Penelitian ini juga melibatkan pemandu lapangan setempat dan masyarakat yang mengetahui kondisi hutan serta keberadaan Cenderawasih di wilayah tersebut.

Hasil penelitian ini menjadi informasi penting bagi TSE dalam memahami keberadaan dan kondisi habitat satwa di kawasan operasional perusahaan.

Salah satu hasil penting penelitian ini adalah ditemukannya perbedaan kondisi hutan yang digunakan Cenderawasih untuk beraktivitas sehari-hari dan untuk berkembang biak.

Burung ini masih dapat ditemukan di kawasan hutan yang mengalami gangguan sedang. Namun, untuk berkembang biak, Cenderawasih lebih banyak menggunakan kawasan hutan yang masih terjaga dengan pepohonan tinggi dan rimbun serta gangguan manusia yang lebih sedikit.

Dalam proses berkembang biak, burung Cenderawasih jantan memiliki perilaku khas yaitu melakukan gerakan dan mengeluarkan suara untuk menarik perhatian burung betina.

Aktivitas ini biasanya dilakukan di atas pohon tertentu yang digunakan sebagai tempat menarik pasangan.

“Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pohon-pohon di lokasi tersebut memiliki tinggi rata-rata sekitar 31,59 meter. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pohon di lokasi tempat Cenderawasih melakukan aktivitas lainnya, yang memiliki tinggi rata-rata sekitar 29,01 meter. Kondisi pepohonan di lokasi perkembangbiakan juga cenderung lebih rapat,” ungkap jurnal internasional tersebut.

Dalam pembahasannya, tim peneliti menjelaskan bahwa Cenderawasih masih dapat ditemukan di kawasan hutan yang mengalami gangguan sedang.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti bahwa semua kawasan memiliki kualitas yang sama untuk mendukung perkembangbiakan.

Hutan dengan pepohonan tinggi, susunan pohon yang beragam dan gangguan manusia yang lebih rendah tetap menjadi tempat penting bagi proses perkembangbiakan Cenderawasih.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kawasan hutan produksi tetap memiliki peran dalam menjaga kelestarian satwa liar.

Hutan yang dikelola dengan tetap mempertahankan pepohonan besar dan tutupan hutan dapat menyediakan tempat hidup bagi Cenderawasih.

Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa hutan produksi tidak dapat sepenuhnya menggantikan fungsi hutan alam, terutama sebagai tempat berkembang biak.

Untuk mendukung perlindungan Cenderawasih, tim peneliti merekomendasikan agar pohon yang digunakan sebagai tempat berkembang biak dilindungi bersama kawasan di sekitarnya dengan jarak minimal 250 meter.

Langkah ini bertujuan mengurangi gangguan aktivitas manusia, khususnya selama musim berkembang biak.

Selain itu, perlindungan pohon-pohon besar, menjaga kawasan hutan yang masih alami serta menghubungkan kawasan hutan yang terpisah juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan habitat Cenderawasih.

Penanaman kembali dengan jenis pohon asli Papua turut direkomendasikan untuk membantu memperbaiki kondisi kawasan hutan.

Hasil penelitian ini menjadi salah satu perkembangan dalam kerja sama TSE dan IPB University melalui program Papua Conservation.

Selain memberikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi habitat Cenderawasih, penelitian ini juga membantu mengidentifikasi kawasan hutan yang perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya perlindungan satwa.

Ke depan, hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan kawasan hutan, khususnya dalam menjaga habitat satwa dan kelestarian lingkungan.

Melalui kerja sama dengan dunia akademis, TSE mendukung upaya menjaga keseimbangan antara kegiatan operasional perusahaan dan pelestarian keanekaragaman hayati di Papua.

Penulis : PR

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *