Koperasi Inggyash Ghuzi Membangun Kebun Sawit Berbasis Masyarakat Adat Secara Mandiri

TSE GROUP183 views

Merauke, Suryapapua.com– Koperasi Inggyash Ghuzi merupakan koperasi yang didirikan sejak tahun 2016 untuk 9 (sembilan marga) dengan tujuan menjadi wadah pengembangan usaha bersama, salah satunya adalah usaha kebun sawit (pola kemitraanatau plasma).

Koperasi Inggyash Ghuzi saat ini telah mengantongi HGU seluas 4.607,2 hektar yang rencana pemanfaatan-nya telah dibagi menjadi kebun seluas 3.755 hektar dan sisanya 852 hektar untuk areal nilai konservasi tinggi (NKT).

Pelaksanaan acara adat yang diselenggarakan pada hari ini, Kamis (25/06/2026) merupakan wujud syukuran dan rasa bangga Koperasi Inggyash Ghuzi dan  sembilan marga, karena tahapan pembangunan kebun telah dimulai.

Untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kebun, koperasi telah menjalin kerjasama dengan PT Bangun Papua Luhurkarya (BPL) sebagai pendamping yang akan memastikan pembangunan dan pengelolaan kebun berjalan dengan menerapkan teknis budidaya pertanian yang baik, benar dan ramah lingkungan atau Good Agricultural Practices (GAP) dan manajemen pengelolaan kebun yang efisien serta efektif untuk mengoptimalkan dan menekan dampak lingkungan atau Best Management Practices (BMP).

Ketua Koperasi Inggyash Ghuzi sekaligus Ketua Marga Koula, Richard Nosai Koula menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya atas dukungan Pemerintah Provinsi Papua Selatan  dan Pemerintah Kabupaten Merauke yang telah memberikan dukungan dan kemudahan kepada Koperasi dan 9 marga dalam mewujudkan pembangunan Kebun sawit Kemitraan ini.

“Pembangunan kebun kemitraan atau plasma ini sudah lama ditunggu oleh masyarakat dan kami bangga pada akhirnya dapat terwujud,” ungkap Ricard.

“Kami menyelenggarakan upacara adat hari ini adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kami kepada leluhur, tete-tete dan orang tua kami,”  tambah Ricard dalam pernyataannya di tengah upaya cara adat.

Sementara itu, Direktur PT BPL, Maria Andini dalam sambutannya menjelaskan, tahapan pembangunan kebun kemitraan ini telah melalui beberapa tahapan.

Tahapan-tahapan dimaksud antara lain sosialisasi dan membangun persetujuan serta kesepakatan marga-marga (padiatapa), mencari pendamping hingga menjalin kerjasama, pengurusan perizinan untuk mendapatkan hak guna usaha, pendataan potensi kayu (timber crussing) dan penunjukan kontraktor yang akan melakukan pembukaan lahan (land clearing).

“Setelah melalui proses kesepakatan di antara para ketua marga dengan Koperasi Inggyash Ghuzi, PT BPL menerima surat undangan pertemuan dari pengurus koperasi dan dalam pertemuan yang dihadiri pengurus dan pengawas koperasi serta 9 marga disepakati PT BPL sebagai pendamping pembangunan kebun plasma,” ujar Maria Andini.

kemudian setelah penunjukan PTBPL sebagai pendamping lalu ditindaklanjuti dengan penandatangan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK).

Lalu beberapa hari kemudian manajemen PT BPL dan Pengurus Koperasi Inggyash Ghuzi melakukan audiensi dengan Gubernur Papua Selatan untuk menyampaikan rencana pembangunan kebun plasma dan meminta dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Selatan.

Pada pertemuan tersebut, Gubernur Papua Selatan dan jajarannya memberikan dukungan penuh kepada Koperasi Inggyash Ghuzi untuk didampingi oleh PT BPL.

Namun demikian, pembangunan kebun baru dapat dimulai pada bulan ini, setelah areal lokasi pembangunan kebun plasma mendapatkan HGU dari Kementerian ATR/BPN cq. Kantor Pertanahan Kabupaten Merauke. Untuk itu, pembangunan kebun akan dimulai dalam waktu dekat.

Dalam sambutannya di hadapan pengurus Koperasi Inggyash Ghuzi dan para ketua marga serta undangan yang hadir, Ricard, Ketua Koperasi menyampaikan upacara adat ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas terwujudnya pembangunan kebun plasma untuk 9 marga, karena usaha kebun plasma telah lama ditunggu masyarakat.

“Kami berharap setelah acara adat ini, pembukaan lahan dan penananam kelapa sawit bisa segera dilaksanakan dengan target 500 hektar pada tahun pertama. Kemudian dilanjutkan lebih luas lagi pada tahun kedua dan ketiga, sehingga total mencapai 3.700 hektar,” sebut Ricard dengan penuh semangat.

Kehadiran Pemerintah Provinsi Papua Selatan, kabupaten, distrik hingga kampung dalam acara adat ini menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pembangunan kebun sawit berbasis masyarakat adat.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Merauke, Josefa L. Rumaseu, menyatakan bahwa tantangan pembangunan kebun sawit adalah terletak pada pengetahuan dan pemahaman aspek agronomi dan manajemen pengelolaan kebun.

“Ini merupakan Pembangunan kebun plasma berbasis masyarakat adat yang patut menjadi contoh dan Kehadiran pendamping dari PT BPL diharapkan dapat membantu Koperasi Inggyash Ghuzi dan 9 marga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan masyarakat mengelola kebun sawit, sehingga kebun dapat memberikan dampak peningkatan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat,” pintanya.

Sementara, dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Merauke, diwakili Kepala Bidang Koperasi, Imakulata Mawun, dalam sambutannya menyatakan bahwa rencana pengembangan unit usaha kebun sawit oleh Koperasi Inggyash Ghuzi dengan pola mandiri merupakan inisiatif yang masih jarang ditemukan di Papua Selatan.

Hampir semua pembangunan kebun plasma di Papua Selatan menerapkan model manajemen satu atap. Dimana koperasi tidak terlibat langsung dalam perencanaan, pembukaan lahan hingga pembangunan.

“Dalam manajemen satu atap koperasi hanya menerima laporan perkembangan dan menerima bagi hasil dari perusahaan inti yang membangun dan mengelola kebun plasma, sedangkan pada model kelola mandiri peran Koperasi akan aktif terlibat penuh dalam mengelola kebun,” katanya.

Perwakilan tokoh masyarakat Inggyash dan Ghuzi, dalam kesempatan yang sama menyatakan, masyarakat memiliki harapan besar kepada Koperasi Inggyash Ghuzi agar dapat membangun dan mengelola kebun dengan baik untuk sebesar-besarkan meningkatkan penghasilan masyarakat 9 marga.

“Para Ketua Marga yang hadir di sini mendukung penuh dan siap mengamankan pembangunan kebun supaya pekerjaan di lapangan berjalan lancar tanpa kendala,”, ujarnya.

Perwakilan Pemuda, Glen Maikuin dan Piyer Basik-Basik, juga menyampaikan bahwa sangat berharap kebun plasma dapat membantu memperbaiki ekonomi masyarakat dan menciptakan lapangan pekerjaan serta mengutamakan musyawarah jika ada permasalahan internal di kemudian hari.

“Kami berharap pembangunan kebun plasma ini dapat memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat, dan pemerintah daerah memberikan dukungan kepada kami”, ujar mereka berdua.

Koperasi Inggyash Ghuzi merupakan badan hukum yang dibentuk oleh dan untuk 9 marga di distrik Ulilin, Kabupaten Merauke dengan tujuan sebagai wadah pengembangan usaha bagi masyarakat adat yang menjadi anggota Koperasi.

Salah satu unit usaha yang telah direncanakan sejak awal pendirian Koperasi yaitu kebun sawit yang akan dikelola secara mandiri dan berkelanjutan oleh Koperasi Inggyash Ghuzi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 Penulis : HMS

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *