Kolaborasi DLH Merauke dan WWF Indonesia Dorong Peran Strategis Sekolah Adiwiyata Kurangi Sampah Makanan Melalui Aksi Edukasi dan Kampanye

Ragam223 views

Merauke, suryapapua.com– Selama dua hari terhitung dari tanggal 14-15 September 2026, dilaksanakan kegiatan pembinaan Sekolah Adiwiyata di SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke.

Kegiatan tersebut atas kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Merauke dengan WWF-Indonesia, sekaligus dalam rangka menyongsong Hari Kesadaran Internasional tentang Susut dan Sisa Pangan yang diperingati setiap tanggal 29 September.

Titik Budik Ningsih, perwakilan guru dari Sekolah Adiwiyata SMPN 2 Merauke Selasa (15/09/2026) mengungkapkan, ketika siswa memahami mengapa makanan sebaiknya tidak terbuang dan mengetahui apa yang dapat dilakukan melalui langkah sederhana, mereka memiliki kesempatan menjadi bagian dari perubahan tersebut.

“Ya memang betul bahwa guru punya peran cukup besar karena setiap hari berinteraksi dengan anak-anak,” ungkap Titik.

Jadi, lanjut dia, bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi contoh dan membiasakan mereka melakukan hal-hal sederhana.

“Apa yang mereka dapatkan di sekolah, bisa diceriterakan kembali kepada orang tua dan keluarga di rumah,” jelasnya.

Langkah-langkah sederhana itu, demikian Titik, juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Semakin sedikit makanan terbuang, semakin sedikit pula sampah yang perlu ditangani dalam proses pengelolaan-nya.

“Hal ini jelas menjadi tujuan bersama melalui kolaborasi yang dilakukan banyak pihak,” katanya.

Tanggungjawab Bersama

Suasana kegiatan yang berlangsung pada hari kedua di SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke – Surya Papua/Frans Kobun
Suasana kegiatan yang berlangsung pada hari kedua di SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke – Surya Papua/Frans Kobun

Dony, Staf Waste Management WWF-Indonesia Program Papua mengatakan, dalam pengelolaan sampah, upaya mengurangi dari sumber tentu menjadi bagian penting.

Sampah makanan yang berhasil dicegah sejak awal berarti mengurangi jumlah yang nantinya harus dikumpulkan, diangkut dan diolah.

Olehnya langkah sederhana mencegah makanan terbuang perlu mendapat perhatian, termasuk di lingkungan sekolah. Salah satunya melalui aksi edukasi.

Pada intinya, lanjut Dony,  mengurangi sampah seperti sampah makanan adalah tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

“Apa yang dilakukan di sekolah hari ini, dapat menjadi bekal bagi siswa untuk membawa kepedulian terhadap pangan dan lingkungan ke rumah, keluarga, hingga lingkungan sekitar,” ujarnya.

Pesan-pesan baik ini juga dapat terus disebarluaskan melalui aksi edukasi dan media sosial yang dimiliki, agar semakin banyak warga sekolah dan masyarakat terinspirasi ikut bijak dalam mengelola makanan.

Untuk diketahui bahwa makanan yang tersisa di piring mungkin terlihat seperti hal kecil.

Namun, ketika terjadi berulang kali dan dalam jumlah besar, makanan terbuang dapat menjadi persoalan lingkungan.

Sampah makanan mengandung gas rumah kaca yang diketahui dapat memanaskan bumi sekitar 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO₂).

Maka dari itu, membangun kebiasaan untuk lebih bijak terhadap makanan perlu dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk melalui lingkungan sekolah.

Sekolah menjadi salah satu ruang yang memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan tersebut.

Melalui lingkungan sekolah, pengetahuan mengenai makanan terbuang dapat diperkenalkan, didiskusikan dan diterjemahkan menjadi tindakan sederhana  oleh siswa maupun warga sekolah.

Rangkaian kegiatan diawali pada 14 September 2026 dengan penyusunan program kerja tahunan Sekolah Adiwiyata.

Kegiatan kemudian dilanjutkan 15 September 2026  dengan Training of Trainers (ToT) mengenai susut dan sisa pangan.

Kolaborasi antara sekolah adiwiyata, instansi terkait dan WWF-Indonesia sejalan dengan upaya yang terus didorong dalam memperkuat pengelolaan sampah, termasuk sampah makanan.

Upaya ini merupakan bagian dari kolaborasi WWF-Indonesia Program Papua dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Merauke melalui Joint Work Plan.

Dengan kegiatan  ini, peserta memperkuat pemahaman mengenai persoalan sampah makanan, dampaknya terhadap lingkungan serta langkah-langkah sederhana dapat dilakukan untuk menguranginya.

Peserta guru sebagai perwakilan Sekolah Adiwiyata tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai isu sampah makanan, tetapi mempraktekan bagaimana menyampaikan pesan dimaksud kepada orang lain.

Melalui sesi microteaching, peserta saling berdiskusi serta mengembangkan cara menyampaikan informasi mengenai sampah makanan dengan bahasa yang sederhana, menarik dan dekat dengan keseharian warga sekolah, terutama guru dan juga siswa-siswi.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, setelah sesi ToT, peserta didorong  membawa pengetahuan yang diperoleh kembali ke sekolah masing-masing melalui kegiatan edukasi.

Pesan tersebut kemudian dapat diteruskan melalui berbagai aktivitas di sekolah dan dokumentasi pada media sosial resmi sekolah.

Kampanye mengenai pengurangan sampah makanan tidak berhenti di ruang pada saat ToT saja, tetapi dapat terus bergerak dan menjangkau lebih banyak warga sekolah maupun masyarakat.

Melalui peran guru dan warga sekolah sebagai penggerak, pesan mengenai pentingnya mengurangi makanan terbuang diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga, teman, hingga masyarakat yang lebih luas.

Pendekatan edukasi dan aksi dalam kegiatan ToT tersebut menjadi penting, karena perubahan perilaku tidak selalu dimulai dari pengetahuan yang kompleks.

Pesan sederhana yang disampaikan secara konsisten dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi langkah awal membangun kebiasaan.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *