Ketika Hutan Orang Malind Diobrak-Abrik, Mama Elisabeth Ndiwaen Menangis Sejadi-Jadinya Dihadapan Ketua Umum PGI

Laporan Utama123 views

SIAPAPUN pasti ikut terharu dan meneteskan air mata tatkala menyaksikan dan atau melihat langsung sebuah video suara Mama Elisabeth Ndiwaen, sebagai ungkapan kesedihan mendalam-nya dihadapan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, S.Th, S.Fil,MA.

Dari video yang didapatkan suryapapua.com Sabtu (31/01/2026), dengan mengenakan atribut adat lengkap, Mama Elisabeth menangis sejadi-jadinya ketika bertemu Ketua PGI di depan GOR Hiad Sai-Merauke usai pembukaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPL-PGI).

Untuk diketahui, Mama Elisabeth adalah salah satu pemilik hak ulayat dari jalan 135 kilometer yang dibuka dari Wanam, Nggguti, Kaptel hingga Muting demi kepentingan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Sambil menangis, Mama Elisabeth menyampaikan berbagai persoalan yang dialami dan sedang dirasakan masyarakat Malind sebagai pemilik tanah dan negeri ini.

“Saya tertindas, saya tersiksa bapa. Saya sakit, saya luka. Saya datang dalam penderitaan bapak. Saya mohon, selamatkan anak cucu kami,” ungkap Mama Elisabeth.

“Jangan bunuh kami, saya mohon. Biarkan kami hidup seperti dulu. Kami hidup damai, kami cinta damai. Biarlah kami hidup tenang bersama saudara kami,” katanya lagi.

Deretan kata-kata sebagai ungkapan isi hati ini, mengungkapkan sekaligus menggambarkan bahwa masyarakat Malind menolak dengan tegas kehadiran PSN yang merupakan program nasional.

Selain tangisan dengan ungkapan kata-kata yang sangat mendalam dan menyentuh hati berbagai kalangan itu, puluhan masyarakat dari sejumlah kampung, ikut membentangkan spanduk-spanduk kecaman di halaman GOR Hiad Sai.

Mereka mengenakan lengkap atribut adat serta melumuri tubuh sebagai simbol identitas budaya yang kuat dan berkaitan dengan hubungan mendalam antara manusia, alam serta roh leluhur.

Aksi yang dilakukan masyarakat Malind sebagai bentuk penolakan terhadap Proyek PSN – Surya Papua/IST
Aksi yang dilakukan masyarakat Malind sebagai bentuk penolakan terhadap Proyek PSN – Surya Papua/IST

Adapun bunyi spanduk yang dibentangkan diantaranya, “tanah adat tidak dijual, stop mencuri tanah Malind, stop PSN , Bahlil otak sawit dan lain-lain.”

Simon Balagaize, Intelektual Malind sekaligus pegiat yang lantang bersuara keras penolakan PSN saat dihubungi suryapapua.com melalui telpon selulernya mengungkapkan, aksi dari masyarakat Malind itu sebagai bentuk penolakan keras terhadap hutan yang telah diobrak-abrik.

“Memamg betul, Mama Elisabeth Ndiwaen bertemu  Ketua Umum PGI dan sambil menangis menyampaikan isi hatinya terkait penolakan PSN di Merauke,” ujar Simon.

Saat menyampaikan aspirasi dihadapan Ketua PGI, demikian Simon, hadir juga Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo.

“Betul sekali, Pak Apolo ada disamping Ketua PGI saat Mama Elisabeth menyampaikan isi hatinya,” jelas Simon.

Simon menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, S.Th, S.Fil,MA yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa kata orang Malind melalui Mama Elisabeth.

Diapun tak menyangka ketika Mama Elisabeth bersuara dengan hati paling mendalam sambil menangis menolak Proyek PSN, para peserta termasuk pendeta lain  dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti Sidang (MPL-PGI), ikut pula meneteskan air mata.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *