Duka Mendalam Atas Kepergian Almarhumah Ibu Adela Gebze, Misa Requiem Di Gereja Santa Theresia Buti Dipadati 1.000-an Orang

Laporan Utama280 views

Merauke, suryapapua.com– Duka sangat mendalam dialami serta dirasakan banyak orang atas berpulangnya Almarhumah Ibu Adela Gebze, setelah menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke Sabtu 26 September 2026 pagi.

Almarhumah Ibu Adela Gebze pergi untuk selama-lamanya meninggalkan suami (Johanes Putong) serta keempat buah hatinya serta keluarga besar Gebze dan Mekiuw.

Dua hari, Almahrumah Ibu Adela Gebze disemayamkan di rumahnya di Gang Antonius, Kampung Buti, Distrik Merauke untuk doakan secara bersama-sama.

Lalu pada Senin (28/09/2026), dilakukan ibadah sekaligus pembacaan riwayat hidup Almarhumah Ibu Adela Gebze.

Selanjutnya dihantar ke Kantor Bupati Merauke, sekaligus dilakukan penghormatan terakhir, lantaran Almahrumah Ibu Adela Gebze adalah seorang Aparatur Sipil Negara dan jabatan terakhir diemban-nya sebelum menghembuskan nafas terakhir adalah Kepala Bagian (Kabag) Kesra Setda Merauke.

Setelah dilakukan penghormatan terakhir, Almahrumah dihantar ke Gereja Katolik Santa Theresia Buti, sekaligus dilanjutkan misa requiem dipimpin Vikjen Keuskupan Agung Merauke, Hendrikus Kariwop, MSC (konselebran utama) didampingi sejumlah pastor.

Misa  requiem dipadati 1.000-an orang, termasuk Wakil Bupati Merauke, Fauzun Nihayah, para pejabat lain serta ASN di lingkungan pemkab setempat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke serta umat dari berbagai tempat.

Almarhumah Ibu Adela Gebze adalah salah satu pengurus inti  di jajaran Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Theresia Buti.

Kontribusi serta pengabdian total serta tulus ditunjukkan almarhumah di gereja selama masih  hidup. Sekecil apapun kegiatan di gereja, almarhumah pasti hadir dan terlibat langsung.

Dengan demikian, umat di Paroki Santa Theresia Buti, merasa sangat kehilangan akan sosok Almarhumah Mama Adela Gebze.

Setelah misa arwah dilangsungkan selama kurang lebih dua jam, almarhumah dibawa ke tempat peristirahatan terakhir, tepatnya di kuburan keluarga di Buti—tak jauh dari gereja.

‘Terimakasih Banyak Mama Adela’

Suasana di depan altar saat perwailan diberikan kesempatan untuk penghormatan kepada almarhumah Ibu Adela Gebze – Surya Papua/Frans Kobun
Suasana di depan altar saat perwailan diberikan kesempatan untuk penghormatan kepada almarhumah Ibu Adela Gebze – Surya Papua/Frans Kobun

Kepergian Almarhumah Ibu Adela Gebze, selain menyisahkan duka mendalam bagi umat setempat, juga Pastor Paroki Santa Theresia Buti, Simon Petrus Matruty.

Dalam khotbahnya, Pastor Matruty mengatakan,” Kehadiran kita semua disini tentu sebagai ungkapan hormat kepada Almarhumah Ibu Adela Gebze. Kita mengenal almarhumah melalui pengalaman pribadi masing-masing.”

“Kita semua ambil keputusan hadir terakhir bersama Mama Adela, karena kita mengenalnya melalui pengalaman masing-masing,” ujarnya.

Bagi Pastor Matruty, ada banyak pengalaman manis, sudah  dialami bersama almarhumah, juga pengalaman pahit. Semua itu hanya tinggal kenangan.

“Di  Gereja (tua) Katolik Buti ini,  kita datang berkumpul bersama– sehati dengan almarhumah, sekaligus menyampaikan selamat jalan. Kita melepaskan dengan rela kepergiannya,” ungkap Pastor Matruty.

Lebih lanjut dikatakan, saat biodata almarhumah dibacakan di rumah duka tadi pagi, dapat diketahui serta dipahami bagaimana dari tahap ke tahap, almarhumah meniti karier.

Juga dalam kehidupan menggereja. Almarhumah lambat laun mulai masuk dalam titik paling sentral di DPP Paroki Santa Theresia Buti yakni seksi liturgi.

Setiap hari Minggu, almarhumah menyiapkan alat- alat misa, gereja dan lain-lain. Dia (almarhumah;red) membuat semuanya dengan penuh cinta.

Almarhumah menginspirasi kata-kata Mother Teresa yakni melakukan segala sesuatu yang kecil dengan cinta besar.

Tubuh dan jasmani rapuh ini, diliputi cinta  besar yang hasilnya dialami dalam kehidipan sebagai seorang ibu, isteri, ASN  serta profesi lain.

Bagi Pastor Matruty, Almarhumah Ibu Adela  Gebze adalah sosok yang tenang dan selalu mengambil keputusan merangkul.

“Kata-katanya selalu mengarah kepada perdamaian. Kata kata yang disampaikan selalu damai. Almarhumah menginginkan agar setiap persoalan dapat diselesaikan dengan baik,” katanya.

“Mama Dela, terimakasih banyak—engkau telah  memberikan kami kualitas hidup seorang Katolik yang membuat kami terus membenahi diri,” katanya.

“Ketika dalam kehidupan kita lakukan melalui perilaku baik, kita sungguh-sungguh menghargai diri sebagai ciptaan Tuhan,” pesan Pastor Matruty.

Diakhir khotbahnya, Pastor Matruty menambahkan, “Mama Adela sudah mengkahiri pertandingan sebagai manusia biasa.”

‘Maafkan Kakak Saya’

Suasana di keburan keluarga saat almarhumah Ibu Adela Gebze akan dimakamkan – Surya Papua/Frans Kobun
Suasana di keburan keluarga saat almarhumah Ibu Adela Gebze akan dimakamkan – Surya Papua/Frans Kobun

Mewakili Keluarga Besar Putong, Gebze, Mekiuw serta Ikatan Keluarga Toraja, Yoseph Bladib Gebze mengungkapkan, almarhumah yang adalah kakak kandungnya, menghembuskan nafas terkahir di RSUD Merauke di usia 53 tahun.

“Bagi kami, 53 tahun adalah waktu awal bersama keluarga dan dilanjutkan hidup berumah tangga sebagai seorang ibu dalam keluarga,” ungkap Yoseph Gebze.

“Banyak hal telah dilalui bersama keluarga serta kakak dan adik. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan. Tentu sebagai manusia, kami merasa sangat sedih, kehilangan atas dipanggil pulang saudari kami terkasih beberapa hari lalu,” kata Yoseph Gebze sambil meneteskan air matanya.

Dalam perjalanan kehidupan almahrumah  baik dalam keluarga juga profesi sebagai ASN maupun kehidupan menggereja serta keaktifan di Paroki Santa Theresia Buti serta organisasi lain termasuk WKRI, anggota ISKA, pasti banyak hal telah dilakukannya.

“Saya sangat tahu, kakak kandung saya ini (almarhumah) tidak banyak bicara serta tak banyak berkomentar,” jelasnya.

Lalu dalam kehidiupan keluarga, almarhumah tak banyak berkomunikasi, tetapi segala sesuatu ditinjukkan melalui sikap.

“Kalau almarhumah tak suka, pasti  akan menghindar, tetapi kalau suka, akan dekat. Namun demikian, dalam kejauhan, almarhumah masih memberikan perhatian, menanyakan kabar setiap saat,” katanya.

“Kesetiaan almarhumah sebagai seorang kakak yang selalu hadir, dimana kami membutuhkannya,” ungkap Yoseph Gebze yang juga Bupati Merauke ini.

Lebih lanjut Yoseph Gebze mengatakan, mungkin dalam kehidupannya, banyak kekurangan dari almarhumah.

Sebagai manusia— dilahirkan dan dibesarkan, tentu memiliki kekurangan.

“Ada maupun perbuatan serta hal lain yang mengurangi makna kehidupan atau menyusahkan baik dalam keluarga maupun kedinasan serta gereja, kami atas nama keluarga menyampaikan permohonan maaf sebesar besarnya,”katanya.

Jika ada hal baik almahrumah lakukan selama hidup,  silahkan diteladani. Kalau ada kekurangan, mohon diakhiri disini. Sehingga anak-anak  bersama suami-nya mendapatkan kekuatan untuk melangkah kedepan.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *