Di Gereja Santa Theresia Buti, Ratusan Krismawan-Krismawati Terima Sakramen Krisma

Laporan Utama385 views

Merauke, Suryapapua.com– Kurang lebih 320 krismawan-krismawati di Gereja Katolik Santa Theresia Buti,  menerima sakramen krisma (penguatan) dari Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC.

Penerimaan sakramen krisma atau penguatan merupakan sakramen Katolik yang menggenapi inisiasi, setelah pembaptisan serta komuni pertama.

Sakramen krisma memberikan karunia Roh Kudus untuk memperkuat iman serta mengikat umat secara lebih erat bersama gereja dan  melengkapi mereka untuk menjadi saksi Kristus.

Sementara itu, dari pantauan suryapapua.com Minggu (23/11/2025), sebelum perayaan dilangsungkan, Uskup Mandagi didampingi Pastor John Kandam serta Pastor Simon Pertrus Matruty bersama petugas dan misdinar, diarak dengan tarian Marind dari depan sakristi.

Lalu bergerak keluar ke jalan dan masuk ke gereja untuk dilangsungkan  perayaan sekaligus penerimaan sakramen krisma.

Para krismawan-krismawati mengenakan pakaian serba putih. Perayaan dipimpin langsung Uskup Mandagi, sekaligus sebagai konselebran utama didampingi Pastor John Kandam serta Pastor Simon Petrus Matuty.

Sebelum perayaan dilangsungkan, perwakilan dua umat (suami-ister) diberikan kesempatan menyerahkan ratusan krismawan-krismawati kepada Uskup Mandagi untuk penerimaan sakramen krisma.

Prosesi perayaan berlangsung hingga puncak penerimaan sakramen krismas. Sebelum satu persatu krismawan-krismawati maju ke depan, didahului pembakaran lilin.

Para krismawan-krismawati yang beeakaian serba putih memadati Gereja Santa Theresia Buti – Surya Papua/Frans Kobun
Para krismawan-krismawati yang beeakaian serba putih memadati Gereja Santa Theresia Buti – Surya Papua/Frans Kobun

Selanjutnya mereka berbaris rapi dan maju ke depan, lalu diurapi dengan minyak krisma (minyak suci yang diberkati) oleh Uskup Mandagi.

Tindakan pengurapan itu sebagai lambang pencurahan Roh Kudus yang menandai, menguatkan, menyempurnakan rahmat pembaptisan serta mempersatukan mereka lebih erat bersama Kristus dan gereja.

Dalam khotbahnya, Uskup Mandagi mengatakan,”Kita bertindak dan bertumbuh kepada Kristus. Tindakan- tindakan kita, harus bertumpuh kepada Kristus sebagai Raja Alam.”

Dalam bacaan injil, demikian Uskup Mandagi, kata-kata seorang penjahat yang disalibkan bersam Yesus berkata, “Yesus ingatlah akan daku, apabila engkau datang sebagai Raja.”

“Lalu Yesus berkata  kepadanya, sesunggunya hari ini juga, engkau akan bersama aku dalam firdaus.”

Penjahat tersebut,  mengakui kesalahannya. Dia sadar dan bertobat serta percaya kepada Kristus. Dimana Kristus akan memberikan firdaus kepadanya, juga kedamaian serta keselamatan.

Lebih lanjut Uskup Mandagi menegaskan, kejahatan hanya merusak manusia, tetapi  harus percaya dan hidup seperti Kristus dalam cinta kasih. Itulah menjadi jalan kepada firdaus—kebahagiaan serta keselamatan kekal.

Krismawan-krismawati sedang menerima komuni dalam perayaan di Gereja Santa Thereresia Buti – Surya Papua/Frans Kobun
Krismawan-krismawati sedang menerima komuni dalam perayaan di Gereja Santa Thereresia Buti – Surya Papua/Frans Kobun

“Kita boleh belajar dari penjahat, tetapi belajar akan sikapnya. Dia bertobat dan tak putus asa,” katanya.

Sering kali, menurut Uskup Mandagi,  dosa membuat umat putus asa. Namun  harus belajar dari penjahat  yang bertobat dan percaya kepada Yesus.

Hari Raya Kristus Raja Smesta Alam yang diperingati seluruh Gereja Katolik hari ini, jelasnya, harus menjadi titik penting dalam umat bahwa  Yesus adalah Raja. Ajarannya menjadi raja terlebih  tentang cinta kasih.

“Kita sesantiasa mengampuni sesama, namun harus menjadi raja dalam kehidupan dan suka menolong. Juga  menjadi raja dalam kehidupan seperti yang ditunjukan Yesus,” pintanya.

Uskup Mandagi kembali mengkritik, sering kali ia melihat orang lebih mengutamakan materi-uang.

“Betul kita butuh uang, tetapi  jangan dengan cara korupsi. Kadang juga melupakan Kristus dan mengutamakan kekayaan. Kita kaya tetapi tidak halal saat mendapatkan,” tegasnya.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *