Dari Rekoleksi Hingga Persiapan Pelantikan Calon Pengurus Enam Lingkungan, Stasi dan Kombas di Paroki Santa Theresia Buti-Merauke

Laporan Utama320 views

Merauke, suryapapua.com– Sabtu (03/10/2026) menjadi moment penting bagi para calon pengurus enam lingkungan, stasi hingga komunitas basis (Kombas) Dahuda di Paroki Santa Theresia Buti-Merauke mengikuti rekoleksi yang dilangsngkan di pendopo  gereja.

Rekoleksi diberikan Pastor Felix Amias, MSC selama beberapa jam dalam suasana kekeluargaan yang sangat ‘kental.’

Tampak puluhan calon pengurus baru dengan serius mengikuti pemaparan materi Pastor Felix, sebelum akan dilantik dalam perayaan misa di Gereja Santa Theresia Buti Minggu 4 Oktober 2026.

Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Theresia Buti, Izaak Layaan  menyampaikan terimakasih kepada Pastor Felix yang telah meluangkan waktu untuk hadir, sekaligus memberikan rekoleksi.

“Terimakasih juga kepada calon pengurus lingkungan, stasi maupun Kombas—baik wajah lama serta baru yang hadir secara langsung mengikuti rekoleksi, sebelum dilantik besok pagi dalam perayaan misa di Gereja Sabta Theresia Buti,” ungkap Layan.

Sekretaris DPP Paroki Santa Theresia Buti, Krispinus Palobo saat bersama pengurus – Surya Papua/Frans Kobun
Sekretaris DPP Paroki Santa Theresia Buti, Krispinus Palobo saat bersama pengurus – Surya Papua/Frans Kobun

Tuhan, lanjut Layan, menggerakkan hati calon pengurus agar terus membimbing semuanya untuk berkarya melayani siapa saja di Paroki Santa Theresia Buti.

“Kita meminta Pastor Felix membawa renungan sekaligus bimbingan rohani dengan  mengusung tema, “Menjadi alat Tuhan membangun Gereja Paroki Santa Theresia Buti-Merauke yang baik dan sehat.”

“Memang ketika kita menjadi alat Tuhan tidak-lah  mudah. Karena  dalam hidup, banyak pilihan  hingga membuat kita konsentrasi memilih melayani Tuhan, belum sepenuhnya terjadi,” kata dia.

Meski demikian, Layan yakin bahwa setiap pribadi yang hadir hari ini, secara  perlahan menentukan sikap untuk setia dan serius melayani Tuhan melalui peran di lingkungan, stasi maupun Kombas kedepan.

Untuk di tingkat paroki, demikian Layan, hanya pada tataran tingkatan koordinasi serta menangani kegiatan, sekaligus tempat berkumpul, tetapi pelayanan lebih banyak ada di lingkungan, stasi dan Kombas.

Renungkan Pengalaman

Pastor Felix Amias, MSC sedang memberikan rekoleksi – Surya Papua/Frans Kobun
Pastor Felix Amias, MSC sedang memberikan rekoleksi – Surya Papua/Frans Kobun

Sementara Pastor Felix Amias, MSC  dalam pemaparan materinya mengatakan, rekoleksi merupakan kegiatan olah rohani atau pembinaan iman singkat guna merenungkan kembali pengalaman hidup dalam terang Tuhan.

Dimana, lanjutnya, merenungkan kembali atas pengalaman yang telah dilalui. Mengapa? Karena pengalaman adalah guru baik yang mengajarkan untuk membedakan mana baik – mana buruk, mana benar – mana salah, mana menyelamatkan – mana mencelakakan.

Lebih lanjut Pastor Felix menjelaskan, banyak orang beriman semakin cenderung melupakan pengolahan diri. Sehingga sulit menemukan pilihan-pilihan hidup yang tepat, berguna, membahagiakan dan menyelamatkan.

“Kita akan merenungkan diri sesuai tema rekoleksi yaitu menjadi alat Tuhan dan membangun gereja yang baik dan sehat,” katanya.

Menurut buku iman Katolik, manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa serta roh. Tubuh adalah badan secara fisik seperti terlihat.

Sedangkan jiwa adalah pikiran atau akal budi yakni kekuatan tak terlihat yang dapat mempengaruhi orang lain.

Jiwa merupakan ruang pertemuan antara Tuhan dan manusia, lantaran  dengan ruang jiwa ini, manusia beriman kepada Tuhan.

Pastor Felix juga menguraikan, menjadi alat Tuhan itu mengandaikan bahwa aspek tubuh, jiwa dan roh terpelihara secara baik.

“Tak mungkin menjadi alat Tuhan bila tubuh tidak terpelihara baik. Jiwa yang mencakup pikiran atau akal budi tidak sehat. Dan, menjauhi karya roh (tak ikut sembahyang),” katanya.

Calon pengurus dari perwakilan lingkungan yang hadir dalam katekese – Surya Papua/Frans Kobun
Calon pengurus dari perwakilan lingkungan yang hadir dalam katekese – Surya Papua/Frans Kobun

Selanjutnya, “Menjadi alat Tuhan, kita perlu menjadikan diri kita sebagai alat unggul, bukan alat palsu atau abal-abal atau asal jadi.”

Pertama-tama adalah  mulai dari mengola diri sebagai manusia biasa atau manusia jasmani.

“Apakah kita sudah cukup menyadari dinamika diri dan menguasai diri kita? Pada kenyataannya, entah sadar atau tidak, diri setiap orang ada semacam pertempuran untuk saling merebut kekuasaan yaitu kuasa angel (malaekat) dan kuasa denom (roh halus yang jahat),” ujarnya.

Dijelaskannya, untuk  menjadi alat Tuhan berarti menyerahkan hidup yaitu perkataan dan perbuatan agar dipakai Allah sebagai perantara dalam menyatakan kasih, kebenaran dan rencana-Nya kepada sesama. Bukan menjadikan Tuhan sebagai alat untuk tujuan duniawi.

“Menjadi Alat Tuhan juga artinya siap dibentuk dan digunakan oleh Tuhan,” tandasnya.

Pastor Felix kembali mengungkapkan, Kualitas diri macam apa yang harus  dimiliki setiap orang agar dapat menjadi Alat Tuhan?

“ Ini pertanyaan pertama harus ditanyakan pada diri sendiri untuk menyadari kesiapan  sebelum bekerja bagi orang lain. Mengapa? Walaupun kita mempunyai cita-cita mulia tetapi tidak mempunyai sumber daya diri, maka cita-cita itu hampa dan tak berguna,” tegasnya.

Kata orang bijak, “Nemo dat quod non habet (tak seorang pun dapat memberikan apa yang tidak dipunyainya).”

Lalu, lanjutnya, “Mengap kita harus mengolah dan mengenal diri? Karena biasanya persoalan hidup itu terjadi karena sumber daya diri manusianya tidak terkelola baik, termasuk kehidupan beriman.”

Salah satu yang sangat berdampak ialah pikiran atau mindset bila terkelola  baik, maka masalah apa pun dapat diatasi.

Sebaliknya, kalau tidak terkelola  secara baik, hal kecil dan sederhana pun bisa besar dan membahayakan kehidupan, termasuk kehidupan beriman.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *