Merauke, suryapapua.com– Anggota Komisi IV DPR RI, H. Sulaeman Hamzah menyelenggarakan bimbingan teknis (bimtek) kewirausahaan dan akses permodalan diikuti kurang lebih 50 peserta.
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Aspirasi Sulaeman L. Hamzah Senin (02/11/2026) itu, dihadiri Wakil Bupati Merauke, Fauzun Nihayah, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DORD) setempat, Samuel Mugujay serta sejumlah anggota dewan dari Fraksi Partai NasDem, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Leunard Rumbekwan serta beberapa pembicara.
Dirjen Penguatan Daya Saing Kementerian Kelautan dan perikanan RI, Ali R. Imam santoso menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada anggota Komisi IV DPR RI, H. Sulaeman Hamzah yang telah menyelenggarakan bimbingan teknis di Kabupaten Merauke dengan menghadirkan puluhan peserta (pelaku usaha).
“Semoga kegiatan dimaksud dapat membawa berkat serta manfaat bagi kita semua, terutama para peserta yang memperoleh ilmu selama bimtek untuk dibawa pulang dan diterapkan,” katanya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Leunard Rumbekwan mengaku, sejumlah kegiatan melalui pendampingan, pembinaan serta pemberdayaan kepada para pelaku usaha sudah dijalankan dan atau dilaksanakan.
Hanya saja, menurut dia, masih terkendala dari kewirausahan. Mengapa? Karena yang dibutuhkan adalah kemandirian dari para pelaku usaha perikanan.
“Kami mencoba melakukan kerjasama dengan beberapa dinas guna membuka jalur akses pasar terkait produk unggulan daerah,” jelasnya.
Diharapkan perusahan-perusahan perkebunan kelapa sawit, menjadi akses pasar kewirausahan bagi pelaku usaha dari sektor perikanan.
Jika pemerintah mendorong usaha, namun belum memberikan akses pasar, itu juga menjadi masalah.
Rumbekwan mengaku telah berkomunikasi dengan PT BIA dan mereka bersedia membeli dan menampung produk unggulan ikan untuk konsumsi bagi karyawan.
Hanya saja, salah satu persoalan dihadapi adalah capaian produksi. “Kami coba dorong di beberapa kampung di Muting agar menjadi pemasok ikan di sejumlah perusahan kelapa sawit, namun permintaan disana sangat tinggi,” katanya.
Produksi ikan dari masyarakat, lanjutnya, hanya 100 kg per bulan—sementara pasar atau permintaan sejumlah perusahan perkebunan kelapa sawit di sana sangat tinggi berkisar antara 400-500 kg/bulan.
Ketua DPRD Merauke, Samuel Mugujay meminta peserta dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Karena manfaatnya sangat besar didapatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Terimakasih banyak kepada Bapak Sulaeman Hamzah yang telah menginisiasi dan memrakarsai kegiatan Bimtek. Beliau (Bapak Sulaeman) selalu melihat kita di Merauke dengan membawa program nyata bagi rakyat,” ujarnya.
Pasar Jadi Kendala

Wakil Bupati Merauke, Fauzun Nihayah menegaskan, saat ini semua dituntut untuk bagaimana melakukan inovasi serta kreativitas dalam mengola hasil ikan.
“Kita memang tidak kekurangan ikan, hanya yang sering menjadi persoalan adalah pangsa pasar,” katanya.
“Atas nama Pemkab Merauke, saya menyampaikan terimakasih dan apresiasi luar biasa kepada Bapak H. Sulaeman Hamzah yang hari ini menyelenggarakan Bimtek,” ungkapnya.
Tujuannya tidak lain agar para pelaku usaha di bidang perikanan, terutama ibu rumah tangga, bisa meningkatkan wira-usahanya dan tahu bagaimana cara mengakses permodalan.
Bagi Wabup Fauzun, paling penting adalah bagaimana hasil diolah para pelaku usaha dapat dipasarkan.
“Sering kali menjadi curhatan masyarakat adalah hasil kami banyak, tetapi tak bisa menjual—memasarkan dengan baik,” katanya.
Diakui Wabup Fauzun, banyak program perikanan dibantu Anggota Komisi IV DPR RI, Fauzun Nihayah untuk masyarakat di Kabupaten Merauke.
Namun demikian, sering kali masyarakat tidak paham usulan meskipun berulang kali disampaikan—salah satunya adalah harus ada kelompok yang dibentuk terlebih dahulu.
Masalah SDM

Anggota Komisi IV DPR RI, H. Sulaeman L. Hamzah menegaskan, salah satu persoalan dihadapi adalah sumber daya manusia (SDM). Ini menjadi suatu tantangan untuk kedepannya agar lebih diperhatikan.
Lebih lanjut Sulaeman mengatakan, para pelaku usaha adalah petarung. Olehnya harus mempersiapkan diri secara baik.
Juga bagaimana wirausaha menciptakan sesuatu usaha baru yang bisa mengisi pasar.
Ketika sesuatu dihasilkan dan ternyata tidak laku dipasar, dipastikan akan mubazir.
Apalagi, menurutnya, pelaku usaha dibebankan dengan kredit bank, sekalipun bunga kecil.
Jika hasilnya tidak terjual dan uang tak berputar, usahanya akan macet. Lalu dampaknya adalah pembayaran cicilan macet serta usaha yang dikembangkan dipastikan tak berkembang. Ini adalah tantangan.
Ditambahkannya, hasil usaha tidak hanya ditentukan cita rasa produksi, tetapi lebih dari itu kepada kemasan yang ikut berpengaruh dan menentukan.
“Kenapa? Karena pasar juga melihat. Dimana barang yang akan dibeli, berkualitas dan promosinya juga menarik perhatian,” ujarnya.
Penulis : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun









