Ketulusan Hati Mengabdi Sebagai Guru 14 Tahun di SD YPPK Wayau, Lukas Leu Apelaby Dilepas Secara Adat Malind

Laporan Utama402 views

RASANYA sangat berat bagi masyarakat di Kampung Wayau, Distrik Anim Ha, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan melepaskan Lukas Leu Apelaby, guru sekaligus Kepala Sekolah SD Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) Wayau.

Tentu ada alasan mendasar bagi masyarakat Malind disana untuk melepaskan guru tersebut, karena mereka merasa ‘berhutang budi’ akan jasa besar serta bimbingan yang telah dilakukan terhadap anak-anaknya  hingga menghantar beberapa diantaranya menjadi ‘manusia.’

Selain itu, karena masyarakat di Wayau telah menganggap Lukas Leu Apelabi sebagai bagian dari keluarga.

Mengapa? Karena selama mengabdikan diri selama 14 tahun di SD YPPK Wayau hingga pensiun 31 Desember 2025, jarang sekali ia  meninggalkan tugas sebaai seorang pendidik.

Sebagai ucapan terimakasih, sekaligus melepas Lukas Leu Apelabi— guru  berdarah asli  salah satu kampung di Kedang, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu,  masyarakat setempat melakukan ritual adat.

Saat diwawancara suryapapua.com melalui telpon selulernya Rabu (21/01/2026), Lukas Leu Alepabi menceriterakan perjalanan hidupnya sebagai seorang guru hingga pensiun.

Awalnya, menurut Lukas, dirinya adalah guru biasa di SDI Erom tahun 1998 (kurang lebih 6 tahun mengabdikan diri sebagai pendidik).

Masyarakat Malind sedang menyiapkan atribut adat sekaligus melepas Lukas Leu Apelabi – Surya Papua/IST
Masyarakat Malind sedang menyiapkan atribut adat sekaligus melepas Lukas Leu Apelabi – Surya Papua/IST

Lalu pindah ke SDI Jagebob 8 (Agrindo). Dari situ ke SDI Jagebob Raya 10 tahun sebagai kepala sekolah.

Selanjutnya tahun 2012, dipindahkan sebagai Kepsek SD YPPK Wayau hingga 2025 (pensiun) disana.

“Kurang lebih 14 tahun, saya mengabdikan diri sebagai guru sekaligus kepala sekolah di SD YPPK Wayau sampai pensiun,” tutur suami dari Marselina Tuka Lewokume ini.

Lukas mengaku, dirinya paling lama bahkan sampai pensiun mengabdikan diri di depan kelas bersama anak-anak di SD YPPK Wayau.

Tentu banyak suka-duka dialami serta dirasakan Lukas Leu ketika menjalankan tugas serta tanggungjawab sebagai seorang guru belasan tahun di sekolah itu.

“Memang saya jarang sekali turun ke kota atau meninggalkan tugas sebagai seorang guru untuk membimbing—mendampingi anak-anak Malind di SD YPPK Wayau,” ujarnya.

Dalam sebulan, menurutnya, hanya dua atau tiga hari di kota, itupun karena urusan dinas di kantor. Selebih-nya akan selalu berada dengan anak-anak maupun masyarakat di Kampung Wayau.

Dia mengaku lebih memilih betah tinggal bersama anak-anak di Kampung Wayau yang adalah orang Malind, sekaligus menjalankan tugas sebagai seorang guru.

“Saya betah di kampung, karena anak-anak juga sangat bersemangat masuk sekolah. Lalu secara umum, mereka memiliki kemampuan—kecerdasan sangat  luar biasa,” jelasnya.

Lukas Leu Apelabi saat bersama anak-didiknya di SD YPPK Wayau – Surya Papua/IST
Lukas Leu Apelabi saat bersama anak-didiknya di SD YPPK Wayau – Surya Papua/IST

Meskipun memiliki karakter sedikit berbeda dengan anak-anak Nusantara lain, tetapi ada niat serta semangat tinggi dari mereka (anak-anak Malind;red) untuk  ke sekolah serta belajar.

Tidak dapat dipungkiri kalau anak-anak Malind saat mengikuti kegiatan belajar mengajar tidak tenang di kelas, namun sebagai seorang guru, harus bisa menasehati sekaligus menuntun mereka secara terus menerus.

“Saya bekerja dengan hati sebagai seorang guru. Dimana tidak hanya fokus berdiri di depan kelas mengajar, tetapi terus menghantarkan anak-anak agar menjadi berhasil,” katanya.

Hasilnya-pun berbuah manis. Dimana  selama 14 tahun menjadi guru di Wayau, banyak sudah tamat SMA hingga melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Bahkan dari sekian banyak itu, dua diantarannya yakni Yanuarius Mahuze telah menjadi TNI Angkatan Darat serta Valentinus Mahuze (TNI Angkatan Laut).

Masih ada satu lagi yakni Andreas Mahuze mengikuti testing menjadi anggota. Beberapa kali sudah ikut test, hanya belum berhasil, namun terus diberikan motivasi.

“Saya bersama isteri masih mendampingi Andreas sampai sekarang mengikuti testing menjadi tentara,” katanya.

Untuk jumlah anak-anak di SD Wayau yang diketahui Lukas hingga pensiun 100 orang dari kelas I-VI. Sementara gurunya 8 orang termasuk tiga diantaranya berstatus PNS.

Dilepas Secara Adat Malind

Lukas Leu bersama isterinya usai riyual adat masyarakat Malindi Kampung Wayau – Surya Papua/IST
Lukas Leu bersama isterinya usai riyual adat masyarakat Malindi Kampung Wayau – Surya Papua/IST

Lebih lanjut Lukas mengaku, dirinya bersama isteri hanya ingin berpamitan dengan masyarakat Kampung Wayau  serta anak didik untuk pulang ke Gurinda Jaya (Jagebob), karena telah memasuki masa pensiun terhitung tanggal 31 Desember 2025 lalu.

Hanya saja, masyarakat dari Kampung Wayau serta Kampung Kaliki melakukan ritual adat terlebih dahulu, sekaligus melepas secara resmi Lukas Leu untuk kembali berkumpul bersama keluarganya di Jagebob, lantaran telah memasuki masa pensiun.

“Kenapa dua kampung membuat ritual adat kepada saya bersama isteri, karena Valentinus Mahuze yang telah masuk dan diterima sebagai prajurit TNI AL bersaal dari Kampung Kaliki,” tandasnya.

Sebelum ritual adat dilangsungkan tanggal 9 Januari 2026, masyarakat dari dua kampung membawa semua atribut adat-nya mulai dari tebu, pisang, sagu dan lain sebagainya.

“Lalu saya bersama isteri dipersilahkan duduk, sekaligus diletakan semua atribut adat dari ujung kaki hingga bagian leher. Itu semua  sebagai bentuk ucapan terimakasih mereka,” kata Lukas.

Awalnya, ia (Lukas;red) sempat takut—khawatir, karena merasa tidak pantas untuk dilakukan ritual adat. Namun pada akhirnya merasa senang diserrtai bangga, karena semua itu atas ketulusan masyarakat Malind dari dua kampung.

“Ya, saya tanya langsung ke tokoh adat dua kampung, dan mereka jujur menyampaikan bahwa apa yang dilakukan adalah sebagai bentuk ucapan terimakasih kepada saya  lantaran 14 tahun membimbing serta mendudik anak-anaknya dengan baik,” ungkap dia.

Kini Lukas Leu Apelaby bersama sang isteri tercinta yang mendampingi-nya 14 tahun di Kampung Wayau, telah kembali ke Jagebob sekaligus  tinggal bersama anak-anaknya menikmati masa pensiun.

Terimakasih banyak untuk jasa besarmu Pak Lukas Leu Apelabi. Jejak kaki  serta pengabdian tulusmu selama 14 tahun, akan terus dan selalu diingat-dkenang anak didikmu maupun masyarakat di Kampung Wayau yang nota bene adalah orang Malind.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *