Perarakan Kanak-Kanak Yesus ke Enam Lingkungan, Kombas dan Stasi di Wilayah Paroki Santa Theresia Buti-Merauke, Pastor Sipe: Luar Biasa Animo Umat

Laporan Utama156 views

Merauke, Suryapapua.com-Hal unik dan baru kembali dilancarkan Pastor Paroki Santa Theresia Buti-Merauke, Simon Petrus Matruty.

Betapa tidak, Pastor Sipe, panggilan akrabnya mengambil inisiatif dan atau langkah-terobosan sedikit berbeda pada peringatan Hari Penampakan Tuhan 4 Januari 2026.

Penampakan ditandai kunjungan Tiga Raja yakni Gaspar, Melkior dan Baltasar di Kandang Betlehem sekaligus menjumpai Yesus.

Ketiganya mempersembahkan emas, kemenyan serta mur. Penampakan merupakan suatu tindakan yang dikenang karena Tuhan Yesus tidak hanya datang untuk orang Israel, tetapi seluruh bangsa.

“Tandanya adalah Tiga Raja dari Timur bukan Israael. Mereka datang dituntun bintang. Itu berarti Allah sendiri menuntun mereka menjumpai Yesus di Betlehem,” ungkap Pastor Sipe saat dihubungi suryapapua.com melaui polselnya Minggu (04/01/2026).

Hari Raya Penampakan, demikian Pastor Sipe, dihidupi dalam Gereja Katolik dengan mengambil tindakan tiga majus melalui mencium Kanak-Kanak Yesus dalam gereja.

Perarakan Kanak-Kanak Yesus oleh umat di Stasi Payum – Surya Papua/IST
Perarakan Kanak-Kanak Yesus oleh umat di Stasi Payum – Surya Papua/IST

“Nah, saya menyadari bahwa kalau kita mencium Yesus dalam gereja saja, sudah pasti sedikit umat datang,” jelasnya.

Di sejumlah tempat atau daerah lain, menurut Pastor Sipe, umat menghantar Kanak-Kanak Yesus dari rumah ke rumah, sekaligus dilakukan penciuman.

Dari aspek pastoral, Tuhan Yesus menjumpai keluarga. Dan, keluarga mencium Yesus, sekaligus memberikan persembahan derma sebagai tanda mereka sungguh sungguh milik Tuhan Yesus.

“Jadi, umat tak persembahkan emas, mur dan kemenyan seperti tiga raja, tetapi mereka mempersembahkan apa yang  dipunyai terbaik,” katanya.

Tindakan dimaksud, lanjut Pastor Sipe, dibuat di enam lingkungan , satu kombas serta stasi Payum dalam wilayah Paroki Santa Theresia Buti.

“Saya mengakui juga hal ini baru dilakukan di Paroki Santa Theresia Buti, sehingga banyak umat belum memahami. Olehnya kedepan sosialisasi harus terus digenjot dan atau ditingkatkan,” ungkapnya.

Suasana di rumah umat saat Kanak-Kanak Yesus diarak ke setiap lingkungan – Surya Papua/IST
Suasana di rumah umat saat Kanak-Kanak Yesus diarak ke setiap lingkungan – Surya Papua/IST

Meski begitu, Pastor Sipe memuji animo umat yang sangat tinggi hari ini  menerima Anak Yesus dengan sukacita,  sekaligus mencium serta memberikan derma.

“Semua derma yang diberikan umat, akan dikumpulkan dan menjadi sumbangan pembangunan Gereja Baru Santa Theresia Buti yang sedang berlangsung sekarang,” tandasnya.

Bagi Pastor Sipe, keterlibatan umat, sangat luar biasa.  Mereka menerima Yesus dengan sukacita.

“Saya harus akui ada beberapa lingkungan, umat tak siap  lantaran sedang tidak berada di rumah,” tegasnya.

Umat Lingkungan Cecilia foto bersama usai prosesi perarakan dan cium Kanak-Kanak Yesus – Surya Papua/IST

Umat Lingkungan Cecilia foto bersama usai prosesi perarakan dan cium Kanak-Kanak Yesus – Surya Papua/IST

Tetapi secara keseluruhan, antusiasnya sangat tinggi dengan saling memanggil untuk datang mencium Yesus—itu luar biasa.

“Kedepan kita harus lebih siap lagi. Caranya adalah menerima Yesus  sesuai tradisi masing-masing,” ujarnya.

Sebut saja, umat di lingkungan Cecilia, mereka mengenakan atribut adat sendiri. Begitu juga Lingkungan Wilhelmus— pakaian adat Mappi, Yohanes Pembaptis menggunakan atribut  Asmat serta lain-lain.

“Saya punya harapan tahun depan pada  minggu pertama bulan Januari diwarnai kegiatan penampakan Yesus yang luar biasa—itu keyakinan saya sendiri,” katanya.

Umat di setiap lingkungan yang mengarak Kanak-Kanak Yesus – Surya Papua/IST
Umat di setiap lingkungan yang mengarak Kanak-Kanak Yesus – Surya Papua/IST

Penulis : Frans Kobun

Editor    : Frans Kobun

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *