PERKEMBANGAN teknologi saat ini tidak dapat dihindari. Hampir seluruh sektor kehidupan mengalami transformasi signifikan akibat kemajuan teknologi digital, termasuk sektor pendidikan.
Pemanfaatan berbagai platform digital seperti media sosial, aplikasi pembelajaran hingga kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari proses belajar-mengajar.
Berdasarkan data Kemendikbudristek dan BPS tahun 2023, sekitar 73,7% sekolah di Indonesia telah memiliki akses internet.
Sementara itu, lebih dari 60% guru, terutama sejak pandemi COVID-19, mulai menggunakan platform digital seperti Learning Management System (LMS) dalam kegiatan pembelajaran.
Di tingkat pendidikan tinggi, penggunaan teknologi berkembang lebih kompleks. Salah satu yang paling menonjol adalah pemanfaatan ChatGPT, sebuah chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan oleh OpenAI.
ChatGPT dirancang untuk memahami dan merespons teks dalam berbagai konteks dan kini menjadi salah satu alat bantu populer bagi mahasiswa dalam menyelesaikan tugas, membuat esai, hingga menyusun karya ilmiah.
Keunggulan utamanya terletak pada kemampuannya dalam menghasilkan teks yang terstruktur, koheren, dan tampak akademis dalam waktu singkat.
Potensi ChatGPT dalam meningkatkan literasi menulis sebenarnya cukup besar. Mahasiswa dapat memanfaatkan AI ini untuk menyusun kerangka tulisan, mencari referensi awal, memperbaiki struktur kalimat, dan mengembangkan ide.
Dalam studi oleh OpenAI pada tahun 2023 disebutkan bahwa penggunaan alat bantu AI dapat meningkatkan kecepatan penyelesaian tugas tulis hingga 40% dan memperbaiki kualitas struktur teks secara signifikan.
Sebuah penelitian oleh Stanford University (2023) juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang menggunakan AI dengan pendekatan kolaboratif (bukan sebagai penulis penuh) mengalami peningkatan skor dalam asesmen menulis sebesar 18%.
Namun, realita di lapangan menunjukkan adanya tantangan. Berdasarkan observasi pribadi saya sebagai dosen pembimbing di salah satu perguruan tinggi di Papua Selatan, dari 30 mahasiswa yang menulis karya ilmiah, sebanyak 25 orang (83,3%) sangat bergantung pada ChatGPT untuk menyusun hampir seluruh isi tulisannya.
Ketika ditanya mengenai struktur argumen atau dasar teori yang mereka gunakan, sebagian besar tidak mampu menjelaskan secara kritis.
Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk melewati proses berpikir mendalam dan menulis mandiri, yang seharusnya menjadi bagian penting dari pendidikan tinggi.
Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya pembinaan literasi kritis terhadap teknologi.
Literasi menulis bukan hanya tentang kemampuan menyusun kata atau paragraf, tetapi tentang proses berpikir, menganalisis, dan menyusun argumen berdasarkan pemahaman terhadap topik.
Jika mahasiswa hanya menyalin teks dari AI tanpa memahami isinya, maka sesungguhnya tidak terjadi proses belajar yang bermakna.
Padahal, keterampilan menulis akademik adalah fondasi penting untuk membentuk kemampuan bernalar, menilai informasi, dan menyampaikan gagasan secara sistematis.
Selain itu, penggunaan AI yang berlebihan juga berpotensi mengaburkan batas antara keaslian dan plagiarisme.
Meskipun ChatGPT menghasilkan teks baru, penggunaan tanpa pengakuan dan tanpa pemahaman terhadap konten yang dihasilkan dapat menimbulkan persoalan etika akademik.
Universitas dan lembaga pendidikan perlu segera merumuskan kebijakan yang tegas namun edukatif tentang batasan penggunaan AI dalam tugas-tugas akademik.
Hal ini penting untuk menjaga integritas ilmiah dan membimbing mahasiswa dalam penggunaan teknologi secara etis.
Namun, bukan berarti ChatGPT harus dijauhi atau dilarang. Justru, pendekatan terbaik adalah mengintegrasikan ChatGPT sebagai alat bantu edukatif yang digunakan secara sadar dan bertanggung jawab.
Misalnya, dosen bisa meminta mahasiswa mencantumkan bagian mana dari tulisannya yang dibantu oleh AI, serta memberikan refleksi tertulis mengenai proses berpikir mereka setelah berdiskusi dengan ChatGPT.
Dengan cara ini, mahasiswa tetap melalui proses belajar sambil memanfaatkan teknologi secara bijak.
Selain sebagai alat bantu menulis, ChatGPT juga dapat digunakan dalam pembelajaran kolaboratif. Mahasiswa dapat diminta untuk menguji argumen yang mereka bangun dengan berdiskusi bersama AI, lalu membandingkannya dengan hasil diskusi kelompok.
Pendekatan ini bukan hanya meningkatkan kemampuan menulis, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir kritis, kerja sama dan komunikasi.
Dalam jangka panjang, strategi ini bisa menciptakan generasi penulis muda yang tidak hanya cepat, tetapi juga tajam dan reflektif.
Di sisi lain, dosen dan pendidik juga perlu mengembangkan kompetensi literasi digital mereka agar tidak tertinggal dari mahasiswa.
Pemahaman terhadap cara kerja AI, keterbatasannya, serta potensi manfaatnya, akan membantu dosen dalam merancang tugas, rubrik penilaian dan sesi diskusi yang lebih relevan di era digital.
Hubungan antara dosen dan mahasiswa pun dapat lebih setara dan saling belajar, menciptakan lingkungan akademik yang adaptif dan dialogis.
Pada akhirnya, ChatGPT dan teknologi AI lainnya adalah bagian dari masa depan pendidikan yang tidak bisa dihindari.
Ketimbang menjadi musuh, AI dapat menjadi mitra dalam meningkatkan kualitas literasi menulis mahasiswa jika digunakan dengan pendekatan reflektif, etis, dan kritis.
Dunia pendidikan perlu menanamkan pemahaman bahwa teknologi hanyalah alat—yang menentukan hasilnya tetaplah manusia di balik layar, dengan semangat belajar dan kejujuran akademik yang kuat.
Penulis :
Ekfindar Diliana, S.Pd., M.Li
Dosen Tetap Universitas Musamus Merauke