PH Tanah Rendah Hingga Kesulitan Pupuk, Petani Menjerit Gagal Panen

Ragam236 views

Merauke, Suryapapua.com– Petani di Kampung Salor Indah, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan sedang ‘menjerit’ lantaran  panen mereka jauh dari harapan, bahkan tak ada hasil didapatkan, padahal biaya yang dikeluarkan mulai dari mengola, menanam dan merawat padi nilainya tidak sedikit.

Selain persoalan curah hujan tinggi, juga tanah masam atau tanah yang memiliki pH rendah, juga ketersediaan pupuk tidak mendukung untuk proses  pemupukan.

Perwakilan Petani di Kampung Salor indah, Sudirman saat dialog bersama Bupati Merauke, Romanus Mbaraka beberapa hari lalu menjelaskan, secara umum petani disini mengalami gagal panen.

“Saya sendiri membuka tiga hektar, namun tak mendapatkan hasil apa-apa. Ya mau bagaimana, harus menerima kenyataan,” ungkap Sudirman saat berbicara.

Dikatakan, akibat curah hujan tinggi dalam tiga tahun terakhir, berdampak terhadap pH tanah  dibawah sekali atau rendah. Sehingga dipastikan hasil tanam padi oleh petani mengalami kegagalan.

Persoalan lain, jelas dia, menyangkut pupuk. Antara urea, NPK serta ponska yang dibeli petani dari pengecer tak seimbang.

“Kalau kita beli di toko atau pengecer, dilayani  dua kintal NPK ponska serta lima kintal urea.  Sehingga ketika dilakukan pemupukan, bukannya padi tambah subur tetapi justru rusak. Mestinya ada pupuk SP-36, sehingga ada keseimbangan,” jelasnya.

“Dua hal penting ini saya sampaikan kepada Bapak Bupati Merauke sekiranya ada solusi atau jalan keluar diambil pemerintah dalam menghadapi musim tanam berikut,” pintanya.

Menanggapinya, Bupati Merauke, Romanus Mbaraka menjelaskan, sebagian besar petani dalam musim tanam sekarang mengalami gagal panen atau hasil yang dipanen tak sesuai harapan.

“Memang itu factor alam. Namun demikian saya tetap memberikan motivasi kepada petani agar tidak putus asa, tetapi harus mempersiapkan lahan untuk musim tanam berikut,” katanya.

Sehubungan dengan pupuk, demikian Bupati Mbaraka, akan tetap menjadi perhatian serius pemerintah di musim tanam berikutnya.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *