Memupus Kesenjangan di Papua Lewat CSR

TSE GROUP197 views

BELUM lama ini, sebuah video yang menampilkan seorang murid kelas 6 Sekolah Dasar (SD) asal Papua menjadi dosen mata kuliah kalkulus di Universitas Cenderawasih viral di media sosial.

Murid itu atas nama Jose Nerotau yang merupakan murid dari Prof Yohanes Surya, seorang ahli fisika legendaris yang mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak Papua.

Kecerdasan Jose Nerotau yang memukau banyak orang sudah cukup membuktikan bahwa mutiara kecil Papua juga bisa cemerlang jika diasah dan diberikan kesempatan sama seperti anak-anak lainnya.

Harapan lahirnya Jose Nerotau lain dari rahim ibu Papua tentu mengalir deras agar masyarakat Papua bisa berdaya dan membangun tanah kelahirannya.

Dari sudut pandang perusahaan, CSR (Corporate Social Responsibility) menjadi alat yang ampuh untuk mengatasi kesenjangan pembangunan sekaligus membina hubungan yang harmonis dengan masyarakat.

Lewat sinergi aspek sosial dan lingkungan, CSR juga menjadi alat untuk membuka kunci pembangunan berkelanjutan.

“Kami ingin perusahaan bisa terus membantu kami menyekolahkan anak-anak, karena banyak anak-anak yang berasal dari orang tua tidak mampu. Supaya anak-anak bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi lagi,” tutur Emanuel Yaimahe, Ketua Marga Yaimahe yang bermukim di Distrik Ngguti, Kabupaten Merauke.

Banyak anak-anak warga Distrik Ngguti telah merasakan bantuan CSR bidang pendidikan yang digagas oleh perusahaan seperti PT Dongin Prabhawa.

Sejak keberadaannya di tahun 2009 lalu, Dongin Prabhawa telah membantu fasilitas asrama, transportasi, akomodasi dan keperluan lainnya bagi anak-anak desa sekitar yang ingin merantau untuk menimba ilmu di kota-kota besar, seperti Merauke atau Yogyakarta.

Sebagai gambaran, antara Distrik Ngguti dan Kabupaten Merauke membentang jarak sejauh 141 km. Perjalanan panjang ini dimulai dengan melintasi sungai Digoel kurang lebih selama tiga jam perjalanan, yang kemudian dilanjutkan dengan menempuh jalur trans Papua dengan menyewa mobil sejauh tujuh jam.

Mengingat jarak dan alat transportasi yang masih terbatas, perjalanan  ini tentu memakan banyak tenaga dan biaya.

Guru sebagai komponen penting pendidikan juga tak luput dari perhatian perusahaan. Puluhan guru honorer yang mengajar di desa-desa sekitar Distrik Ngguti diberikan insentif honor yang bisa mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami memberikan bantuan honor bagi guru-guru honorer yang tersebar di berbagai kampung seperti Kampung Tagaepe, Kampung Salamepe dan Kampung Banamepe yang mengajar di tingkat TK, SD sampai dengan SMP,” jelas Habibi, Humas PT Dongin Prabhawa yang ditemui di kantornya.

Bantuan honor merupakan salah satu cara untuk menyuntikkan semangat bagi para guru honorer untuk tetap mengajar dan mencerdaskan putra-putri Papua.

Pendidikan diperlukan agar anak-anak mampu mengembangkan potensi mereka yang sesuai dengan nilai dan kebudayaan yang berlaku di masyarakat.

Sementara itu, menurut Habibi, upaya pengembangan masyarakat tak berhenti pada bidang pendidikan, namun juga dilakukan di sektor kesehatan dengan menggelar edukasi sosial kepada anak-anak sekolah dengan menggandeng tenaga kesehatan dari klinik PT Dongin Prabhawa.

Pada program ini, tim dari Dongin Prabhawa turun langsung ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan anak-anak penerapan perilaku hidup bersih dan sehat serta mengingatkan bahaya merokok.

Perusahaan juga kerap memberikan bansos berupa pengobatan gratis ke kampung-kampung dan memberikan rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan di institusi pelayanan kesehatan lebih lanjut.

Selain memberikan rujukan, perusahaan juga menyediakan transportasi, akomodasi dan biaya pengobatan yang diperlukan jika ada obat yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

“Meski pendidikan dan kesehatan menjadi perhatian utama, kami juga memberikan bantuan lain seperti bantuan makanan (BAMA), pendirian rumah permanen yang layak bagi ketua marga serta edukasi masyarakat untuk pelestarian lingkungan,” lanjut Habibi.

Perlahan tapi pasti kehadiran perusahaan di tengah masyarakat kini telah dirasakan manfaatnya bagi kedua belah pihak.

“Ada perubahan yang kami rasakan setelah perusahaan hadir di sini. Kami masih tetap berburu, tapi di sisi lain kami jadi lebih mudah membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karenanya, kami tidak mendukung pemalangan yang dilakukan atau yang pernah dilakukan oleh marga-marga lain,” tandas Emanuel Yaimahe.

Hubungan yang selaras antara masyarakat dan dunia usaha tercipta dari komitmen bahwa dunia usaha juga berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangkan masyarakat dan lingkungan hidup.

Untuk mempertahankan hubungan selaras yang berkelanjutan, komitmen ini harus selalu dirawat agar timbul kepercayaan dan rasa saling menghargai antar sesama.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *