‘Masalah Sudah Selesai, Tolong Pulangkan Kami ke Kampung Kawe’

Laporan Utama325 views

Merauke, Suryapapua.com– Meskipun telah dibebaskan oleh Polres Merauke sejak beberapa hari lalu, namun Mama Paulina Imbumar Mbarawa bersama 14 masyarakat lain dari Kampung Kawe, Distrik Waan, hingga kini masih terkatung-katung nasib mereka.

Untuk sementara, mereka masih  menumpang tinggal di salah satu rumah sewa di belakang Pasar Baru, sambil menunggu kepastian dipulangkan ke kampung agar bisa melaksanakan aktivitas seperti biasa.

Eduard Mbarawa, mewakili Mama Paulina Imbumar Mbarawa kepada Surya Papua Sabtu (4/12) mengatakan, persoalan hingga mereka diamankan dan tinggal semalam di Polres Merauke telah selesai.

“Kami hanya meminta dipulangkan ke Kampung Kawe, Distrik Waan, Kabupaten Merauke, terutama dukungan bahan bakar minyak (BBM) serta bahan makanan. Untuk speedboat, sudah ada. Hanya tersisa minyak saja,” ungkap Eduard saat ditemui Surya Papua di rumah kontrakan Sabtu (4/12).

Dalam kesempatan itu, Eduard berceritera tentang perjalanan mereka dari kampung halaman yang sangat jauh di Kampung Kawe menuju kota dengan tujuan menyuaraka sejumlah hal penting, sehubungan pelayanan pemerintahan serta agama yang tak dilakukan sama sekali.

“Kami 16 orang  menggunakan satu speedboat dari Kampung Kawe 26 November 2021 pagi sekitar pukul 06.00 WIT. Perjalanan cukup jauh, hingga tiba di Kampung Kumbis sore hari, selanjutnya bermalam,” ujarnya.

Keesokan hari, melanjutkan perjalanan menuju ke kota. Hanya saja sampai di Kumbe, bahan bakar minyak (BBM) habis. Sehingga harus beristirahat sebentar disitu. Di saat istirahat, ia melakukan komunikasi dengan seseorang di kota (maaf identitas orang itu  tak bisa disebutkan redaksi)  yang nota bene sebagai penghubung  untuk bertemu seorang petinggi di lingkungan Polres Merauke.

Dari komunikasi itu, disepakati malamnya bertemu dengan petinggi kepolisian. “Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Payum, setelah pengisian BBM. Setelah sampai di Payung  pukul 17.00 WIT, harus menunggu hingga satu jam lamanya agar mobil datang menjemput,” katanya.

Pertemuan, jelasnya, sedianya  dilakukan di salah satu tempat dalam wilayah kota tanggal 27 November (malam itu).  Hanya saja dibatalkan, lantaran petinggi tersebut sedang ada kegiatan mendadak.

Lalu disampaikan penghubung kalau esoknya, 28 November  baru pertemuan. Tiba tiba ada pembatalan lagi.  Hingga Senin, tak ada informasi lanjutan, sementara 1 Desember sudah semakin dekat.

Oleh Karena tak ada kepastian bertemu petinggi Polres Merauke, atas kesepakatan bersama dan disetujui Mama Paulina, maka Urbanus Kiaf,  anggota Papuan Voice didekati sekaligus diminta mengambil suara.

“Oleh karena saya kenal baik Pak Urbanus Kiaf, sehingga menemuinya di rumah. Sekaligus meminta mengambil suara mama Paulina dan diresponi baik. Sehingga beliau datang mengambil  rekaman suara mama. Setelah itu pulang dan mengedit kembali,” katanya.

Selanjutnya, menurut dia, setelah editing gambar dan suara selesai dilakukan, Urbanus Kiaf datang menemui mereka dan memutar lagi. Lalu dinonton secara bersama-sama. “Setelah itu, disepakati dinaikkan ke yotube dan menjadi viral,” katanya.

“Memang tujuan Mama Paulina ke kota, semata-mata untuk jumpa pers dengan sejumlah wartawan menyampaikan berbagai persoalan yang terjadi dari tahun ke tahun dialami serta dirasakan masyarakat di Kampung Kawe,” tegas dia.

Sejumlah persoalan dimaksud, diantaranya pelayanan pemerintahan di segala bidang tak berjalan termasuk pendidikan, juga keagaamaan. Masyarakat disana dianaktirikan begitu saja.

“Jadi Mama Paulina ingin membuka mata kepada pemerintah agar memberikan perhatian  khusus kepada masyarakat di Kawe,” ungkapnya.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar