oleh

Kumbili, Makanan Tradisional Suku Kanum Yang Terus Dijaga dan Dibudidayakan

Merauke, Suryapapua.com – Salah satu potensi yang dimiliki masyarakat Suku Kanum di Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke adalah kumbili. Jenis ubi ini, adalah warisan leluhur yang terus dijaga dan dikembangkan serta dibudidayakan.

Secara rutin tiap tahun, masyarakat setempat menanam di kebun masing-masing. Mereka tak mengalami kesulitan mencari bibit, karena sudah dipersiapkan secara khusus saat saat datang musim tanam.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Komunitas Menoken Merauke, Adriana Papo ketika ditemui Surya Papua beberapa hari lalu. “Memang kumbili adalah makanan tradisional masyarakat setempat. Mereka terus menjaga dan membudidayakan, karena merupakan warisan para leluhur,” ujarnya.

Cadangan atau stok kumbili setiap tahun selalu ada. Apalagi setiap rumah menyiapkan gudang dari bahan seadanya seperti atap daun kelapa dan dinding pelepah bambu. Sekaligus menampung kumbili hasil panen mereka.

“Jadi di dalam gudang itu, terdapat tumpukan kumbili di tanah. Sesuai tradisi, kumbili tak boleh dialas dengan karung atau bahan lain. Biar ditumpuk begitu saja di tanah agar tak mengalami kerusakan,” ujar dia.

Lalu, jelas Papo, di gudang tersebut, ada cela dibuka sehingga sirkulasi udara keluar masuk seperti biasa. “Memang bangunan gudang sederhana. Tetapi didalamnya, terdapat tumpukan ubi yang sangat banyak,” katanya.

Dikatakan, masyarakat Suku Kanum di Yanggandur tak pernah mengalami kesulitan soal makanan. Karena cadangan kumbili selalu ada.

Lebih lanjut Papo menjelaskan, pihaknya pernah melakukan ujicoba pengolahan kumbili untuk dijadikan keripik. Hanya saja setelah diiris tipis dan digoreng, sekaligus dicicipi rasanya pahit.
“Saya bersama teman komunitas sedang melakukan konsultasi ke beberapa mitra di Yogyakarta untuk memberikan solusi.

Mungkin ada jalan diberikan, sehingga kumbili dapat diolah menjadi keripik, sekaligus dipasarkan agar masyarakat setempat memiliki sumber pendapatan,” katanya.

Reporter : Frans Kobun
Editor : Frans Kobun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *