Keterlibatan Seminaris dalam Pawai Budaya di Merauke, Salah Satu Bentuk Aksi Panggilan

Opini278 views

PAWAI  budaya dalam rangka HUT Kota Merauke (12 Februari) tahun ini dilaksanakan pada 9 Februari 2023. Hari ini bertepatan dengan perayaan Hari Pers Nasional. Pawai atau karnaval bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Merauke. Sejak tahun 2000-an  Johanes Gluba Gebze (Bupati Merauke 2 periode) mencanangkan pawai budaya tersebut. Hingga kini pawai budaya menjadi salah satu kegiatan prioritas bagi masyarakat Merauke.

Keberagaman etnis yang mendominasi wilayah Merauke menjadi salah satu alasan dilaksanakannnya pawai budaya. Peserta pawai adalah seluruh lapisan masyarakat Merauke. Mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa perguruan tinggi. Tak ketinggalan setiap etnis yang mendiami wilayah Papua Selatan, khususnya Kota Merauke dan sekitarnya.

Pawai budaya dalam rangka HUT ke-121 Kota Merauke ini diwarnai oleh kehadiran beberapa sekolah yang baru. Salah satu yang menarik perhatian adalah keterlibatan siswa Seminari Menengah Pastor Bonus, Keuskupan Agung Merauke. Ibarat pendatang baru mereka tampil apa adanya, wajar, dan biasa-biasa saja. Akan tetapi, dari sisi ‘panggilan’ keterlibatan siswa seminari merupakan hal yang luar biasa.

Seminari Bonus ikut pelaksanaan karnaval - Surya Papua/IST
Seminari Bonus ikut pelaksanaan karnaval – Surya Papua/IST

Seminari Pastor Bonus, yang selama ini “tersembunyi” dari keramaian masyarakat luas di Kabupaten Merauke, tampil pada saat yang tepat. Para siswa Seminari yang turut serta dalam kegiatan pawai budaya tersebut bukan saja ikut berpartisipasi agar tidak malu hati. Di balik keterlibatan itu, sesungguhnya mereka menghadirkan ‘sesuatu’ yang tidak pernah dilakukan oleh kelompok pawai yang lain, yaitu ‘aksi panggilan’ menjadi imam.

Apa itu Seminari?

 Sebelum berbicara tentang aksi panggilan, perlu diketahui apa sebenarnya seminari itu? Bagaimana pendidikan diterapkan di sana?

Istilah seminari berasal dari kata seminarium (Latin) bermakna ‘tempat penyemaian benih’. Jadi seminari adalah tempat penyemaian benih panggilan rohani yang ada dalam diri seseorang. Seminari adalah sebuah tempat (sekolah dan asrama terintegrasi) benih-benih panggilan imam dalam diri peserta didik disemaikan secara khusus, dalam jangka waktu tertentu, dengan tata cara hidup tertentu pula.

Dalam Gereja Katolik Roma, seminari adalah lembaga pendidikan yang secara khusus mempersiapkan seorang calon imam. Seseorang yang menempuh pendidikan di seminari disebut ‘seminaris’.

Dalam tradisi Gereja Katolik Roma, seminari menyelenggarakan pendidikan yang menekankan tiga aspek fundamental, yaitu pengetahuan (scientia), kekudusan atau keimanan (sanctitas), dan kesehatan (sanitas). Idealnya ketiga aspek tersebut berjalan secara utuh, komprehensif, dan seimbang. Tentu saja dilaksanakan dalam suasana persaudaraan (fraterna) dan dalam sebuah komunitas (societas) yang sehat.

Dengan berbekalkan pengetahuan, keimanan, kesehatan, serta persaudaraan yang sehat, seorang seminaris diharapkan kelak menjadi imam yang bermutu, yakni menjadi pemimpin yang tanpa pamrih melayani Gereja dan masyarakat. Diharapkan mereka selalu siap sedia, baik suka maupun tidak suka – sebagaimana dilakukan oleh Yesus, Sang Guru mereka, karena untuk itulah mereka dipanggil.

Pendidikan di Seminari memiliki jenjang seminari menengah (SMP dan SMA) dan seminari tinggi (setara dengan perguruan tinggi).

Seminari menengah menerapkan kurikulum nasional dan kurikulum khusus seminari. Seperti halnya siswa lainnya, para seminaris belajar Matematika, Bahasa Inggris, IPA, Bahasa Indonesia, Pancasila dan Kewarganegaraan, Sejarah, serta mata pelajaran umum lainnya.

Untuk menerapkan kurikulum khusus, seminaris belajar mata pelajaran, seperti Bahasa Latin, Kitab Suci, Liturgi, dan Sejarah Gereja. Para seminaris juga memperdalam bidang kesenian, seperti musik (seni suara dan alat musik), seni drama, dan seni lukis. Dalam rangka mencapai kesehatan yang baik, seminaris memanfaatkan kesempatan dan fasilitas untuk mengembangkan bakat olahraga.

Pendidikan seminari menengah lazim ditempuh dalam waktu empat tahun. Mereka yang diterima dari SMP harus mengikuti Kelas Persiapan Bawah (KPB) selama satu tahun. Selanjutnya naik ke tingkat SMA jika memenuhi syarat. Di kelas III SMA (Kelas 12 di sekolah lain) seminaris juga mengikuti ujian akhir yang diselenggarakan oleh negara maupun seminari.

Jika lulus dan memenuhi syarat khusus, seorang seminaris dapat melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi sebagai persiapan untuk menjadi imam. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan ada yang mengundurkan diri dari seminari tinggi. Hal ini berkaitan dengan perkembangan panggilan radikal seseorang. Dan diharapkan tidak menjadi aib di tengah masyarakat dan keluarga.

Dalam proses pendidikan di Seminari Tinggi, para calon imam lebih berfokus pada pentingnya hidup rohani/doa (spiritualitas), Kitab Suci, Liturgi, dan Sejarah Gereja; ditambah Psikologi.  Dalam hal ini para seminaris dibantu dengan mempelajari Filsafat dan Teologi. Lamanya pendidikan di Seminari Tinggi sekitar 6 tahun ditambah 1 tahun praktik pastoral.

Keuskupan Agung Merauke memiliki jenjang pendidikan Tahun Orientasi Rohani (TOR), yang sudah berjalan sekitar dua tahun ini. Di tempat ini, para seminaris dipersiapkan secara khusus dalam kerohanian dan kepribadian. Jika memenuhi syarat, mereka diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikan ke Seminari Tinggi, yakni di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Fajar Timur Jayapura.

Kenyataan memperlihatkan bahwa dari lembaga pendidikan seminari muncul orang-orang yang berbakat dan terampil dalam bidang kesenian dan olahraga. Selain itu, seminaris yang gagal melanjutkan pendidikan di seminari, biasanya meraih peringkat akademik di sekolah-sekolah lain. Lebih dari itu, seminari sungguh-sungguh menerapkan sistem pendidikan berpola asrama, dengan menerapkan disiplin yang ketat, namun tetap manusiawi.

Gereja Katolik di Indonesia kini memiliki 37 Seminari Menengah, yang tersebar dalam lima regio. Kelima regio itu meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara (NTT dan Bali), dan MAMPU (Maluku, Ambon, Makassar, Papua).

Di Regio MAMPU terdapat 11 Seminari Menengah, yang tersebar di Maluku, Ambon, Makassar, dan Papua. Kesebelas seminari itu ialah (1) Seminari St. Petrus Claver Makassar; (2) Seminari Agustinianum Manado; (3) Seminari Xaverianum Ambon; (4) Seminari St. Fransiskus Xaverius Manado; (5) Seminari St. Yohanes Maria Vianey Saumlaki; (6) Seminari St. Yudas Tadeus Langgur; (7) Seminari St. Yoseph Tobelo Maluku Utara; (8) Seminari St. Petrus Dobo; (9) Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura; (10) Seminari St. Petrus Van Diepen Sorong; dan (11) Seminari Pastor Bonus Merauke.

Aksi Panggilan

Kehidupan di lembaga pendidikan Seminari pada umumnya terpisah dari “kebisingan” masyarakat dan keluarga. Tentu saja mereka secara serius memusatkan perhatian pada pendidikan akademik serta pengembangan karakter. Dengan cara demikian, mereka pada saatnya akan menjadi pribadi yang berkualitas dalam pengetahuan, iman, moral, dan kehidupan sosial.

Meskipun demikian, mereka hendaknya tidak mengabaikan kehidupan secara keluar. Mereka harus turun ke bawah (turba) agar dapat mengenal kehidupan umat dan masyarakat dari dekat. Turba tidak berarti harus melaksanakan kegiatan parokial yang besar-besar, seperti berkhobah atau berkatekese. Tetapi, hadir dan melihat! Hadir dalam kebisuan, namun bermakna.

Melalui kehadiran di tengah umat dan masyarakat, banyak orang menjadi tahu keberadaan Seminari serta tujuan pendidikannya. Misalnya, keterlibatan Seminari Menengah Pastor Bonus Merauke dalam rangka HUT ke-121 Kota Merauke, yang berlangsung pada 9 Februari 2023. Di antara para peserta pawai budaya itu tampak pula barisan Seminaris. Inilah hal yang mungkin pertama kali terjadi dalam sejarah pawai budaya atau karnaval di Kota Merauke selama ini.

Keterlibatan aktif para seminaris tersebut merupakan peluang emas untuk memperkenalkan keberadaan mereka. Kehadiran tanpa banyak bicara itu, ternyata berbicara banyak tentang siapa diri mereka. Dengan kata lain, keterlibatan Seminaris Pastor Bonus menjadi ajang ‘aksi panggilan’. Siapa tahu, dengan cara tersebut, anak-anak sekolah (khususnya SMP) perlahan-lahan merasa tertarik, dan pada saatnya memilih jalan ke Seminari.

Selain keterlibatan dalam pawai budaya, Seminaris juga dapat mengikuti kegiatan lain di tengah umat dan/atau masyarakat. Lebih dari itu, mereka harus bisa membuat program kecil-kecilan untuk turun ke tengah umat. Misalnya, melalui kegiaan olahraga, kesenian (musik atau drama), dan lain-lain.

Pengalaman di tempat lain menunjukkan bahwa banyak anak tertarik ke Seminari karena penampilan seminaris yang luar biasa dalam bidang olahraga dan musik. Dahulu, orang menyaksikan siswa Seminari jago sepak bola, pandai main musik (guitar, organ, atau biola). Seorang seminaris senantiasa memperlihatkan kebaikan, kesopanan; tak segan-segan membela kebenaran dan keadilan.

Nilai-nilai inilah yang pada zaman now tidak menjadi milik kebanyakan orang, terutama anak-anak dan kaum muda. Oleh karena itu, jika seminaris dapat memperlihatkan dan menghidupi nilai-nilai itu, bukan tidak mungkin banyak orang perlahan-lahan merasa tertarik. Asal semuanya ini dilakukan secara kontinyu dan konsisten.

Jika keterlibatan tanpa banyak bicara itu dilakukan secara kontinyu dan konsisten oleh seminaris, maka Gereja Katolik tidak perlu bekerja ekstra untuk melakukan ‘aksi panggilan’ dalam rangka menjadi imam. Aksi panggilan yang biasanya dirayakan dalam Minggu Panggilan kiranya merupakan puncak dari aksi-aksi nyata yang “membisu”. Dan salah satu aksi panggilan “membisu” itu adalah keterlibatan Seminaris Pastor Bonus Merauke dalam pawai budaya HUT ke-121 Kota Merauke. Ke depan, agar para seminaris yang berada di jenjang pendidikan Tahun Orientasi Rohani (TOR) Merauke pun turut terlibat dalam pawai budaya serupa. Hal ini juga merupakan sebuah bentuk ‘aksi panggilan’ menjadi imam.

Harapan

 Gereja Katolik selalu mengalami kekurangan tenaga imam dalam pelayanan pastoral di Paroki, terutama di wilayah Papua. Aksi panggilan menjadi imam merupakan salah satu langkah yang diambil dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut.

Sebagai orang Katolik, apakah umat sudah berdoa bagi panggilan dan bagi para calon imam? Jika belum, berusahalah berdoa untuk panggilan imam. Panggilan adalah rahmat Tuhan. Hanya melalui doa yang tak kunjung putus, panggilan menjadi subur.

Jika sudah berdoa, umat sebaiknya memberikan kontribusi dengan cara masing-masing demi pengembangan pendidikan para calon imam di seminari. Misalnya, dengan cara menjadi donator tetap maupun tidak tetap.

Lebih dari itu, keluarga-keluarga Katolik diharapkan agar merelakan putra mereka, yang merasa terpanggil untuk menjadi imam. Hal ini dapat disosialisasikan melalui rekoleksi keluarga, tanpa menunggu Minggu Panggilan.

Penulis: Agustinus Gereda

Alumnus STFK Ledalero, Flores, NTT (1986) dan UNHAS Makassar (2010). Kini dosen tetap di Universitas Musamus Merauke, dan membantu di STK St. Yakobus Merauke.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *