oleh

Enjoy Dengan Aktivitas Sampingan

TAMPIL sederhana. Selalu merendah kepada siapapun. Entah itu orang baru atau yang sudah lama dikenalinya. Sosok (pribadi)  satu dari sekian banyak perempuan Marind ini, terus dibawa  dalam kehidupannya sampai sekarang.  Semua itu tak terlepas dari didikan kedua orangtuanya.

Meski berpenampilan sederhana, namun bicara kemampuan (intekektual), sabar dulu. Ketika diajak diskusi materi apa  saja, apalagi tentang kehidupan  rakyat  lokal di kampung, sangatlah ia pahami dan ketahui. Sehingga tak mengherankan ketika ‘silang’ pendapat akan  terjadi kala berlangsung diskusi.

Dia adalah Adriana Papo Gebze.  Gadis lajang yang saat ini sedang mencari ‘tulang rusuk’ (pendamping) hidupnya ketika ditemui Surya Papua beberapa hari lalu mengaku, meskipun berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN) di salah satu instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Merauke, namun ada juga kegiatan sampingan dijalani.

Salah satunya adalah membaur bersama sejumlah rekan lain dalam Komunitas Menoken Kabupaten Merauke. “Memang komunitas ini lebih fokus untuk melakukan pendampingan kepada orang asli Papua (OAP) di kampung-kampung,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Lebih lanjut Adri, panggilan akrabnya, meskipun ada sejumlah kegiatan di kampung yang harus dijalankan sesuai misi komunitas, namun tak bertabrakan dengan aktivitas sebagai seorang ASN.

“Tentunya saya sudah mengatur waktu baik. Sehingga tak bertabrakan. Tetapi jelasnya saya enjoy dan senang ketika sudah duduk membaur  bersama masyarakat di kampung sekaligus berdiskusi,” ujar jebolan sarjana Agro Teknologi  Universitas Negeri Musamus (Unmus)  2014 ini.

Lebih lanjut gadis kelahiran  21 Pebruari 1990 yang suka travelling, menyanyi dan makan itu mengaku, keterpanggilannya  bersama  rakyat di kampung, semata-mata ingin agar berbagai potensi yang dimiliki, dapat diolah sekaligus dipasarkan.

“Saya mencontohkan saja di Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Disana masyarakat memiliki potensi ubi kumbili dan pembuatan sekaligus penyulingan minyak kayu putih. Hanya saja, masih sulit menembus pasar,” kata Adri, anak dari orangtua Ferilius A Gebze dan Frederika Y ini.

Dengan pendampingan melekat dilakukannya bersama beberapa teman lain, menjadi motivasi bagi masyarakat setempat. “Ada sejumlah  program sedang dan akan kami laksanakan baik di Kampung Yanggandur maupun di Kampung Poo, Distrik Jagebob,” katanya.

Reporter : Frans Kobun
Editor      : Frans Kobun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru