oleh

Cerita Pastor Fransiskus Xaverius Tola Bolilera, Kabur Dari Seminari Dengan Panjat Pagar

Merauke, Suryapapua.com– Gelak tawa  ratusan umat  dibawah tenda, tepatnya di kediaman Pastor Fransiskus Xaverius Tola Bolilera, saat syukuran dan misa perdana bersama keluarga besar Lamaholot, setelah ditahbiskan bersama tiga imam lainnya oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC  5 Maret 2021 lalu.

Malam itu, Pastor Fery, sapaan akrabnya, didaulat khusus memberikan sepata-dua kata, sekaligus  berceritera perjalanan panggilannya, termasuk kisahnya  sempat kabur dari Seminari Pastor Bonus Merauke.

“Hari ini adalah kebahagiaan saya. Sehingga ratusan umat yang hadir dibawah tenda, juga turut berbahagia. Menjadi imam, bukan karena kekuatan saya sendiri. Tetapi karena umat hingga saya kuat dan bertahan dalam setiap godaan maupun tantangan,” ungkap Pastor Fery-membuka sambutannya Selasa (8/2) malam.

Oleh karena dukungan serta doa  umat maupun keluarga  yang  begitu kuat, akhirnya ditahbiskan Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC.

Pastor Fery, darah asli Kedang, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT)  itu berceritera perjalanan panggilan hidupnya yang mulai tumbuh atau muncul sejak kecil.

Saudari kandung Pastor Fransiskus Xaverius Bolilera sedang diselendangkan- Surya Papua/Frans Kobun
Saudari kandung Pastor Fransiskus Xaverius Bolilera sedang diselendangkan- Surya Papua/Frans Kobun

“Memang saat itu saya paling suka mendengar ketika seorang imam berkhotbah. Imam itu  ada disini. Lalu  ketika melihat imam mengenakan kasula, stola, jubah dan lain-lain, saya mulai jatuh cinta ingin menjadi seorang imam,” ungkapnya.

Imam  yang ada atau hadir saat ini yakni Hendrikus Kariwob, MSC. Kini menjadi Vikjen Keuskupan Agung Merauke.

Selain itu, jelas Pastor Fery, ketertarikan muncul menjadi imam  kala menjadi misdinar. Dengan pakaian yang dikenakan, ia bangga lantaran seperti sedang mengenakan jubah.

Hal lain mendorong dirinya  menjadi imam, karena kurangnya pelayanan diberikan pastor, frater, diakon serta para suster di SP-7 saat itu, akibat jumlah stasi terlalu banyak.  Dari keluhan umat,  tekadnya pun membara ingin menjadi seorang imam.

Selanjutnya, pada tahun 2008 silam, langkahnya pun pasti masuk di Seminari Pastor Bonus Merauke, setelah mendapat support orangtua, kakak-adik serta keluarga.

“Nah, saat di seminari dan dengan menghadapi realita di dalam, justru membuat saya tak percaya diri. Karena kehidupan di seminari tak  mungkin  membuat saya  menjadi imam. Bagaimana harus bangun tepat waktu, berdoa, misa dan sebagainya,” katanya polos.

Seminggu di Seminari Pastor Bonus Merauke, iapun memilih mundur perlahan. “Saya lari pulang ke rumah di SP-7 dengan memanjat pagar, tetapi terlebih dahulu membuang tas berisi pakaian.  Saat itu, tak ada satupun pastor mengetahui,” ungkapnya disambut tertawa umat.

Pastor Fransiskus Xaverius Bolilera sedang memberikan sepata dua kata – Surya Papua/Frans Kobun
Pastor Fransiskus Xaverius Bolilera sedang memberikan sepata dua kata – Surya Papua/Frans Kobun

Setelah tiba di rumah, bapa dan mama pun kaget. “Lalu saya sampaikan tak mau di seminari lagi. Biar tunggu tahun depan baru kuliah,” tuturnya.

Melihat dirinya pulang, orangtua pun terpukul. Bahkan mamanya tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, tetapi hanya buliran air mata yang tak henti-hentinya membasahi pipi.

“Bapak sudah berulang kali membujuk mama tak menangis. Tetapi tak mempan pula. Setelah semalam bermenung, paginya saya memutuskan kembali masuk ke seminari,” katanya.

Selama di seminari, sempat terbersit dalam pikiran kalau tiga bulan tak betah disini,  akan pulang ke rumah lagi. Namun puji Tuhan, dalam rentan waktu tersebut, ia merasa betah dan jarang sekali pulang. Sekaligus mengikuti semua proses selama di seminari.

Lebih lanjut dijelaskan, dalam menjalani panggilan hidup, tentu banyak tantangan dan suka duka dialami. Sehingga kadang  selama perjalanan panggilan,  suara hati muncul  untuk mengundurkan diri, lantaran  merasa tak layak dan tak pantas.

Sehari sebelum ditahbiskan, Pastor Fery bermenung tentang seluruh perjalanan hidup maupun pergumulannya untuk kedepan.

“Dengan demikian, saya memilih motto, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, adalah mungkin bagi Allah.” Itulah motto untuk merangkumkan segala perjalanan hidup  mulai dari seminari hingga  ditahbiskan,” katanya.

“Melalui motto ini, turut membantu dan menyertai. Dimana  saya menyerahkan segala kehidupan kepada Allah. Saya percaya apa yang tak mungkin bagi diri saya dan juga orang lain, tetapi  mungkin bagi Tuhan,” ujarnya.

. Tuhan, jelasnya,  akan menjadikan segala sesuatu itu mungkin, meskipun dalam situasi sulit. “Saya tetap percaya bahwa apa yang tak mungkin bagi saya dan orang lain, tetapi mungkin bagi Tuhan,” ungkapnya mengakhiri.

Penulis : Frans Kobun

Editor   : Frans Kobun

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *