oleh

Cerita Mama Beata Cinamakat, Penganyam Noken Dari Kampung Atsy Yang Mengikuti Festival Budaya Asmat

Asmat, Suryapapua.com– Tidaklah mudah menyeberang dari Kampung Atsy menuju ke Agatz, ibukota Kabupaten Asmat. Satu-satunya  akses  transportasi adalah melalui jalur air.

Meski jauh dari kampung-dengan memakan durasi perjalanan kurang lebih 12 jam untuk tiba di Agatz, namun tak menyurutkan semangat Mama Beata.  Karena ingin mengikuti festival budaya Asmat, sekaligus dapat memamerkan dan atau menjual hasil keringatnya berupa anyaman noken dan lain-lain.

“Perjalanan kami dari Atzi  tujuan Kota Agatz dengan fiber, kurang lebih 12 jam,” ungkap Mama Beata Cinamakat- membuka dialog dengan Surya Papua Selasa (11/10).

Tentunya ada harapan besar dari Mama Beata dan juga ratusan mama Papua lain, agar anyaman yang telah lama disiapkan, dapat dibeli. Sekaligus bisa mendapatkan sesen untuk membeli berbagai kebutuhan agar dapat dibawa pulang ke kampung halaman.

Mama tiga anak itupun menceriterakan bahan dasar yang digunakan untuk mengayam noken. “Biasanya kami masuk ke hutan mencari daun sagu. Setelah diambil, dibawa pulang ke kampung dan dikeringkan selama beberapa hari,” tuturnya.

Setelah dari itu, menurutnya, diurut dan proses menganyam noken  serta beberapa kerajinan tangan lain mulai dilakukan.

“Dalam satu malam, saya bisa menghasilkan dua noken khas Asmat. Prosesnya pun tak menggunakan peralatan canggih. Hanya  secara manual (tangan),” ujarnya.

Diapun mengaku jika noken yang dibawa dan dijual dalam festival ini tak dibeli, akan dibawa pulang dan disimpan. Jika ada hajatan lagi, dibawa kembali kesini.

Untuk harga noken yang dijual, mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 500.000 (paling besar).

Penulis : Yulianus Bwariat

Editor   : Frans Kobun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *